Sabtu, 14 Desember 2019

"Musim Ramadan"


Kamis, 09 Juni 2016 | 16:09:02 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

MUSIM adalah salah satu pembagian utama tahun berdasarkan bentuk iklim yang luas. Biasanya satu tahun terbagi menjadi empat musim, yaitu: musim semi, musim kemarau, musim hujan, dan musim dingin. Namun musim juga berkonotasi dengan waktu ketika buah-buahan sedang panen, seperti musim durian, musim rambutan, musim duku, musim mangga, musim jengkol, dan sebagainya. Ada juga istilah musim haji, dan musim kawin. Semua kata musim tersebut bisa juga diartikan “banyak”.

Mari kita mulai dari musim semi. Di belahan utara bumi, musim semi dimulai sekitar tanggal 21 Maret hingga 21 Juni, sementara di belahan selatan bumi musim semi dimulai sekitar tanggal 23 September hingga 21 Desember. Musim semi terjadi setelah musim dingin, di mana tumbuh-tumbuhan mekar kembali, karena itulah musim semi juga disebut "musim bunga".

Musim semi membuat siang hari menjadi lebih panjang daripada malam hari. Hawa di musim semi biasanya terasa agak panas karena menjelang musim panas. Berbeda dengan musim gugur, yang udaranya terasa agak dingin karena menjelang musim dingin.

Dihubungkan dengan kata banyak, maka musim semi dapat juga dimaknai banyaknya bunga-bunga bermekaran. Dimohon bunga bermekaran, jangan pula dimaknai banyaknya anak-anak ABG (Anak Baru Gede) yang baru tumbuh kembang.

Lantas kalau musim kemarau, apa yang banyak? Malah tumbuh-tumbuhan banyak yang mati, demikian juga hewan ada pula yang mati kelaparan, tetapi tidak banyak betul, yang jelas tidak bisa dipungkiri fenomena baru yaitu kalau musim kemarau banyak asap. Bahkan ada yang mengatakan musim kemarau identik dengan musim asap.

Kalau musim hujan, sudah pasti dimaknai banyak hujan. Pada musim hujan inilah kadang identik dengan musim kawin, terutama pada binatang kodok, mungkin juga sebagian binatang lain, atau juga manusia. Musim dingin, jika di benua Eropa identik dengan musim salju atau musim dimana banyaknya batu es yang berjatuhan ke bumi sehingga menimbulkan udara dingin. Musim buah-buahan (durian rambutan, mangga, jengkol) sudah jelas saat itu banyak sekali buah-buah tersebut.

Terminologi Musim Ramadan memang belum baku, orisinil hasil renungan penulis sendiri yang ada kaitannya dengan kata “banyak”. Mari kita lihat, jika bulan Ramadan tiba, maka (1) Banyak umat Islam yang ke mesjid, terutama puasa pertama hingga ke lima, mesjid-mesjid penuh sesak karena ummat Islam menunaikan ibadah sholat tarawih. Demikian juga sholat shubuh di bulan ramadhan, walaupun tidak seramai sholat tarawih, namun lebih rame dibandingkan hari-hari biasa. Namun hari ke enam dan seterusnya makin lama makin berkurang saja ummat sholat berjamaah.  

(2) Banyak orang-orang berjualan panganan untuk hidangan berbuka puasa mulai kue, berbagai jenis minuman yang dicampur buah-buahan hinga aneka macam lauk pauk. (3) Banyak orang-orang perantauan mudik ke kampung halaman, fenomena banyak mulai puasa keduapuluh ke atas. (4) Banyak orang-orang berbelanja ke toko pakaian, sepatu dan sebagainya. (5) Banyak toko-toko menjual minuman kaleng, bahkan identik minuman lebaran adalah minuman kaleng. Singkat kata seolah sektor informal menggeliat. Namun herannya harga panganan dan kebutuhan pokok tetap naik, seharusnya seharusnya harga turun, sesuai dengan hukum ekonomi “demand dan supply” semakin banyak permintaan  dan makin banyak persediaan, tentu harga akan turun.

Nyatanya harga naik. Ada pula pengusaha pengadaan sapi malah menyimpan sapi sehingga seolah stok sapi sedikit, maka harga jadi naik. Bukan tak mungkin di bulan puasa ini tingkat inflasi juga terdongkrak naik Ini disebabkan karena penjual (pedagang) menaikkan harga untuk persiapan biaya mudik ke kampung halaman dan menambah biaya lebaran, sebab ketika lebaran di masing-masing rumah memaksakan menyediakan kue-kue lebaran, minuman kaleng untuk menjamu tamu, dan pakaian serta sepatu harus baru juga, kalau perlu keramik lantai, mobil juga harus baru bagi yang memaksakan diri.

Pesan utama yang penulis sampaikan dalam tulisan ini adalah, janganlah Ramadan ini dibuat seperti musiman beribadah, karena kita seharusnya mengabdi kepada Allah sepanjang waktu. Mengapa hanya di bulan Ramadan seolah iman kita meningkat, seharusnya setelah bulan ramadhan iman kita paling tidak mendekati seperti bulan Ramadan.

Kalau bulan puasa Salat Subuh di mesjid dilanjutkan setelah bulan Ramadan. Kalau bulan puasa setiap hari, dilanjutkan dengan puasa sunat setiap senin dan kamis. Kalau biasanya setiap hari masukkan uang celengan ke mesjid, setelah bulan Ramadan dua hari sekali masukkan uang ke mesjid. Kalau bulan puasa tadarus setiap hari, setelah puasa bisa dilaksanakan setiap malam Jumat saja sudah bagus.

Disamping meningkat kualitas ibadah, setelah Ramadan diharapkan pula meningkat kejujuran, kesabaran, meningkat rasa empati kepada sesama, meningkat sikap rendah hati, dan lainnya. Jika sikap dan perilaku ibadah kita tidak ada perubahan setelah bulan Ramadan, berarti kita tergolong dalam kriteria orang-orang yang merugi, karena tidak ada peningkatan (improve).

Berikut penulis tampilkan beberapa pedoman agar tidak menjadi kaum yang merugi :

Tidaklah bergeser telapak kaki bani Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang lima perkara; umurnya untuk apa ia gunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan, dan untuk apa ia belanjakan, serta apa yang ia perbuat dengan ilmu-ilmu yang telah ia ketahui.

(HR. At Tirmidzi no. 2416 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 947) Kemudian Allah menyebutkan ayat berikutnya: إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi.” Lafazh al insan pada ayat di atas secara kaidah tata bahasa Arab mencakup keumuman manusia tanpa terkecuali. Allah tidak memandang agama, jenis kelamin, status, martabat, dan jabatan, melainkan Allah mengkhabarkan bahwa semua manusia itu dalam keadaan celaka kecuali yang memilki empat sifat yang terdapat pada kelanjutan ayat tersebut.

Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bermacam-macam, bisa kerugian yang bersifat mutlak, seperti keadaan orang yang merugi di dunia dan di akhirat, yang dia kehilangan kenikmatan dan diancam dengan balasan di dalam neraka jahim. Dan bisa juga kerugian tersebut menimpa seseorang akan tetapi tidak mutlak hanya sebagian saja.

(Taisir Karimirrahman, karya Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di) Pertama: Keimanan Sifat yang pertama adalah beriman, diambil dari penggalan ayat: إِلاَّ الَّذيْنَ ءَامَنُوْا “Kecuali orang-orang yang beriman” Iman adalah keimanan terhadap seluruh apa yang Allah perintahkan untuk mengimaninya, dari beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir, serta segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada Allah dari keyakinan-keyakinan yang benar dan ilmu yang bermanfaat. Penggalan ayat di atas memiliki kandungan makna yang amat berharga yaitu tentang kewajiban menuntut ilmu agama yang telah diwariskan oleh Nabi. Mengapa demikian? Tentu, karena tidaklah mungkin seseorang mencapai keimanan yang benar dan sempurna tanpa adanya ilmu pengetahuan terlebih dahulu dari apa yang ia imani dari Alauran dan As Sunnah.

Allah berfirman (artinya): “Allah bersaksi (bersyahadat untuk diri-Nya sendiri) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia (Allah), para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga bersyahadat yang demikian itu), …” (Ali Imran: 19) Dalam ayat yang mulia ini Allah ? menggandengkan syahadat orang-orang yang berilmu dengan syahadat untuk diri-Nya sendiri dan para Malaikat-Nya. Padahal syahadat laa ilaaha illallaah merupakan keimanan yang tertinggi.

Hal ini menunjukkan tingginya keutamaan ilmu dan ahli ilmu. Bahkan para ulama menerangkan bahwa salah satu syarat sahnya syahadat adalah berilmu, yaitu mengetahui apa ia persaksikan. Sebagaimana firman Allah ?: إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ ÙˆÙŽ هُمْ يَعْلَمُوْنَ “Kecuali barangsiapa yang bersyahadat dengan haq (tauhid), dalam keadaan mereka mengetahuinya (berilmu).” (Az Zukhruf: 86) Sehingga tersirat dari penggalan ayat: إِلاَّ الَّذيْنَ ءَامَنُوْا kewajiban menimba ilmu agama. Terlebih lagi Rasulullah ? menegaskan dalam haditsnya: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ “Menuntut ilmu (agama) adalah fardhu (kewajiban) atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224)

