Rabu, 12 Agustus 2020

Kearifan Lokal Pada Era Pilkada Langsung


Selasa, 20 Oktober 2015 | 14:51:43 WIB


ilustrasi
ilustrasi / Istimewa

PILKADA langsung secara serentak akan dilaksanakan pada Desember 2015 di 271 kota/kabupaten se Indonesia. Namun demikian tidak semua daerah siap dengan Pilkada serentak tersebut.

Hal ini bisa dilihat di awal masalah perundangan, dimana tarik ulur Perpu sebelum menjadi Undang-Undang No. 1 Tahun 2015. Selain itu, proses pemilihan Panwaslu yang terindikasi adanya banyak masalah dan permainan sehingga dikhawatirkan terjadinya transaksi politik.

Mahkamah Konstitusi akan semakin sulit menghadapi permasalahan sengketa Pilkada, dimana dalam Pilkada yang tidak serentak saja sudah banyak permasalahan. Hal ini dimungkinkan dalam pelaksanaannya nanti karena akan banyak terjadi resistensi konflik horizontal.

Sementara itu, ada isu dengan demokrasi ala barat yang mengedepankan liberalisme, individualisme, dan transaksional, akan mempengaruhi kearifan lokal,  dimana sifat gotong royong, musyawarah untuk mufakat menjadi pragmatis, materialistis, dan individualis, yang menjadi bibit-bibit konflik horizontal.

Indonesia dipandang positif oleh dunia dalam manajemen konflik karena kemampuannya mengantisipasi ribuan potensi konflik. Di balik keberhasilan tersebut ada peran kearifan lokal. Setiap daerah memiliki segudang kearifan lokal berbasis budaya masing-masing. Kompetisi Pilkada hendaknya dilaksanakan secara ksatria dengan menjunjung kejujuran.

Isu strategis yang diharapkan dapat dikembangkan kandidat kepala-kepala daerah adalah penguatan kearifan lokal. Kearifan lokal yang hadir dalam bentuk tradisi, nilai atau norma, kaidah atau keyakinan-keyakinan yang masih dihayati dan dipelihara, bahkan dipatuhi oleh masyarakat lokal atau satuan masyarakat, adalah upaya mewujudkan tertib sosial dan kesejahteraan.

Tradisi itu sering kali terwujud secara lestari dan berkembang berdasarkan ikatan keyakinan komunitas lokal. Pelestarian tradisi penting dilakukan sebagai filter terdepan dalam menghadapi budaya asing, khususnya sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesat lajunya.

Disamping itu, tradisi yang tumbuh pada suatu masyarakat pada dasarnya juga menjadi aset atau modal sosial yang penting dalam rangka memberdayakan (empowering) masyarakat demi mewujudkan kualitas hidup dan kesejahteraan. Harus diakui bahwa selama ini masih berkembang pandangan sederhana mengenai pengelolaan pembangunan yang beredar luas pada khalayak umum.

Proses pembangunan dimaknai secara sederhana sebagai perubahan kehidupan masyarakat tradisional menuju masyarakat modern. Modernitas dilakukan dengan memperkenalkan lembaga dan nilai-nilai baru dengan menghancurkan tatanan nilai atau kelembagaan tradisional, yang dipandang sebagai kendala terhadap jalannya proses modernisasi.

Kearifan lokal sering kali dilupakan karena tidak dilahirkan oleh ilmuwan-ilmuwan barat. Kearifan lokal yang menjadi kebangaan, namun saat ini hampir tidak ada lagi makna yang berarti di era globalisasi ini. Nilai-nilai kebudayaan luar yang beragam menjadi basis dalam pembentukan suku budaya luar yanag berdiri sendiri dengan kebebasan-kebebasan ekspresi.

Kembali kepada nilai-nilai yang selama ini lahir dan berkembang di masyarakat, tentu merupakan solusi yang dapat diterima oleh sebagian besar rakyat. Apabila para politisi yang menyuarakan demi kepentingan demokrasi dan kesejahteraan rakyat. Kecuali apabila di dalam suara demokrasi dan kepentingan rakyat yang mereka teriakkan terselip keinginan pribadi atau kelompok yang berkuasa.

Meskipun diperlukan pengkajian yang lebih baik untuk memberikan penafsiran dan pemaknaan yang tepat dengan istilah kearifan lokal (local wisdom), namun dapat dipastikan bahwa istilah tersebut menggambarkan pada sesuatu yang dianggap baik, disepakati sebagai nilai-nilai luhur dan dijadikan aturan dan norma dalam masyarakat lokal. Oleh karena batasan wilayah, masyarakat, agama, adat, dan etnis, dengan sendirinya menjadi batasan nilai-nilai kebajikan yang disebut kearifan lokal (local wisdom) itu sendiri.

Nilai-nilai inilah yang mengikat masyarakat dalam komunitas tertentu dengan damai, harmonis, bersahabat, saling menghargai dan menghormati, saling membantu satu sama lain, bahkan turut menciptakan peradaban dalam sejarah sosial manusia. Kenyataan ini mesti disadari sebagai salah satu kekuatan alamiah yang tumbuh dari dan untuk masyarakat itu sendiri.

Karenanya, kekuatan ini sangat baik dan penting untuk diperkuat kembali posisinya dalam rangka mewujudkan kedamaian dalam hubungan sosial, di samping penegakan hukum positif dan manajemen penyelenggaraan pemerintah nasional. Dengan dimulai dari contoh para pemimpin, baik di lingkungan pemerintah maupun di lingkungan kelompok, masyarakat untuk mempraktekkannya agar masyarakat meniru mereka dalam hal-hal yang positif.

Kearifan lokal merupakan semua kecerdasan-kecerdasan lokal yang ditransformasikan ke dalam cipta, karya, dan karsa, sehingga masyarakat dapat mandiri dalam berbagai iklim sosial yang terus berubah-rubah. Cipta, karya, dan karsa itu disebut budaya. Kebudayaan bukan merupakan istilah baru, namun yang dimaksudkan kebudayaan adalah semua pikiran, perilaku, tindakan, dan sikap hidup yang selalu dilakukan orang setiap harinya.

Budaya dan adat istiadat itu bukan hanya berbentuk seni atau tari-tarian saja, akan tetapi sosok kepemimpinan dan semangat para nenek moyang dalam mengurus daerahnya termasuk lingkungan alamnya. Pemaknaan terhadap kearifan lokal dalam dunia pendidikan masih sangat kurang.

Ada istilah muatan lokal dalam struktur kurikulum pendidikan, tetapi pemaknaannya sangat formal karena muatan lokal kurang mengeksporasi kearifan lokal. Muatan lokal hanya sebatas bahasa daerah dan tari daerah. Kearifan lokal adalah dasar untuk pengambilan kebijakan pada level lokal. Jadi, untuk melaksanakan pembangunan disuatu daerah, hendaknya pemerintah mengenal lebih dulu seperti apakah pola pikir dan apa saja yang ada pada daerah yang menjadi sasaran pembangunan tersebut.

Adalah sangat membuang tenaga dan biaya jika membuat suatu kebijakan apabila kebijakan tersebut tidak tepat sasaran atau lebih sederhananya, sebuah pembangunan akan menjadi sia-sia jika pemerintah tidak mengenal kebiasaan masyarakat atau potensi yang tepat untuk pembangunan di daerah tersebut.

Pembangunan yang tepat bukan berarti menghilangkan adat istiadat atau menghilangkan kekayaan budaya pada suatu daerah, tapi sebenarnya memajukan potensi dan kekayaan yang ada pada daerah tersebut. Sebab, jika pembangunan malah menghilangkan adat istiadat, maka bisa dipastikan bahwa daerah tersebut akan kehilangan jati dirinya.

Faktor lainnya adalah pragmatis dan keserakahan yang biasanya dimulai dari sebagian elit lokal. Kepentingan subyektif diri mengantarkan mereka untuk memanfaatkan kearifan lokal. Mereka menggunakannya secara artificial, tapi sekaligus menghancur leburkan nilai-nilai luhur yang dikandungnya.

Jambi sebagai sebuah provinsi, pada dasarnya mengindetifikasi adanya budaya yang spesifik. Landasan budaya lokal, adalah nilai norma yang telah lama diterima dan bertahan dari tahun ke tahun. Untuk mengenal budaya masyarakat Jambi, adalah mengenal secara historis masyarakat tersebut.

Dapat dijelaskan bahwa kultur masyarakat Jambi banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan ajaran Islam. Dalam hal ini, perlu dijelaskan bagaimana Islam menyentuh masyarakat Melayu Jambi sehingga banyak adat kebiasaan masyarakat yang dirubah atau disesuaikan dengan ajaran-ajaran keislaman.

Sementara itu zaman telah berubah, tantangan kehidupan global sudah terasa dampaknya bagi kehidupan masyarakat. Tidak jarang globalisasi juga melahirkan ekses negatif terhadap melemahnya kearifan budaya lokal. Apabila tidak diantisipasi dengan memperkuat filter budaya dan agama, maka globalisasi akan dapat merugikan terhadap eksistensi nilai-nilai budaya bangsa.

Dalam suatu daerah (local) tentunya selalu diharapkan kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang. Kehidupan yang penuh kedamaian dan suka cita. Kehidupan yang dipimpin oleh pimpinan yang mampu menciptakan suasana kondusif, menjunjung nilai-nilai kepatuhan dan loyalitas, mengedepankan kepentingan orang lain (masyarakat) serta nilai toleransi yang tinggi, serta memberikan contoh yang baik kepada yang dipimpinnnya dengan mengutamakan nilai-nilai moral di dalam masyarakat. Semoga Jambi akan dipimpin oleh seorang pemimpin yang berfiir global bertindak lokal.



Penulis: Dosen STIT-AD Al-Azhar Jambi
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments