Kamis, 28 Mei 2020

Mahar Politik, Hambat Kandidat Berkualitas


Senin, 06 Juni 2016 | 13:26:28 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa


Melihat dinamika yang terjadi pada partai politik seperti Golkar, PAN, Demokrat, Gerindra, dan lainnya di tiga daerah, baik ditingkat DPC maupun DPD, penulis yakin empat bulan ke depan mulai Juni, Juli, Agustus, hingga September, adalah bulan lobi-lobi politik dan merupakan masa “tawar-menawar” para elit partai dengan bakal calon lokal yang potensial untuk maju sebagai kandidat pilkada.

Menarik untuk diamati adalah bagaimana penjaringan yang terjadi di partai politik. Sampai sejauh ini sepertinya Pilkada 2017 tidak akan banyak berubah dari tahun-tahun sebelumnya. Petahana dan “raja-raja” kecil di daerah serta pengusaha masih menjadi top three di “tangga” Pilkada. Sepertinya Pilkada masih eksklusif bagi kalangan mereka saja, padahal penulis sedikit berharap ada calon kepala daerah dari golongan anak muda yang integritasnya sudah teruji  berani tampil di panggung Pilkada.

Dengan diperbolehkannya politik dinasti, calon muda yang muncul juga eksklusif berada dalam dinasti kekuasaan, seperti anak kepala daerah maupun anak mantan kepala daerah. Pada Pilkada serentak 2015 yang lalu banyak sekali contoh “pangeran’ naik tahta karena kekuatan dinasti politik orang tuanya.

Menurut penulis, eksklusifitas Pilkada terjadi pertama karena faktor regulasi yang tidak memihak bagi lahirnya sirkulasi elit politik lokal seperti keharusnya bagi PNS, TNI, Polri, pejabat BMUD harus mundur dari jabatannya bila ingin maju pilkada, sehingga para profesional muda harus mengambil kalkulator menghitung lagi untung rugi perjalanan karirnya kedepan. Selain regulasi mekanisme penjaringan partai yang masih tertutup, elitis dan kental mahar politik masih menjadi alasan kuat calon yang muncul 4L (lu lagi lu lagi).

Penulis: Mochammad Farisi, Dosen Fisipol Unja dan Divisi Politik ICMI Orwil Jambi
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments