Selasa, 24 November 2020

Kenduri Sko dan Kearifan Lokal


Senin, 07 September 2015 | 16:08:44 WIB


/

KENDURI Sko adalah salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Bumi Sakti Alam Kerinci, khususnya bagi masyarakat empat Desa Belui yang baru saja menggelar hajat besar tersebut. Minggu 6 September 2015 adalah waktu yang dipilih oleh masyarakat empat Desa Belui untuk menetapkan hari yang baik dan waktu yang baik untuk menggelar hajat besar tersebut, sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT kepada umatnya.

Kenduri sko itu sendiri adalah suatu acara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Kerinci dalam melestarikan budaya yang sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka. Kenduri sko atau Kenduri Pusaka merupakan rangkaian adat yang saling berhubungan satu sama lain, sebab di saat Kenduri Sko dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali. Dalam acara sakral ini juga dilakukan pengukuhan gelar adat kepada ninik mamak, tuo teganai, dan tokoh-tokoh masyarkat, serta adat.

Pada kegiatan Kenduri Sko ini sendiri juga dilakukan ritual pembersihan alat pusaka/pusako yang merupakan peninggalan nenek moyang yang tersimpan, dan ritual ini dilakukan oleh kepala atau orang adat dan disaksikan oleh masyarakat luas. Dan masih banyak lagi ritual Kenduri Sko yang dilakukan oleh masyarakat Desa Belui ini, namun jauh terpenting adalah bagiamana kita memaknai acara kearifan lokal sebagai momentum untuk mempertahankannya dari kondisi zaman yang terus mengkikis nilai-nilai kearifan lokal dan adat istiadat.

Berangkat dari itu rangkaian pelaksanaan Kenduri Sko yang panjang ini. Melalui tulisan opini ini saya mengajak semua pihak untuk tidak menjadikan acara yang sakral ini menjadi agenda 10 tahunan semata, tetapi bagaimana kita mewariskan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi penerus bangsa. Sebab kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat Bumi Sakti Alam Kerinci, tidak hanya kekayaan alamnya tetapi adat istiadat yang luar biasa, yang sudah sepatutnya dijaga dan dipelihara.

Sebagai generasi muda sudah sepantasnya pula kita belajar dari sejarah dan adat istiadat yang dipunya ini, sebab Kerinci yang dikelilingi oleh bukit barisan memiliki kultur yang sangat beradat sekali dan tetap dipegang teguh oleh penerusnya yang merupakan warisan para leluhurnya.

Kembali kepada pelaksanaan Kenduri Sko di Desa Belui, pelaksanaan Kenduri Sko yang dihadiri oleh Bupati Kerinci Adi Rozal beserta undangan lainnya, jangan dijadikan seremonial belaka, tetapi jauh ke depan, pemerintah harus menjadikan Kenduri Sko ini sebagai momentum untuk menggairah kondisi sosial budaya, sosial ekonomi dan sosial religius masyarakat, sama halnya dengan Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci sehingga bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Makna dari Kenduri Sko selain bentuk syukur dan upaya melestarikan nilai-nilai budaya, yang terpenting adalah pesan sosial dan pesan agama yang perlu masyarakat kita ketahui dan tidak sebatas rangkaian kegiatan demi kegiatan saja, tapi bagaimana legalitas dan prosedur Kenduri Sko bisa dibukukan dan dikaryakan atau didokumentasikan, agar orang bisa mempelajarinya, tidak hanya diketahui oleh para ninik mamak akan tetapi generasi muda penerus warisan leluhur ini bisa mengetahuinya.

Sebab begitu mahalnya yang harus kita korbankan untuk melestarikan dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal, bayangkan setiap desa di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh selalu merayakan pelaksanaan Kenduri Sko ini, dengan agenda yang sama dan ritual yang sama. Melihat ini, maka perlu adanya komitmen bersama, untuk menjaga kearifan lokal yang ada, tidak hanya Kenduri Sko semata tetapi tarian-tarian, lagu, permainan, dan aturan adat dimana di dalam adat mengatakan adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.

Berpijak dengan kondisi masyarakat kita saat ini, adat dan agama harus bisa dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sebab akhir ini adat dan agama seolah-olah jauh dari generasi muda. Mereka seakan-akan tadi lagi diajarkan dan disungguhkan dengan nilai-nilai tersebut, yang pada akhirnya generasi muda kita terjebak dengan hal yang negatif, narkoba, protitusi, kenakalan remaja, tawuran, dan perlakuan yang menyimpang dari adat dan agama.

Keprihatian ini jangan sebagai bentuk rasa prihatin saja, tetapi action dibutuhkan, agar para generasi muda tidak mudah diprovokasi dan diasut untuk ikut dalam kegiatan yang negatif, maka pemahaman dan pemberian agama yang benar dan pelajaran budi pekerti sebagai upaya untuk menanamkan kearifan lokal perlu digalakkan. Sebagai penerus bangsa harus bangga menjadi masyarakat Kerinci, walaupun kita hidup di negeri orang, tanah kelahiran jangan dilupakan. Untuk itu nilai-nilai kearifan lokal harus menjadi acuan dalam melangkah, zaman boleh berubah tetapi adat istiadat dan budaya tetap terjaga serta bisa memberikan solusi terhadap persoalan sosial yang terjadi akhir-akhir.

Maka pelaksanaan Kenduri Sko diharapkan mampu melahirkan kreatifitas dan semangat baru, untuk membawa perubahan dan nilai kearifan lokal demi menjaga tali silaturahmi dan kebersamaan yang sudah dibangun ratusan tahun yang lalu, sehingga nilai-nilai yang sudah diajarkan bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. dan kepada mereka orang tua kita yang diangkat menjadi Depati, Pemangku, Ninik Mamak, dan tuo teganai dapat menjalankan amanah dan tugas yang mulia dengan sebaik-baiknya, karena persoalan yang dihadapi oleh anak jantan dan betino bisa diselesaikan dengan arif, serta memberikan pelajaran yang baik kepada generasi penerus bangsa.

Akhir kata selamat dan sukses atas terselenggaranya pelaksanaan Kenduri Sko masyarakat empat Desa Belui, melalui momentum ini kita jaga nilai-nilai kearifan lokal yang sudah diwariskan kepada kita sebagai generasi penerus, sehingga dengan Kenduri Sko ini bisa memperkuat kerapatan atau adat istiadat di Bumi Sakti Alam Kerinci, khususnya di Desa Belui yang sudah menyelenggarakan pesta rakyat demi baik dan berjalan lancar. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.




Penulis: Deddy Himawan/*Penulis adalah pemerhati sosial
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments