Minggu, 22 September 2019

Wow! Indonesia Diserbu Pengembang Asing


Kamis, 29 Oktober 2015 | 14:33:16 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / dok/Jawa Pos

DALAM setahun terakhir, terlihat pengembang asing mulai membangun proyek properti di seputar Jakarta. Sebut saja AEON Mall yang membangun di BSD City, Jakarta Garden City, dan Sentul City; Tokyu Land dengan apartemen Branz di BSD City dan TB Simatupang; Hong Kong Land dengan proyek Nava Park-nya; serta Toyota Housing yang membangun rumah tahan gempa di Sakura Regency 3.

Andi Loe, Senior Associate Director Investment Services Cushman & Wakefield Indonesia mengungkapkan, sudah ada beberapa investor asing yang masuk ke Indonesia dan telah melakukan transaksi, di antaranya dari China, Jepang, dan Swiss.

“Konsorsium China-Hong Kong sudah melakukan transaksi dan akan segera mengembangkan proyek di Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan area CBD,” kata Andi yang masih enggan menyebut nama konsorsium tersebut. “Sementara pengembang dari Jepang yang telah masuk ada Tokyuland, Misubishi, Toyota, dan lain-lain.”

Pengembang dari Swiss, imbuhnya, juga masuk ke Indonesia dan akan mengembangkan perumahan tapak di Serpong. “Kebanyakan perusahaan Eropa mau masuk ke Indonesia sebagai passive financial investor, tak mengelola apa-apa dan hanya ingin return saja. Tetapi perusahaan Swiss ini masuk sebagai developer,” tutur Andi.

Dari Singapura, pengembang yang telah aktif adalah Keppel Land yang mengembangkan apartemen West Vista dan perkantoran International Financial Center, serta Ascendas yang bekerjasama dengan Metropolitan Land mengembangkan Metland Cyber City di bilangan Puri.

“Selain itu, dari Singapura ada pula GIC dan Mapletree yang masih melakukan penjajakan dan melihat potensi properti Tanah Air,” imbuhnya. “Sedangkan pengembang dari Timur Tengah masih menunggu, karena negara mereka juga belum stabil.”

Umumnya, jelas Andi, para investor dan developer asing yang masuk, lebih fokus mengembangkan hunian (tapak dan vertikal), hotel, dan perkantoran.

“Mereka belum masuk ke sektor ritel, karena di Jakarta masih ada moratorium mal, sehingga mereka hanya bisa masuk di Bodetabek. Padahal, sebagian investor asing kurang pas dengan kawasan pinggir Jakarta, karena pangsa yang mereka bidik lebih tinggi,” paparnya.

Daya Tarik Pasar Indonesia
Menurut Andi, pasar properti Indonesia diincar investor asing karena kondisi dalam negeri yang stabil, tidak seperti negara Timur Tengah yang bergejolak, ekonomi pun tumbuh. Selain itu, Indonesia juga dinilai sebagai negara yang paling demokratis.

“Middle income group yang tebal di Indonesia juga membuat potensi ke depan lebih panjang, tidak hanya satu dua tahun, tetapi bisa sepuluh hingga 20 tahun,” ujarnya.

Sayangnya, setahun belakangan stabilitas antara pemerintah dengan legislatif kurang sinkron. Hal ini yang membuat kinerja para menteri terlihat kurang sinkron

Kasus terakhir, pemerintah Jepang harus kecewa karena gagal masuk untuk membangun kereta cepat di indonesia. Pasalnya, pemerintah memilih BUMN China yang bekerjasama dengan BUMN Indonesia.

Secara sentimen ada sedikit pengaruh, kata Andi, tetapi pemerintah Jepang juga harus menerima kenyataan, bahwa pemerintah kita tidak mau kerjasama G2G, karena menggunakan dana APBN, sehingga kerjasamanya harus B2B, sementara Jepang tak punya BUMN, semua swasta.

“Di samping itu, sebagian investor asing yang ingin masuk masih memilih menunggu kepastian regulasi pajak properti: luxury tax dan super luxury tax, serta kepemilikan asing yang juga belum selesai,” tambahnya.

Mengikuti Infrastruktur
Berbicara tentang lokasi, Andi menguraikan, lokasi proyek yang ideal adalah mengikuti perkembangan infrastruktur. Dia memberi contoh, dengan dibukanya tol Cipali (Cikampek – Palimanan), sekarang market terbuka sampai Cirebon.

“Saat ini, kami masih merekomendasi pengembangan proyek sampai Subang. Kami tak mau menyebutnya sebagai sunrise property, tetapi memang kawasan itulah yang akan berkembang, karena harga properti di sana belum tinggi,” imbuh Andi.

Pengembang lokal seperti Surya Cipta, ujarnya, sudah mengakuisisi lahan hingga 500 hektar di kawasan tersebut, karena pengembang ini memang memiliki konsesi tol Cipali.

“Akan tetapi di belakangnya, pasti dia (Surya Cipta) juga sudah bekerjasama dengan investor asing, hanya belum mau di-disclose,” pungkas Andi.


Penulis: Anto Erawan
Editor: Ikbal Ferdiyal
Sumber: rumah.com

TAGS:


comments