Rabu, 25 November 2020

EL Nino Diprediksi Berlangsung Hingga Februari 2016, Ini Akibatnya


Sabtu, 03 Oktober 2015 | 13:46:43 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

JAKARTA – Peneliti Center for information and development studies (Cides) Rudi Wahyono, memprediksi musim el nino tahun ini yang diperkirakan akan berakhir November mendatang, bakal meleset hingga Februari 2016.  

“El Nino 2015 adalah super El Nino, bahkan saat ini sudah mencapai angka 3 derajat celcius. Kondisi ini kemungkinan berlangsung hingga Februari 2016,” ujar dia dalam forum grup diskusi ‘Bencana El Nino 2015 dan Ketahanan Pangan Indonesia’ di Gedung The Habibie Center, Jakarta, Jumat, (2/10).

Berdasarkan data yang dirilis Badan Meteorologi dan Geofosika (BMKG), gejala el nino tahun ini diperkirakan mulai reda November mendatang. Tapi data tersebut sedikit berbeda dengan yang rilis NASA, ESA, NOAA. Menurut Rudi, hasil pemetaan melalui satelit antariksa terbaru mereka, gejala alami tahunan itu akan berlangsung lebih lama hingga Februari mendatang.

“El nino menyebabkan curah hujan tinggi di Amerika Latin, belahan bumi lainnya terancam kekeringan,” ujarnya.

Dampaknya ujar dia, berimbas pada terganggunya masalah kesehatan bagi manusia termasuk hingga terganggunya proses pertanian.  “Polutan jika berinteraksi dengan asam sulfat di daun, maka akan sangat berbahaya untuk produksi pertanian, bias mengganggu kesehatan konsumen ketika mengkonsumsi hasil pertanian tersebut,” papar dia.

Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) DWI Andreas Santosa mengatakan, gejolak pangan yang sedang terjadi saat ini, disebabkan kesalahan data dan perkiraan produksi.

Guru besar pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengatakan berdasarkan data Juli lalu yang dikeluarkan Kementrian pertanian dan BPS, pemerintah memprediksi jumlah produksi pertanian tahun ini naik sebesar 6,64 persen menjadi 75,55 juta ton GKG (Gabah Kering Giling). Tahun lalu hanya 70,85 juta ton GKG.

Selain padi, produksi jagung dan kedelai juga meningkat masing-masing sebesar 8,72 persen dan 4,5 persen.

“Ini ada sebuah keheranan. Sebab, kenaikan produksi tiga komoditas ini secara bersamaaan tersebut tidak pernah terjadi belasan tahun terakhir, bahkan angka ramalan tersebut dinyatakan sudah memperhitungkan ancaman kekeringan akibat El Nino,” papar dia.

Ketua BPP Kajian Stategis dan Advokasi Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Yeka Hendra Fatika mengatakan, ketidakakuratan data yang dimiliki pemerintah berdampak pada labilnya harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat.

Ia memprediksi pasokan daging sapi, kedelai, beras dan jagung kembali langka dan mahal di pasaran mulai Oktober ini dan trend nya terus meningkat hingga Januari 2016. “Masalah ketahanan pangan, solusinya harus perkuat stock , kalau tidak kita akan mengalami bencana pangan,” ujarnya.

Untuk itu Yeka meminta, pemerintah berfikir ulang untuk menghentikan rencana import sejumlah bahan pangan mulai tahun depan, sebab dengan kondisi itu maka harga sejumlah bahan pokok bakal terus naik hingga sulit dijangkau masyarakat.

“Kalau memang stock dalam negeri tidak mencukupi jangan alergi sama import. Jangan sampai kenaikan harga pangan yang tidak terkendali menjadi bola liar yang mengurangi kewibawaan pemerintah,” pinta dia.

Direktur Indef Enny Sri Hartati, mengakui sejak lama persoalan pertanian terletak ketidakakuratan data yang dimiliki pemerintah, saat ini masing-masing Kementerian memiliki data masing-masing tanpa memiliki acuan yang jelas. “Soal pertanian sebenernya sederhana, namun penyelesaian dari dulu hingga kini belum juga didapatkan,” kata dia.

Eni mengatakan pangkal utama penyelesaian pangan ditanah air, akibat minimnya peran mereka memperbaiki kesejahteraan petani. “Selama petani masih di dalam subjek bukan objek, kita tidak akan keluar dari persoalan,” ujarnya.


Penulis: JPNN
Editor: Ikbal Ferdiyal
Sumber: JPNN.COM

TAGS:


comments