Kamis, 22 Oktober 2020

Remaja Muslim yang Dituduh Merakit Bom Itu Tuntut Sekolah dan Pemda Rp 205 Miliar


Kamis, 26 November 2015 | 11:42:21 WIB


Ahmed Mohamed.
Ahmed Mohamed. / Int

CHICAGO - Ahmed Mohamed, 14, remaja muslim yang dituduh perakit jam yang dikira bom menuntut ganti rugi sebesar 15 juta dolar AS atau setara Rp 205,2 miliar dan permohonan maaf dari perwakilan daerah Irving, Texas, Dallas.

Keluarga Mohamed mengancam akan melayangkan tuntutan jika gugatan tersebut tidak dipenuhi pihak tergugat.

Mohamed menjadi sorotan dunia pada September setelah kakaknya mengunggah gambar remaja itu yang sedang diborgol dengan memakai baju berlogokan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) di sekolahnya MAcArthur High School.

Mohamed ditahan lantaran membawa jam digital rakitan ke ruang kelas pada 14 September lalu. Sang guru mengira jam tersebut adalah bom dan Mohamed dicokok polisi untuk diinterogasi.

Kini, keluarga Mohamed menuntut 10 juta dolar AS setara Rp 136,8 miliar dari Dallas dan U5 juta dolar AS setara Rp 68,4 miliar dari daerah sekolahnya di Irving. Jika tidak, mereka akan melayangkan surat tuntutan dalam kurun waktu 60 hari.

"Sangat dimengerti, Ayah Mohamed sangat marah dengan perlakuan terhadap anaknya dan maksud diskriminasi yang memotivasi perlakuan tersebut," demikian kutipan pernyataan resmi pengacara Mohamed.

Pemerintah daerah Irving menyatakan bahwa pengacara mereka sedang mempelajari surat tersebut dan akan meresponsnya secepatnya. Namun, pemerintah Kota Dallas belum dapat dihubungi Reuters untuk dimintai keterangan.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama sebelumnya turut serta dalam memberikan dukungan kepada Ahmed karena keterampilan yang dimilikinya. Kemudian mengundang remaja tersebut untuk bawa jam itu ke White House.

Banyak undangan yang diterimanya dari Facebook, Google, United Nations (UN) dan Ahmed kemudian mengunggah fotonya ketika mengunjungi Makkah, New York, Sudan dan Qatar.

Pengacara remaja itu dalam satu surat pemberitahuan ke kota dan sekolah tersebut mengatakan Ahmed mengalami trauma karena penahanannya.


Penulis: AFP/ray/jpnn
Editor: Ikbal Ferdiyal
Sumber: JPNN.COM

TAGS:


comments