Kedua: Beramal shalih Sifat yang kedua adalah beramal shalih, diambil dari penggalan ayat (artinya): وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ “Dan beramal shalih.” Amalan shalih itu mencakup amalan zhahir yang dikerjakan oleh anggota badan maupun amalan batin, baik amalan tersebut bersifat fardhu (wajib) atau pun bersifat mustahab (anjuran). Keterkaitan antara iman dan amal shalih itu sangatlah erat dan tidak bisa dipisahkan. Karena amal shalih itu merupakan buah dan konsekuensi dari kebenaran iman seseorang. Atas dasar ini para ulama’ menyebutkan salah satu prinsip dasar dari Ahlus Sunnah wal jama’ah bahwa amal shalih itu bagian dari iman. Iman itu bisa bertambah dengan amalan shalih dan akan berkurang dengan amalan yang jelek (kemaksiatan).

Oleh karena itu, dalam Alquran Allah banyak menggabungkan antara iman dan amal shalih dalam satu konteks, seperti dalam ayat ini atau ayat-ayat yang lainnya. Diantaranya firman Allah (artinya): “Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97) Berkata Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di: “Jika dua sifat (iman dan amal shalih) di atas terkumpul pada diri seseorang maka dia telah menyempurnakan dirinya sendiri.” (Taisir Karimirrahman)

Ketiga: Saling menasehati dalam kebenaran merupakan salah satu dari sifat-sifat yang menghindarkan seseorang dari kerugian adalah saling menasehati diantara mereka dalam kebenaran, dan di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah serta meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Nasehat merupakan perkara yang agung, dan merupakan jalan rasul di dalam memperingatkan umatnya, sebagaimana Nabi Nuh ketika memperingatkan kaumnya dari kesesatan: “Dan ku memberi nasehat kepada kalian.” (Al A’raaf: 62).

Kemudian Nabi Hud yang berkata kepada kaumnya: “Aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” (Al A’raaf: 68) Dengan nasehat itu maka akan tegak agama ini, sebagaimana sabda Rasulullah di dalam haditsnya: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ “Agama ini adalah nasehat” (H.R Muslim no. 90 dari shahabat Tamim Ad Daari ?) Bila nasehat itu mulai kendor dan runtuh maka akan runtuhlah agama ini, karena kemungkaran akan semakin menyebar dan meluas. Sehingga Allah melaknat kaum kafir dari kalangan Bani Israil dikarenakan tidak adanya sifat ini sebagaimana firman-Nya (artinya): “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka perbuat.” (Al Maidah: 79).

Demikian pula orang-orang munafik yang diantara mereka saling menyuruh kepada perbuatan mungkar dan melarang dari perbuatan yang ma’ruf, Allah telah memberitakan keadaan mereka di dalam Alquran, sebagaimana firman-Nya (artinya): “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh kepada perbuatan yang mungkar dan melarang dari perbuatan yang ma’ruf.” (At Taubah: 67)

Keempat: Saling menasehati dalam kesabaran Saling menasehati dalam berbagai macam kesabaran, sabar di atas ketaatan terhadap Allah dan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, sabar terhadap musibah yang menimpa serta sabar terhadap takdir dan ketetapan-Nya. Orang-orang yang bersabar di atas kebenaran dan saling menasehati satu dengan yang lainnya, maka sesungguhnya Allah telah menjanjikan bagi mereka pahala yang tidak terhitung, Allah ? berfirman (artinya): “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar:10)

Jika telah terkumpul pada diri seseorang keempat sifat ini, maka dia telah mencapai puncak kesempurnaan. Karena dengan dua sifat pertama (iman dan amal shalih) ia telah menyempurnakan dirinya sendiri, dan dengan dua sifat terakhir (saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran) ia telah menyempurnakan orang lain. Oleh karena itu, selamatlah ia dari kerugian, bahkan ia telah beruntung dengan keberuntungan yang agung. Wallahu A’lam.
              
Demikianlah para pembaca sedikit dari apa yang kami sampaikan mengenai tafsir Surat Al ‘Ashr semoga dapat memberikan bimbingan kepada kita semua di dalam menempuh agama yang telah diridhai oleh Allah ? ini. Dan tentunya kita berharap agar dapat memiliki 4 sifat yang akan menyelamatkan kita dari kerugian baik di dunia maupun di akhirat. Amin, Ya Rabbal ‘alamin.


Penulis: Navarin Karim, Dosen FISIPOL Universitas Jambi dan Ketua Penulis Opini Jambi (Pelanta, NIA 201307002
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments