Senin, 10 Mei 2021

Temukan Emas di Gundukan Sampah

Suka Duka Sepasang Pemulung Bantar Gebang

Kamis, 04 Februari 2016 | 16:31:15 WIB


Pasangan pemulung di TPA Sumurbatu, Bantar Gebang, Anna (kanan) dan Inna.
Pasangan pemulung di TPA Sumurbatu, Bantar Gebang, Anna (kanan) dan Inna. / Foto: dok/Radar Bekasi

SUDAH hampir empat tahun, Anna dan Inna, pasangan suami istri asal Kampung Cihawaru, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor ini mendirikan gubuk sederhana yang berjarak sekitar 200 meter dari gunungan sampah TPST Bantar Gebang, Bekasi. Apa suka duka mereka?

Mega Puspita, Radar Bekasi

Tidak ada yang istimewa dari gubuk tersebut, hanya merupakan bilik dan potongan papan serta kain usang untuk dijadikan dinding. Yang penting bagi mereka, gubug tersebut bisa untuk istirahat setelah seharian mengais sampah.

"Sudah hampir empat tahun kami di sini (TPA Sumurbatu). Ya, abis di kampung kami sudah tidak bisa bekerja lagi. Tidak ada yang memberi pekerjaan. Jadi kami ke sini untuk kerja jadi pemulung ngumpulin plastik-plastik," ungkap Inna (54) kepada Radar Bekasi, saat ditemui di lokasi TPA Sumurbatu belum lama ini.

Dia mengaku, sejak tahun 2011 bersama suami dan anaknya tinggal di Bekasi dan menjadi pemulung di TPA Sumurbatu hanya untuk bisa mendapatkan penghasilan yang tidak seberapa untuk menyambung hidup.

"Anak saya hanya satu. Dulu ikut mulung di sini. Tapi sekarang dia sudah menikah. Dan sudah memberikan dua cucu buat kami. Alhamdulillah sudah kerja juga. Jadi tinggal kami berdua yang mulung," paparnya dengan logat sunda khas Bogor.

Sementara itu, Anna sang suami pun menjelaskan tentang jenis-jenis sampah yang dia pulung dan kumpulkan untuk selanjutnya bisa dia jual dan mendapatkan uang. "Kami mulung plastik-plasik, botol bekas, dan kaleng bekas. Kami kumpulkan dulu biar banyak. Kalau sudah banyak dan pengepul datang, baru ditimbang," tukasnya.

Plastik yang mereka kumpulkan berupa plastik kresek bekas yang nantinya akan dikumpulkan dan timbang untuk bisa dapat ditukar dengan rupiah. "Satu kilo plastik harganya Rp300 rupiah. Biasanya kami ngumpulin sampai satu karung, dan satu karung paling beratnya 25 kilo. Jadi, kami bisa ngumpulin 50 kilo atau dua karung plastik berdua dalam satu hari," tambah Anna.

Dengan durasi memulung sejak pukul 06.00 pagi sampai 05.00 sore, sepasang suami istri ini kompak mengumpulkan barang-barang plastik bekas untuk bisa dijual. Namun sayang, hasil dari penjualan barang bekas tersebut tidak serta merta mereka terima langsung di muka. Melainkan harus menunggu dua minggu untuk mendapat upah dari hasil kerja keras mereka.

"Untuk bayaran hasil timbangan plastik ini dibayar dua minggu sekali. Jadi sebulan dua kali menerima upah. Dan itu hanya untuk makan kami saja selama satu bulan. Kadang, kalau lebih suka kami kasih untuk jajan cucu," tambah kakek dari satu orang cucu ini.

Tak ada perlengkapan khusus yang mereka gunakan untuk memulung. Bahkan, pengaman untuk sekadar melindungi mereka dari teriknya matahari atau dinginnya hujan pun tidak ada. Hanya dengan sebatang besi, bahkan cukup menggunakan tangan, mereka memilah-milah jenis plastik yang dianggap layak.

Untuk melindungi wajah mereka dari teriknya matahari, Anna pun memakai kaos bekas untuk menutup kepalanya, sedangkan sang istri, memakai jilbab dan sesekali memakai topi lusuh.

Bahaya sampah longsor pun selalu mengancam. Ditambah musim hujan yang kini tengah berlangsung. Membuat kondisi gunungan sampah jauh dari kata aman.

"Ya kami hati-hati saja. Kalau hujan kami sempetin berhenti, nanti kalau sudah gak hujan kami lanjutkan lagi, tapi gak sampai atas, paling di bawah-bawah. Yang penting bisa ngumpulin plastik," ujar Anna.

Inna mengaku, pernah saat memulung menemukan lima gram emas dari gundukan sampah. Sontak, dirinya pun terkejut yang kemudian bersama sang suami mendatangi toko emas. "Pas kita bawa ke toko emas ternyata emas beneran. Ya sudah kami jual saja seharga Rp1,5 juta,” ungkap Inna bahagia.

Uang tersebut pun dipakai untuk melengkapi kebutuhan sehari-harinya. "Masih bisa ketemu nasi juga sudah Alhamdulillah. Mau pulang kampung juga sudah tidak bisa. Kami juga gak punya rumah di sana. Di sini pun kami hanya membangun gubuk untuk sekadar bisa tidur. Yang penting dekat sama keluarga, anak, cucu, dan bisa makan," tukas Anna.


Penulis: (mega puspita/adk/jpnn)
Editor: Ikbal Ferdiyal
Sumber: JPNN.COM

TAGS:


comments