Senin, 18 November 2019

Guru dan Permasalahannya


Jumat, 29 Januari 2016 | 16:34:37 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

Pada hakekatnya dalam dunia pendidikan, keberadaan, peran, dan fungsi guru merupakan salah satu faktor yang sangat signifikan. Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar, baik di jalur pendidikan formal, informal, maupun nonformal. Oleh sebab itu, dalam setiap upaya peningkatan kualitas pendidikan di tanah air, guru tidak dapat dilepaskan dari berbagai hal yang berkaitan dengan eksistensi mereka.

Filosofi sosial budaya dalam pendidikan di Indonesia, telah menempatkan fungsi dan peran guru sedemikian rupa sehingga para guru di Indonesia tidak jarang telah di posisikan mempunyai peran ganda bahkan multi fungsi. Mereka dituntut tidak hanya sebagai pendidik yang harus mampu mentransformasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan, tetapi sekaligus sebagai penjaga moral bagi anak didik. Bahkan tidak jarang para guru dianggap sebagai orang kedua, setelah orang tua anak didik dalam proses pendidikan secara global

Saat ini setidak-tidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia, yaitu : pertama, masalah kualitas/mutu guru, kedua, jumlah guru yang dirasakan masih kurang, ketiga, masalah distribusi guru dan masalah kesejahteraan guru.

1. Masalah Kualitas Guru

Menurut Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan Kebudayaan (BPSDMPK) dan Peningkatan Mutu Pendidikan (PMP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Syahwal Gultom, hingga saat ini dari 2,92 juta guru, baru sekitar 51 persen yang berpendidikan S-1 atau lebih, sedangkan sisanya belum berpendidikan S-1.

Begitu pun dari persyaratan sertifikasi hanya 2,06 juta guru atau sekitar 70,5 persen guru yang memenuhi syarat. Sedangkan 861.67 guru lainnya belum memenuhi syarat sertifikasi, yakni sertifikat yang menunjukkan guru tersebut profesional. Realitas semacam ini, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas anak didik yang dihasilkan.

Belum lagi masalah dimana seorang guru (khususnya SD), sering mengajar lebih dari satu mata pelajaran (guru kelas) yang tidak jarang, bukan merupakan inti dari pengetahuan yang dimilikinya, hal seperti ini tentu saja dapat mengakibatkan proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal.

2. Jumlah Guru yang Masih Kurang

Jumlah guru di Indonesia saat ini masih dirasakan kurang, apabila dikaitkan dengan jumlah anak didik yang ada. Oleh sebab itu, jumlah murid per kelas dengan jumlah guru yag tersedia saat ini, dirasakan masih kurang proporsional, sehingga tidak jarang satu raung kelas sering di isi lebih dari 30 anak didik.

Sebuah angka yang jauh dari ideal untuk sebuah proses belajar dan mengajar yang di anggap efektif. Idealnya, setiap kelas diisi tidak lebih dari 15-20 anak didik untuk menjamin kualitas proses belajar mengajar yang maksimal.

3. Masalah Distribusi Guru

Masalah distribusi guru yang kurang merata, merupakan masalah tersendiri dalam dunia pendidikan di Indonesia. Di daerah-daerah terpencil, masing sering kita dengar adanya kekurangan guru dalam suatu wilayah, baik karena alasan keamanan maupun faktor-faktor lain, seperti masalah fasilitas dan kesejahteraan guru yang dianggap masih jauh yang diharapkan dan tentunya itu berbeda untuk daerah perkotaan yang menjadi primadona seorang guru untuk mengajar,itu tentu disebabkan oleh factor yang telah penulis paparkan tadi.

4. Masalah Kesejahteraan Guru

“Mendidik itu mengabdi dan lahir dari hati, bukan sekadar profesi apalagi semata–mata hanya mengharapkan gaji”.

Sepenggal kalimat di atas tentu benar adanya. Namun setiap manusia tentu membutuhkan materi untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan tidak terkecuali guru itu sendiri.

Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa tingkat kesejahteraan guru-guru kita sangat memprihatinkan. Penghasilan para guru, dipandang masih jauh dari mencukupi, apalagi bagi mereka yang masih berstatus sebagai guru bantu atau guru honorer.

Kondisi seperti ini, telah merangsang sebagian para guru untuk mencari penghasilan tambahan, diluar dari tugas pokok mereka sebagai pengajar, termasuk berbisnis di lingkungan sekolah dimana mereka mengajar. Peningkatan kesejahteaan guru yang wajar, dapat meningkatkan profesinalisme guru, termasuk dapat mencegah para guru melakukan praktek bisnis di sekolah.

Selain dari beberapa permasalahan diatas, dapat juga kita jumpai bahwa beban seorang guru amat lah besar baik itu dalam sosiokultural ataupun dalam menjaga sikap bermasyarakat. Itu dikarenakan bahwa seorang guru dianggap sebagai seorang pengayom dan juga soerang guru bukan hanya mempunyai beban tersebut namun guru juga dituntut untuk menjadi soerang desain dalam proses pembelajaran. Itu dapat dilihat dari kerja seorang guru untuk membuat rancangan pembelajaran itu sendiri.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah peran seorang guru itu amatlah besar dalam proses pendidikan dan tentunya muara dari pendididkan itu sendiri adalah terbentuknya karakter bangsa. Sudah sepatutnya pemerintah memperhatiakan permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan itu sendiri.

Disini penulis lebih menekan kan kepada kesejahteraan dan penghargaan terhadap guru itu sendiri,karena penulis merasa kesejahteraan terhadap guru di Indonesia ini amat lah jauh dari negara-negara lain. Dalam hal kecil saja yang dapat menjadi contoh adalah gaji.

Gaji guru di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Dalam kawasan ASEAN saja gaji guru di Indonesia hanya jauh lebih tinggi dari kamboja, ternyata benar bahwa istilah pahlawan tanpa tanda jasa itu masih berlaku.


Penulis: Mahasiswa Magister Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Jakarta.
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments