Senin, 3 Agustus 2020

Radikalisme Harus Dicegah Sejak Dini


Rabu, 02 Maret 2016 | 00:40:39 WIB


Bahren Nurdin saat memberikan pemaparan tentang radikalisme kepada ibu-ibu majelis taklim
Bahren Nurdin saat memberikan pemaparan tentang radikalisme kepada ibu-ibu majelis taklim / istimewa

JAMBI – Tantangan yang akan dihadapi generasi muda ke depan akan semakin kompleks dan berat. Diantaranya, peredaran gelap narkotika, pornografi, serta masalah radikalisme.
 
“Untuk menghadapi tantangan pada masa depan, generasi muda harus benar-benar disiapkan. Selain pemahaman agama, wawasan kebangsaan juga perlu ditanamkan kepada para generasi muda,” kata Prof. Rozali Abdullah, guru besar Fakultas Hukum Universitas Jambi.
 
“Pemahaman tentang radikalisme harus dilawan sejak dini. Maka dari itu, generasi muda harus didik dengan memperkuat lagi materi pendidikan agama dengan benar dan kaffah,” tandasnya.
 
Sementara itu menurut dosen IAIN STS Jambi, Bahren Nurdin, memahami radikalisme sebagai ancaman harus berawal dari seorang ibu. Menurut Bahren, ibu adalah guru atau majelis  yang pertama bagi anak atau para generasi muda.
 
“Peranan ibu sangat penting dalam mencegah dan menjadi benteng menangkal paham radikalisme,” kata Bahren.
 
Ditambahkannya, segala sesuatu yang menyangkut radikalisme, terorisme, dan kekerasan, benteng utamanya adalah keluarga. Menurut Bahren, jika benteng ini sudah jembol, maka generasi muda akan terancam, dimana mereka bisa saja bergabung dengan kelompok-kelompok radikal.
 
“Kalau seorang anak kurang mendapatkan perhatian, kurang diajak komunikasi, dan sikap tidak peduli keluarga terhadap anak, bisa membuat mereka mencari tempat yang aman, seperti narkoba, pergaulan bebas, bahkan bisa diasut untuk bergabung dengan kelompok radikal,” bebernya.
 
Saat ini kata Bahren, jangan salahkan globalisasi dan televisi. Semua pihak harus memperkuat pertahanan diri, terutama bagi generasi muda. “Artinya, ajarkan anak-anak kita dengan baik soal radikalisme, terorisme, dan kekerasan bisa dicegah. Selain itu, memberikan pemahaman agama dengan baik,” ujarnya.
 
Lebih lanjut Bahren mengatakan, pemahaman tentang radikalisme dimulai dari sebuah paradigma atau ways of thinking termasuk mengenai radikalisme. “Jadi radikalisme itu berangkat dari pola pemikiran atau paradigma, maka generasi muda harus terus diarahkan dan dibimbing, termasuk dalam masalah pendidikan agama,” kata Bahren.
 
Bahkan ia juga menyarankan untuk melawan radikalisme. Kalau perlu, kata Bahren, di kalangan generasi muda perlu diadakan pemilihan duta anti radikalisme. “Jadi, sebaiknya diadakan pemilihan duta anti radikalisme di kalangan generasi muda, sehingga mereka bisa mengajak temannya memahami radikalisme sebagai ancaman bagi bangsa,” pungkasnya.


Penulis: Ikbal Ferdiyal
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments