Sabtu, 23 November 2019

Mencari Lawan Sebanding (Agar Petahana Tidak Merasa Jumawa)


Selasa, 09 Februari 2016 | 11:28:41 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

MASIH ingat ketika promotor tinju terkenal Don King di era tahun 1970 yang selalu mencari lawan-lawan berimbang untuk Muhammad Ali (legendaris tinju dunia). Beberapa lawan yang diajukan seperti Joe Frazer, Ken Norton, George Foreman, Oscar Bonavena. Ini adalah lawan-lawan setara bagi Muhammad Ali, sehingga setiap ada laga tinju dunia, walau dengan harga karcis tinggi, penonton tetap saja membludak, karena menyajikan pertandingan tinju berimbang dimana jual beli pukulan pasti terjadi.

Namun penonton pernah kecewa juga ketika Don King kebingungan mencari lawan yang sebanding untuk Muhammad Ali. Tiba-tiba dia membuat sensasi dengan mempertemukan juara gulat dunia Inoki dari Jepang dengan Muhammad Ali. Pertarungan berakhir seri selama 15 ronde, karena masing-masing tidak bisa melakukan serangan. Istilah yang muncul ketika itu adalah buaya lawan harimau, jadi fight tidak terjadi.

Kasus Ahok
Dalam politik di Indonesia, terjadi pula ada lawan-lawan yang tidak berimbang dalam Pemilukada. Bahkan Basuki Cahaya Purnama (Ahok) saking merasa jumawa dengan sedikit sombong dia mengajak Haji Lulung (sekarang ketua DPRD DKI Jakarta) untuk maju dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Ahok berani mengajak Haji Lulung untuk maju sebagai Gubernur DKI Jakarta, karena dia sudah bisa menilai kualitas Haji Lulung masih jauh dari kualitasnya.

Penulis mengatakan bahwa Ahok bukanlah petarung sejati. Dalam iklan salah satu minuman penambah energy mengatakan “lelaki sejati mencari lawan yang sebanding”. Hal yang menarik bagi penulis adalah munculnya beberapa nama yang akan bertarung dalam pemilukada DKI Jakarta adalah Eko Patrio, Dessy Ratnasari, Adyaksa Dault. Ini bukan lawan sebanding, hal ini dibuktikan dari hasil survey menunjukkan elektabilitas Ahok diatas lawan-lawan yang mau maju tersebut.

Belakangan muncul keinginan masyarakat agar Ridwan Kamil, sekarang Walikota Bandung, agar maju menantang Ahok. Tapi beliau belum mendeklarasikan untuk maju. Hal yang mengagetkan masyarakat, tidak diduga-duga sama sekali Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra pakar hukum Tata Negara Indonesia yang pernah menjadi menteri dari tiga presiden berbeda, seolah turun gunung menyatakan diri siap maju sebagai bakal calon (balon) gubernur DKI Jakarta.

Siapa yang tidak kenal dengan beliau? Belakangan beliau lebih dikenal sebagai pengacara dan yang tidak terlupakan adalah ketika reformasi, beliaulah yang mengajukan istilah yang tepat terhadap Soeharto yang  tidak bisa aktif sebagai Presiden. Beliau mengajukan istilah yang tidak bertentangan dengan UUD 1945.

Kalau menggunakan istilah berhenti, jelas tidak sejalan dengan UUD 1945, karena dalam UUD 1945 dikatakan bahwa presiden dapat digantikan apabila beliau berhalangan tetap. Banyak kalangan menafsirkan berhalangan tetap identik dengan kata meninggal dunia. Oleh sebab itu seorang Yusril Ihza Mahendra memutar otak dengan mengusulkan istilah mundur (lengser keprabon).   

Ahok, mungkin sekarang mulai menyadari lawan baru yang akan maju ini bukanlah lawan enteng. Jika sebelumnya, ibarat petinju akan menghadapi lawan yang lebih ringan tidak perlu harus latihan serius, sekarang Ahok harus masuk sasana kembali untuk lebih banyak latihan, karena lawan yang dihadapi adalah lawan seimbang, bahkan mungkin juga kelasnya berada diatas kelasnya.

Kasus Fasha
Lain Ahok, lain pula dengan Fasha (sang Walikota Jambi). Untuk Pemilukada serentak tahun 2017, penulis memprediksikan jika dilihat lawan-lawan yang diperkirakan akan dimunculkan dan berdomisili di kota Jambi, belum ada lawan yang benar-benar seimbang, baik dari maskulinnya maupun prestasi.

Kinerja beliau walaupun belum sepenuhnya memuaskan, paling tidak telah berhasil merubah wajah kota Jambi yang kurang artistik, menjadi lebih artistik, walaupun terkesan meniru gaya pembangunan kota Bandung. Beliau juga sudah mulai melakukan kampanye terselubung seperti menjadi inspektur upacara di SLTA-SLTA di kota Jambi, istilah dari media cetak adalah “ngapelin siswa”.

Motivasi ini jelas untuk mengamankan suara dari kalangan pemilih pemula.  Hingga saat ini baik dari partai Demokrat, PDI Perjuangan, dan partai-partai lainnya, belum ada nama-nama yang akan dimunculkan. Demikian juga inisiatif dari individu politikus yang ada di kota Jambi, belum ada yang berani jauh-jauh hari mengatakan akan maju dalam pemilukada serentak.

Jika memang serius maju dalam Pemilukada, seharusnya dari sekarang mulai bergerak, seperti yang pernah dilakukan oleh Gerakan Masyarakat Pendukung Zola (GMPZo) dan juga balon bupati Muara Jambi (Ir. Ivan Wirata, M.TP). Saudara Ivan melepaskan jabatan sebagai kepala dinas, dan dia benar-benar fokus menghadapi Pemilukada serentak 2017.

Namun di tengah kebingungan partai memunculkan lawan seimbang terhadap Fasha, penulis mempunyai pemikiran supaya Pemilukada di kota Jambi ada kompetisi yang seru. Tidak ada salahnya partai-partai melirik kader-kader politiknya yang telah berkiprah diajang nasional, untuk turun gunung seperti yang dilakukan oleh Yusril Ihza Mahendra, sehingga sang petahana tidak merasa jumawa dan seolah tidak tertandingi lagi.


Penulis: Penulis adalah dosen tetap Fisipol Universitas Jambi dan Ketua Penulis Opini (Pelanta) Jambi.
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments