Sabtu, 16 November 2019

Sistem Kasta Masih Ada


Sabtu, 13 Februari 2016 | 11:29:53 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

DUDUAK samo randah, badiri samo tenggi (Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi). Ini pepatah yang berasal dari ranah Minang masih harus diperjuangkan, karena utopia adanya. Demikian juga dalam Pancasila, secara tegas disebutkan pada sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, serta pada sila kelima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Substansi sila-sila ini adalah memperlakukan seseorang secara manusiawi (nguwongke), tenggang rasa, tepo seliro, serta berkeadilan. Hal ini disebabkan penataran Pancasila di era reformasi sudah jarang dilaksanakan, maka sikap bangsa Indonesia makin jauh dari sila kedua ini.

Mari kita lihat berikut ini bahwa fakta-fakta sosial, budaya, hukum, dan ekonomi yang menunjukkan bahwa sistem kasta tersebut masih ada di Indonesia :

Fakta Sosial. Seorang tamu yang ngedumel ketika menghadiri suatu pesta dan beliau bercerita dengan penulis dengan mengatakan : saya kecewa (disappointed) dengan perbedaan perlakuan terhadap tamu pada suatu acara resepsi. Bahkan dia kemukakan kalau tahu perlakuan demikian saya tidak datang pada acara perkawinan tersebut. 

Bayangkan saja, ketika tamu datang MC (Master of Ceremoni) memantau orang-orang yang harus diagungkan.  Kalau yang datang adalah pejabat eselon dua ke atas, maka nama tamu dan jabatannya disebutkan : Selamat datang bapak X, kepala kantor, rektor, gubernur, bupati, walikota, wakil bupati, wakil walikota, dan sebagainya. Sebaliknya jika bukan masuk kriteria tersebut, maka tidak disebut oleh MC.

Kemudian tamu-tamu terhormat ini ditempatkan pada tempat VIP. Kalau ada tamu awam yang kebetulan duduk di tempat VIP yang disediakan, maka panitia dengan cara halus mengatakan “mohon maaf pak/bu tempat ini untuk bapak X sekaligus menyebutkan jabatan orang yang akan duduk di tempat tersebut”. Sang tamu yang diminta pindah tersebut merasa waras, langsung saja meninggalkan ruang pesta tanpa harus mengucapkan selamat kepada pengantin dan kedua orang tua mempelai yang berada di atas mimbar panggung. 

Fakta Budaya. Di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, ada dikhotomi  mahasiswa kelas reguler dan kelas eksekutif, kelas reguler dan kelas mandiri. Padahal Undang-Undang Sisdiknas (sistem pendidikan nasional), hanya ada satu sebutan mahasiswa. Kalau kelas reguler ruang kuliah tidak ber AC, tidak dapat coffe break, dan makan siang, sementara kelas ekslusive (baca: kelas eksekutif) ruang kuliah ber AC dan mendapat fasilitas coffe break, dan makan siang.
Pernah juga pengalaman penulis ketika masih di PTS makan bersama dengan mantan Koordinator Kopertis wilayah X, seorang dosen muda yang kebetulan diajak pimpinan PTS ikut menjamu tamu dari Kopertis tersebut. Ketika akan mencari tempat duduk,  penulis melihat dosen muda PNS tersebut ditegur mantan Koordinator Kopertis agar pindah jangan menyatu dengan rombongan Kopertis dan pimpinan perguruan tinggi. Penulis melihat jatuh air muka dosen muda tersebut. 

Fakta Hukum. Di Nangroe Aceh Darussalam yang sudah memberlakukan hukum cambuk. Namun baru untuk kalangan orang miskin, tapi belum diberlakukan untuk keluarga pejabat yang mempunyai kesalahan yang sama dengan si miskin. Tontonan yang diliput dalam berita salah satu televisi swasta, si miskin yang baru mendapat hukuman cambuk, berteriak dengan mengatakan "ini tidak adil, kenapa anak pejabat tidak mendapat hukuman yang sama seperti kami, padahal kesalahannya persis sama dengan kami".

Dan bukan rahasia umum lagi adanya perbedaan ruang tahanan para koruptor dibandingkan dengan para pencuri ayam, atau motor. Padahal nilai nominal akibat kerugian yang ditanggung oleh negara lebih besar koruptor ketimbang orang-orang blangsatan tersebut. Lebih parah lagi, malah koruptor lebih dimanjakan di penjara.

Fakta Ekonom. Jika anda beli ticket pesawat, dan anda minta duduk dibangku posisi bagian agak di depan, maka harga tiketnya berbeda dengan bagian tengah hingga ke belakang yang relatif lebih murah. Lebih hebat lagi, pengkastaan pelayanan di rumah-rumah sakit. Kalau menginap kelas  VIP, kapan pun dokter bisa dipanggil jika pasien darurat, namun tidak dengan pasien kelas ekonomi.

Bahkan kebersihan ruang kelas ekonomi terkesan kurang diperhatikan. Padahal orang sakit hatinya perlu disenangkan, kalau demikian pasien miskin ini bukan malah jadi cepat sembuh, malah bertambah satu lagi yaitu penyakitnya yaitu penyakit psikis.

Fakta Politik. Jangan harap orang pintar/cerdas, tapi tidak punya amunisi (baca: financial) dapat bertarung dalam Pemilukada, karena harus keluarkan biaya untuk partai pendukung (sebagai mahar), biaya sosialisasi, dan biaya kampanye (apalagi praktek money politik) yang tak dapat diatasi. Pengecualian hanya terjadi untuk figur Didi Mulyadi (sekarang bupati Purwakarta), mungkin warganya masih waras.

Hebatnya beliau, bisa dua periode menjadi bupati Purwakarta. Beliau tidak segan-segan menceritakan biografinya pada acara Kick and Andy, dengan mengatakan bahwa kehidupannya waktu kecil blangsatan sekali. Kalau tanggal 1 sampai tanggal 5 makan dengan lauk ikan asin, dan tangal 6 hingga akhir bulan makan dengan lauk garam dan bawang. Saya tidak mengira bisa menjadi Bupati.

Warning. dalam kehidupan sosial menurut ajaran Islam diingatkan bahwa, kita semua setara tidak boleh ada perbedaan. Hal ini penulis sitir dari status pimred Jambi Ekspres sebagai berikut: Kenapa umat Islam menghargai seseorang dengan melihat posisi dan harta yang ia miliki? Padahal Islam mengajarkan kesetaraan tanpa melihat dari mana orang itu berasal dan apa status social ekonominya.



Penulis: Dosen Fisipol Universitas Jambi dan Ketua Komunitas Penulis Opini Jambi (Pelanta).
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments