Senin, 18 November 2019

Kembalinya Mantan-mantan Kepala Daerah Jilid II

(Kasus Kabupaten Batanghari dan Tanjab Barat)

Selasa, 23 Februari 2016 | 13:58:50 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

MENARIK untuk ditelisik kembali kemenangan dua pasangan kepala daerah di Provinsi Jambi, yaitu Ir. Syahirsyah-Sofia Fattah, SH. (Bupati/Wakil Bupati Batanghari), dan Dr. H. Safrial-Drs. H. Amir Sakib (Bupati/Wakil Bupati Tanjung Jabung Barat). Menjadi makin menarik bagi penulis, karena bupati-bupati terpilih dalam Pemilukada serentak ini mengawali karir dalam Pemilukada sama-sama mengambil posisi nomor dua.

Tercatat nama Syahirsah (Wakil Bupati Batanghari) berpasangan dengan H. Abdullah Fattah (Bupati Kabupaten Batanghari perode 2001-2006). Hal yang sama terjadi dengan Safrial, (Wakil Bupati Tanjabbar) berpasangan dengan Drs. H. Usman Ermulan (Bupati Tanjung Jabung Barat periode 2001-2006).

Kemudian kedua pasangan ini sama-sama pisah kongsi pada Pemilukada 2006, dan kedua wakil ini mampu mengalahkan mantan atasannya. Maka jadilah Syahirsyah menjadi Bupati Kabupaten Batanghari periode 2006-2011 berpasangan dengan H. Adrian Faisal, sedangkan Dr. H. Safrial, MS menjadi Bupati Tanjabbar periode 2006-2011 berpasangan dengan H. M. Yamin, SH.

Selanjutnya mantan-mantan kepala Daerah tersebut kembali menantang junioran-nya yang mengalahkan mereka, dan H. Abdullah Fattah, SH terpilih kembali menjadi Bupati Batanghari periode 2011-2016 dengan Sinwan, SH sebagai wakil bupatinya. Sementara Drs. H. Usman Ermulan terpilih kembali menjadi Bupati Tanjabbar periode 2011-2016 yang berpasangan dengan  Katamso, SA, SE, ME sebagai wakil Bupati.

Fenomena aneh dan kebetulan sama ini pernah penulis tulis  dalam opini di salah satu media terkemuka di Jambi dengan judul Kembalinya Mantan-Mantan Bupati dalam Pemilukada (JE, 25 Oktober 2010). Setelah habis masa jabatan dan kedua mantan bupati yaitu Drs. H. Usman Ermulan tidak dapat maju kembali karena sudah dua periode dan Drs. H. Abdullah Fattah tidak dapat maju lagi karena kesandung persoalan hukum dipertengahan menjalankan posisi sebagai Bupati, sehingga ia diganti oleh wakilnya Sinwan SH.

Walaupun Sinwan maju calon bupati, beliau takluk juga dengan seniornya yang berpasangan dengan istri mantan Bupati yang sekaligus pernah menjadi pasangannya dan pernah pula jadi seterunya (baca : H. Abdullah Fattah, SH).

Apakah wakil sebagai faktor penentu kemenangan bupati?

Pemilihan wakil yang tepat memang bisa bisa meningkatkan dukungan dalam Pemilukada, asal kandidat nomor satu tetap memelihara hubungan baik konstituen lamanya. Kejelian memilih pasangan nomor dua yang mampu meyakinkan dan memberikan “persuasi” terhadap pemilih yang bukan merupakan pendukung kandidat nomor satu sehingga mengalihkan suaranya. itulah kompilasi yang tepat dan solid.  

Ir. Sahirsyah walaupun tahun 2011-2016 tidak menjadi bupati, tapi beliau masih mampu memelihara konstituennya. Ini terbukti beliau mampu menjadi anggota DPRD Provinsi Jambi periode 2014-2019. Ini menambah keyakinannya, dan cerdiknya beliau telah mengantisipasi kantong-kantong yang bukan merupakan dukungannya dapat diperjuangkan oleh wakilnya yang dahulu merupakan lawan politiknya.

Inilah politik diketahui “alpha-nya, tidak diketahui omeganya (diketahui awal, tidak diketahui akhirnya)”. Ia terus berproses sesuai kepentingan, dengan kata lain tidak ada kawan dan musuh yang abadi.  

Bagaimana dengan Kabupaten Tanjung Jabung Barat? Biografi H. Amir Sakib memang bukan berasal dari Tanjabbar, namun beliau pernah mengabdi di Tanjabbar lebih kurang 15 tahun. Bahkan beliau pernah menjadi camat teladan di salah satu kecamatan di kabupaten ini. Beliau juga tercatat sebagai mantan kepala dinas di Provinsi Jambi (BKD, DPPKAD), serta terakhir kepala inspektorat di Kabupaten Sarolangun.

Berbekal pengalaman dan pernah bertugas di Tanjabbar tersebut, merupakan kunci beliau mampu mendongkrak perolehan suara Bupati Tanjab Barat terpilih. Cuma bagi pemilih yang tidak memberi dukukungan suara terhadap bupati pemenang Pemilukada tersebut, akan berkata ketika mantan-mantan bupati ini menjabat bupati, pembangunan di dua daerah tidak menunjukkan hasil yang optimal, karena kedua kabupaten tersebut relatif  tertinggal pembangunannya dibandingkan kabupaten lain yang berada di provinsi Jambi.

Artinya, kinerja kedua bupati ini tidak termasuk luar biasa ketika menjabat bupati. Mudah-mudahan dengan terpilihnya kembali mantan-mantan bupati ini menjadi cembeti untuk mengabdi lebih maksimal lagi untuk daerah yang telah membesarkan nama mereka.

*)


Penulis: Navarin Karim, Dosen Fisipol Universitas Jambi dan Ketua Komunitas Penulis Opini Jambi (Pelanta).
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments