Minggu, 25 Agustus 2019

Apa Saja Keluhan Konsumen Apartemen?


Rabu, 23 September 2015 | 11:51:30 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / dok.JPNN

KONSUMEN properti ternyata merupakan salah satu yang paling banyak mengeluhkan produk yang mereka beli. Menurut catatan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), konsumen properti merupakan satu dari tiga besar konsumen yang sering melayangkan aduan.

“Tiga besar konsumen yang paling banyak mengeluh adalah konsumen perbankan, perumahan, dan jasa telekomunikasi,” jelas pengurus YLKI, Sudaryatmo, dalam acara Diskusi Interaktif yang digelar sebagai rangkaian acara Musyawarah Nasional Persatuan Perhimpunan Penghuni Rumah Susun Indonesia (P3RSI), beberapa waktu lalu.

Menurutnya, sebanyak 12,6% aduan kepada YLKI datang dari konsumen perumahan—baik dari konsumen rumah tapak maupun rumah susun/apartemen.

“Tren pengaduan dari konsumen hunian vertikal makin tinggi. Mungkin karena posisi YLKI yang ada di Ibukota Jakarta—yang notabene memiliki pasokan apartemen terbanyak di Indonesia,” kata Sudaryatmo.

Aduan konsumen apartemen, imbuhnya, terbagi tiga: masa pra konstruksi, konstruksi, dan setelah di huni.

“Aduan saat masa pra konstruksi umumnya terkait gimmick dan iklan yang ditayangkan developer. Pada masa konstruksi, aduannya terkait pengerjaan pembangunan yang terlalu lama, bisa lima hingga 10 tahun. Padahal konsumen telah melakukan pembayaran (angsuran),” papar Sudaryatmo.

Kemudian, tuturnya, pada saat dihuni/penghunian, keluhan yang disampaikan konsumen apartemen terkait biaya service charge, pembentukan perhimpunan penghuni rumah susun, tarif listrik PLN, dan sertifikasi unit.

Dua Aduan Konsumen Apartemen
Terkait sertifikasi, Sudaryatmo memberi contoh kasus apartemen di Bekasi beberapa tahun lalu. Konsumen membeli apartemen dan telah melunasinya dan mendapat sertfikat. Akan tetapi Pemda (pemerintah daerah) belum memiliki Perda (peraturan daerah) mengenai pertelaan.

“Jadi, si developer kemudian meng-endorse Pemda untuk membuat Perda Pertelaan. Pertanyaannya adalah: tanpa Perda Pertelaan, bagaimana IMB (izin mendirikan bangunan) bisa keluar?” urainya.

Untuk itu, Sudaryatmo menganjurkan kepada konsumen apartemen untuk memastikan apakah Pemda setempat telah memiliki Perda Pertelaan. Jika tidak, maka tak ada aturan Sarusun (satuan rumah susun).

Satu hal lain yang sering diadukan konsumen apartemen adalah tarif listrik yang tinggi. Soal tarif listrik, menurut Sudaryatmo, tak diatur dalam Undang-undang Rumah Susun atau Undang-undang Kelistrikan.

Minimnya infrastruktur hukum di sektor kelistrikan yang menjadi penyebab eksploitasi terhadap konsumen yang sering menjadi korban extensive pricing atau extensive margin.

“Monopoli listrik yang terjadi di Indonesia membuat karakter eksploitasi sangat kental. Padahal, ekploitasi semacam ini telah dilarang di kawasan Uni Eropa,” katanya.

Jika tarif listrik naik, kata Sudaryatmo, konsumen berhak mengetahui dan mendapat penjelasan mengapa tarif naik dan komponen apa saja yang naik.

“Jadi, pengelola tak boleh mengambil untung dari cara-cara yang tak benar,” tukasnya.

Tips Nyaman Beli Apartemen
Agar tak merasa tertipu saat membeli apartemen, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Pengembang
Membangun apartemen memerlukan prosedur dan perizinan yang kompleks. Oleh karena itu, pengembang harus mempunyai kelengkapan dan reputasi yang memadai dalam pembangunannya.

Dengan mengetahui lebih jauh keberadaan dan reputasi pengembang, pembeli akan terhindar dari penipuan, cedera janji, dan ketidakberesan lainnya. Bahkan kini reputasi pelaksana pembangunan (kontraktor maupun konsultan perencana) pun perlu diketahui, karena menyangkut kualitas dan estetika bangunan.

2. Spesifikasi Unit
Spesifikasi unit mencakup partisi ruangan dan perlengkapan yang menempel dengan bangunannya. Apartemen mewah biasanya sudah lengkap (fully furnished), dengan toilet, shower, bath tub, kitchen set, serta instalasi lainnya seperti telepon, internet, air panas hingga pendingin ruangan (AC) pada tiap unitnya sehingga tidak butuh penambahan renovasi lagi.

Namun pada apartemen semi-furnished, si pemilik perlu menambahkan atau melakukan renovasi. Tanyakan kepada pengembang, apakah diperkenankan untuk melakukan perubahan atas unit. Apabila boleh, buatlah perjanjian tertulis agar terhindar dari ingkar janji.

3. Manajemen Properti
Selain pengembang, faktor pengelola apartemen setelah dihuni nanti tidak boleh diabaikan oleh pembeli maupun penghuni. Pengelolaan manajemen properti yang profesional tentu akan membuat segala keluhan dan permasalahan dapat diatasi dengan baik. Sebaliknya, dengan manajemen properti yang buruk, tinggal di apartemen pasti akan sangat merepotkan.


Penulis: Anto Erawan
Editor: Ikbal Ferdiyal
Sumber: rumah.com

TAGS:


comments