Selasa, 11 Agustus 2020

Nenek Ini Tetap Jadi Orang Kepercayaan Sang Penguasa


Sabtu, 09 Januari 2016 | 14:17:37 WIB


Ri Chun-hee.
Ri Chun-hee. / Foto : Dok Jawa Pos

PYONGYANG - Klaim Kim Jong-un bahwa negaranya telah sukses menguji coba bom hidrogen menghadirkan kembali sosok Ri Chun-hee. Perempuan 72 tahun yang dikenal sebagai penyiar paling senior Korea Utara (Korut) itu kembali muncul di layar kaca hanya untuk mengumumkan klaim yang menuai kecaman dunia tersebut. Padahal, dia sudah mundur dari dunia pertelevisian pada 2012.

Dengan suara dan bahasa tubuh yang khas, Ri mengumumkan prestasi Korut di bidang teknologi nuklir tersebut Rabu waktu setempat (6/1). "Ini sesuatu yang akan membuat dunia memandang negara nuklir kita yang kuat," tandas perempuan berambut pendek tersebut. Saat menyebut Korut sebagai negara nuklir, dia sengaja memberikan penekanan yang kuat untuk me­nampilkan kesan bangga.

Sampai sekarang, belum ada yang bisa menandingi karisma Ri dalam menyampaikan berita penting. Maka, Jong-un sengaja memanggil pembaca berita kawakan itu untuk menyebarluaskan klaim tentang bom hidrogen. Ri yang sudah sekitar tiga tahun absen dari layar kaca pun kembali hadir. Dia tetap dengan penampilan yang sama, dalam balutan chima jeogori warna pink.

Ri memang punya tempat istimewa di hati masyarakat Korut. Betapa tidak, selama 40 tahun, perempuan kelahiran Tongchon County, Provinsi Kangwon, itu identik dengan berita. Mirip-mirip dengan Tuti Aditama di Indonesia pada era 80-an yang begitu lekat dengan tayangan Dunia dalam Berita.

Ri yang alumnus Pyongyang University of Theatre and Film jurusan seni pertunjukan itu pun mendominasi siaran KCTV, satu-satunya stasiun televisi Korut pada 1971, pada masa genting.

Saking ekspresifnya, Ri bahkan bercucuran air mata ketika menyiarkan berita mangkatnya Kim Il-sung, bapak bangsa Korut, pada 1994. Dia kembali berlinang air mata dan nyaris tidak bisa berkata-kata saat mengumumkan meninggalnya Kim Jong-il, ayah Jong-un, pada 2011. "Saat membacakan berita untuk DPRK (nama resmi Korut), kita tidak boleh terdengar seperti sedang berteriak. Tapi, berbicaralah dengan lembut kepada para pemirsa," ujarnya.


Penulis: CNN/hep/c10/ami/pda
Editor: Ikbal Ferdiyal
Sumber: JPNN.COM

TAGS:


comments