Selasa, 4 Agustus 2020

Memudarkan Kesantunan Berpolitik???


Sabtu, 19 September 2015 | 11:52:13 WIB


Donny Yusra
Donny Yusra / Istimewa

PENYELENGGARAAN Pemilihan Gubernur, Bupati/ Walikota (dalam tulisan ini penulis menggunakan istilah Pemilihan GBW) serentak di Provinsi Jambi tahun 2015 ini telah dimulai. Peluit start telah ditiup, dan sampai saat ini para pasangan calon sudah mulai bertarung mengambil hati rakyat dengan segala visi, misi, dan programnya. Sehingga tentunya dalam penyelenggaraan Pemilihan GBW tersebut tentunya bukan cuma “pertarungan” para kandidat, tapi juga “pertarungan” para pendukung.

PsyWar, Fanatisme, dan Media Sosial

Hari-hari dunia perpolitikan Jambi justru menghangat dari sisi perang urat saraf pendukung. “Perang” ini menghangat di dalam arena yang dikenal saat ini dengan istilah media sosial. Betapa tidak, media sosial adalah media paling memungkinkan antar pendukung bertemu dalam satu “gelanggang” untuk saat ini. Sehingga hari-hari media sosial khususnya di kalangan media sosial warga Jambi yang dihiasi oleh

psywar antar pendukung, baik itu pada akun pribadi pendukung ataupun pada grup-grup media sosial yang sengaja atau tidak dibuat untuk menghadapi moment Pemilihan GBW ini.

Psywar ini tidak jarang mengundang saling cibir, saling “caci”, yang tentunya menimbulkan permusuhan antar pendukung di media sosial. Hal ini tentunya memiliki alasan, yang mana tidak lain adalah fanatisme pendukung yang tak “terbendung”. Sir Winston Leonard Spencer Churchill, politikus Inggris hampir seabad lalu yang juga peraih nobel di bidang literature pernah berkata: "Seseorang fanatisme tidak akan bisa mengubah pola pikir dan tidak akan mengubah haluannya".

Dengan kata lain, pendukung fanatik adalah para pendukung yang memang telah mantap untuk menyetakan mendukung dan memilih salah satu pasangan calon dan berkomitmen tidak akan merubah arah dukungan.

Namun, yang patut dicatat adalah fanatisme bukanlah jaminan agar seseorang kehilangan kesantunan berpolitiknya, mengingat terkadang dalam politik bumbu-bumbu provokatif dari pihak yang berkepentingan tertentu yang masuk di tengah pergulatan politik itu sendiri. Namun yang jelas, adalah hal yang nyata dan tidak dapat terabaikan timbulnya psywar antar pendukung khususnya pada media sosial.

Kesantunan Berpolik=Budaya Bangsa

Sekalipun masih banyak perdebatan di sana-sini mengenai validitas bukti sejarah, namun setidaknya dapat diambil suatu garis besar bahwa Jambi dahulunya merupakan wilayah kerajaan Melayu dan kemudian menjadi bagian dari Sriwijaya, mengukuhkan eksistensi budaya dan etnik melayu di wilayah Provinsi Jambi sekalipun di Provinsi Jambi sendiri terdiri beragagam suku, ras, agama, maupun golongan.

Namun keberadaan 'Tanah Pilih Pusako Betuah' ini tentunya masih tercium aroma wangi budaya Melayu yang sangat kental dengan kesantunan dan tata karma khas melayu. Hal ini tentulah menjadi ajaran penting di samping ajaran agama yang tentunya pula tidak terlepas dari ajaran maha luar biasa yang disebut dengan “kesantunan” ini.

Seloko adat Jambi berujar: “Bejalan peliharo kaki, jangan sampai tepijak kanti, becakap peliharo lidah, jangan sampai kanti meludah, jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring”. Ya… begitulah kesantunan masyarakat Melayu Jambi, segala tindak tanduk mesti dijaga, jangan sampai timbul konflik, apalagi justru mengakibatkan perpecahan.

Hendaknya budaya ini mengakar dan hidup dalam kehidupan sehari-hari dan dapat diimplementasikan dalam penyelenggaraan Pemilihan GBW Provinsi Jambi tahun 2015 ini. Jika nilai-nilai ini dimasukkan dan diamalkan para insan di Provinsi Jambi ini dalam menyingkapi setiap persoalan tentunya konflik vertikal maupun horizontal tidak akan terjadi.

Kesantunan Berpolitik yang Memudar

Beberapa waktu lalu Jambi dihebohkan dengan selebaran gelap yang memojokkan salah satu (yang waktu itu masih bakal calon). Terlepas mengenai validitas informasi selebaran tersebut jika tujuannya adalah politis agaknya kesantunan politik kita kembali harus dipertanyakan.

Belum lagi perang opini dengan cara tidak wajar di media sosial semakin menampakkan bahwa sesungguhnya kesantunan berpolitik kita telah memudar. Lupakah kita bahwa pada dasarnya bukanlah kita sebenarnya????

Apalagi saling hujat di media sosial tersebut terkadang tanpa memperhatikan estetika adu argument yang sebenarnya. Padahal memang kita akui adu argument secara positif itu diperlukan sebagai bahan pertimbangan masyarakat untuk menentukan pilihannya dengan berlandaskan kepada argumen logis dan terukur.

Kalu Aek Keruh di Muaro, Cubo Tengok ke Hulu

Masalah bukanlah mengharuskan kita duduk termenung dan melihatnya, tetapi menelisik penyebabnya. Hal ini tentunya dapat ditelisik dari apa akar masalah yang menyebabkan berpudarnya kesantunan berpolitik tersebut. Dan lebih penting dari itu pula adalah solusi dari permasalahan tersebut. Sehubungan dengan tersebut ada beberapa hal yang menjadi solusi terhadap kesantunan berpolitik, yaitu:

1. Menanamkan nilai agama dan adat melalui jalur akademis dalam setiap tingkatan;

2. Dalam kaitannya dengan penyelenggaran Pemilihan GBW adalah salah satu amanah penting bagi para kandidat untuk memberikan pencerahan politik kepada para pendukungnya;

3. Suatu kewajiban bagi KPU dan jajaran untuk mensosialisasikan kesantunan berpolitik melalui pendidikan politik;

4. Suatu keharusan pula bagi pengawas pemilu untuk melakukan upaya preventif dan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kesantunan berpolitik.

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatatkan)”. (Q.S Qaf:18)



Penulis: Penulis adalah Pemerhati Politik Jambi, Tim Asistensi Bawaslu Provinsi Jambi.
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments