Senin, 1 Juni 2020

Harga Karet Anjlok, Petani Alih Profesi Jadi Kuli Bangunan


Selasa, 29 September 2015 | 11:06:53 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

JAMBI – Anjloknya harga karet membuat petani di Provinsi Jambi kian menjerit. Untuk menyambung hidup, mereka terpaksa alih profesi. Tidak sedikit yang memilih menjadi kuli bangunan demi mendapatkan sesuap nasi.

Ini seperti yang terjadi pada petani karet di Sebapo, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi. Mereka mengeluhkan harga jual getah karet yang terus menurun.

Bahkan penurunan harga ini sudah terjadi sejak setahun terakhir. Awalnya Rp 10 ribu, turun ke Rp 8 ribu, kemudian Rp 6 ribu, dan kini tinggal Rp 5.500 per kilogram.

“Harga jual getah karet ke pengepul sekarang ini Rp 5.500 per kilogram. Padahal setahun lalu masih Rp 10 ribu per kilogram. Setiap minggu harganya terus turun, saya tidak tahu penyebabnya,” keluh Poniman, salah seorang petani karet di Sebapo.

Dengan harga jual yang hanya Rp 5.500 per kilogram, lanjut Poniman, tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Apalagi harga kebutuhan pokok terus naik, tapi tidak diimbangi dengan harga getah karet.

Karena itu, dirinya bersama rekan-rekan seprofesi kini banting stir menjadi buruh bangunan. Hal ini terpaksa mereka lakukan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebab, kata dia, hasilnya kini lebih menjanjikan dibandingkan dengan menyadap karet.

“Satu hari kerja bangunan hasilnya sama dengan tiga hari petani menyadap karet,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Suliso, petani karet yang juga memilih alih profesi. Dikatakan Susilo, sejak lima bulan terakhir dirinya sudah jadi buruh bangunan. Karena saat ini hasil dari menyadap karet tidak bisa diandalkan.

“Kami harap pemerintah daerah segera mencarikan solusi agar nilai jual getah karet dipasaran bisa kembali stabil seperti dulu lagi,” katanya.


Penulis: Hendro
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments