Senin, 13 Juli 2020

Anomali Unja (Harapan Gebrakan Baru Untuk Rektor Unja Periode 2015-2019)


Senin, 25 Januari 2016 | 15:19:58 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

UNIVERSITAS Jambi sebagai perguruan tinggi terbesar di Provinsi Jambi, boleh bangga karena memiliki program studi terlengkap kedua di Sumatera, dan mendapat akreditasi B pada tingkat universitas. Bahkan beberapa fakultas ada yang mendapat akreditasi A.

Namun setelah penulis masuk ke gedung yang merupakan gudangnya ilmu, yaitu perpustakaan, sungguh sangat mengagetkan. Ruang tempat membaca suram, hanya beberapa lampu yang hidup dan tidak sesuai dengan luasnya ruangan. Belum lagi ketidaknyamanan karena masih ada nyamuk-nyamuk nakal yang menggigit pembaca.

Demikian juga dengan rak-rak buku yang berdebu. Bagi kulit yang sensitive bisa menjadi alergi. Pelayanan, terutama pencarian buku, masih secara manual, dan ruangan belum menggunakan Air Conditioning (baca : memang ada AC, namun baru sebatas aksesoris pengindah ruangan). Pokoknya masih jauh dari kesan modern.

Ini harus segera dilakukan revitalisasi. Bisa saja dengan telah dibukanya globalisasi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), kemungkinan masyarakat asing (baca luar negeri) menjadi mahasiswa Unja. Mereka terkaget-kaget dengan standar pelayanan yang diberikan perpustakaan Universitas Jambi.

Apakah om kita (Ombudsman) pernah melihat standar pelayanan perpustakaan di seluruh Perguruan Tinggi yang ada di Jambi, khususnya Universitas Jambi? Coba bandingkan dengan pelayan perpustakaan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ruangan ber-AC, nuansa sejuk, buku terawat kebersihannya, bahkan pengunjung yang masukpun harus melepaskan sepatu, seperti kita masuk mesjid dengan maksud menjaga sterilitas ruangan agar tidak masuk debu.

Jangan pula beranggapan tidak perlu perpustakaan, karena buku bisa search di internet. Bacaan dengan menggunakan hard copy tetap masih efektif, bandingkan kalau menggunakan internet. Disamping resiko mata cepat iritasi, juga resiko seandainya lampu mati, maka kita tidak bisa membaca melalui laptop,  belum lagi persoalan signal yang tidak menentu.

Persoalan lain yang krusial perlu diperhatikan adalah buku-buku literatur program studi S2 dan S3 belum tersedia. Padahal untuk mengerjakan tesis dan disertasi, diperlukan referensi dan literatur yang tidak sedikit.

Pada kesempatan ini kami juga mengharapkan kepada Rektor terpilih beserta pembantu-pembantunya, sekali-sekali tanpa diberitahukan  kepada para Dekan,melakukan on the spot melihat kondisi penyelenggaraan perkuliahan, juga melakukan  pengecekan lampu-lampu ruang kuliah, pengecekan mengenai kebersihan ruangan, jika perlu sampai ke WC yang disediakan untuk mahasiswa.

Penulis jadi ingat ketika Jenderal M. Yusuf menjadi Menteri Polkam masa Soeharto. Kkalau memeriksa ruangan, dia lihat WC terlebih dahulu. Kalau WC-nya sudah bagus ruang lain dilihat sepintas saja.

Selaku dosen Unja, kami juga berharap kepada rektor yang baru akan dilantik memperhatikan juga  persoalan pembayaran uang sertifikasi dan uang makan. Pembayaran uang sertifikasi dan uang makan belum  dijadwalkan tanggal tetapnya setiap bulan, dan kalau perlu uang makan dapat ditransfer ke rekening masing-masing dosen dan karyawan seperti  penerimaan gaji rutin bulanan dan atau penerimaan uang sertifikasi.

Kami juga berharap birokrasi pertanggungjawaban penggunaan uang penelitian dan pengabdian masyarakat dapat lebih disederhanakan. Dan kami juga berharap hasil karya dosen-dosen yang telah diterbitkan di jurnal, dapat dipublikasikan juga melalui media online dan media massa dengan menggunakan bahasa ilmiah popular. Hal ini dimaksudkan agar perguruan Tinggi tidak seperti menara gading.

Selanjutnya, kami berharap agar  dosen-dosen dan karyawan internal yang mengambil pendidikan lanjutan (strata dua dan tiga), mohon uang kuliah yang ditetapkan tidak disamakan dengan mahasiswa yang berasal dari eksternal Unja.

Last but not least, kami berharap ada pertemuan langsung antar Rektor dengan seluruh dosen dan karyawan dalam satu semester satu kali saja, karena mungkin saja ada informasi yang tidak sampai dari pejabat-pejabat yang mengelilingi Rektor. Oleh sebab itu informasi langsung dari karyawan dan dosen, perlu juga diperhatikan.

Bukankah keterbukaan dan transparansi merupakan ciri insan akademis. Oleh karena itu, dunia kampus diharapkan terlebih dahulu memulai penerapan prinsip good and clear governance, sehingga dapat menjadi referensi bagi instansi pemerintah dan swasta di Jambi.

Selamat kepada Rektor baru yang akan dilantik dan kami tunggu gebrakan baru Bapak. Sebagai penutup, penulis sitir syair lagu “Lelaki Pilihan” yang pernah dinyanyikan Bimbo dengan bait terakhir gubahan penulis, sebagai berikut : telah datang lelaki pilihan (2X), al Amin pembawa amanah (2X), dialah kekasih kita, dialah tumpuan kita.



Penulis: Dosen Fisipol Universitas Jambi dan Ketua Komunitas Penulis Opini Jambi (Pelanta).
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments