Selasa, 12 November 2019

Optimalisasi Pengumpulan Zakat Mal

Oleh : Navarin Karim

Selasa, 28 Juni 2016 | 13:50:54 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

AGAMA Islam dengan segala pengaturannya telah mengantisipasi bagaimana penerapan ekonomi kerakyatan demi kemaslahatan umat.  Salah satunya adalah melalui pembagian zakat fitrah dan mal kepada para fakir miskin dan kalangan duafa dan papa.

Walaupun zakat tersebut tidak membuat mereka menjadi mapan, paling tidak dapat merasakan bersama umat Islam lainnya dalam kegembiraan  merayakan hari kemenangan (Idul Fitri). Penarikan zakat mal yang diperoleh dari para mustahiq (muzakki) belumlah  optimal. Hal ini disinyalir persoalan kejujuran para mustahiq yang tidak membayar keseluruhan harta kekayaannya secara benar, bahkan adapula yang beranggapan bahwa pembayaran zakat fitrah saja kewajiban mereka.

Kalau dikalkulasi pembayaran zakat fitrah itu hanya sepersepuluh, mungkin juga seperseratus  atau seperseribu dari zakat mal yang seharusnya dibayar oleh para muzakki. Hal ini terjadi karena pemahaman dari masyarakat Islam secara kaffah tentang zakat masih sangat minim. Kalaulah seluruh masyarakat beragama Islam (kalangan the have) membayar zakat mal secara benar bukan tidak mungkin membantu pemerintah dalam mengeliminir kemiskinan.  

Selama ini para pengumpul zakat (amil) hanya menekankan pembayaran zakat fitrah, tetapi tidak pernah bertanya secara asertif kepada para muzakki tentang zakat mal yang harus dibayar. Kalau perlu para amil diajarkan dan dilatih menghitung harta kekayaan setiap masyarakat yang tinggal di lingkungan tersebut.

Mereka diajarkan menaksir berapa kekayaan dan menentukan berapa pembayaran zakat mal minimal yang harus dibayar. Selanjutnya para amil secara proaktif (jemput bola) terhadap para wajib zakat (mustahiq). Profesionalitas para amil sudah waktunya dibekali, dan para amir yang direkrut harus diseleksi sedemikian rupa terutama berkaitan dengan kejujurannya dan dedikasinya untuk berbagi kepada sesama. Intinya para amil tidak pasif menunggu saja ummat membayar zakat fitrah dan zakat mal.

Mari kita lihat sepintas kisah seorang Amil penarik zakat mal  yang terjadi masa kehidupan Rsullullah Muhammad SAW  berikut ini:
Alkisah, Ubaidillah selaku amil zakat telah menghitung secara detail untuk menentukan zakat mal yang harus dibayar oleh muzakki (pembayar zakat). Suatu ketika ia mendapat muzakki yang complain setelah ditaksir berapa besaran zakat mal yang harus dibayarnya. Dia mengatakan kalau kewajibannya membayar zakat hanya seekor unta usia 1 tahun 2 bulan kurang terasa manfaatnya, karena unta seusia demikian belum bisa dimanfaatkan untuk alat transportasi dan susunya juga belum dapat dimanfaatkan.

Selanjutnya dia mengusulkan untuk membayar zakat lebih dari itu. Amil tidak dapat memutuskan, kemudian beliau menemui Nabi Muhammad SAW untuk minta nasehat. Nabi membolehkan permintaan Muzakki.

Dari kisah  ini ada beberapa hal yang dapat kita jadikan panutan: Pertama, amil yang jujur tidak korup. Sebenarnya tanpa konsultasi dengan Nabi Muhammad, dia bisa mengiyakan kemauan dari muzakki, kemudian dia menyetorkan ke kas negara (Baitul Mal) pembayaran minimal dari muzakki.

Namun hal itu tidak mau dia lakukan karena dia jujur kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.  Kedua, amil yang profesional. Sebelum mendatangi muzakki dia sudah melakukan penaksiran (apraisal) berapa jumlah minimal yang harus dibayar oleh muzakki. Bukan sebaliknya muzakki yang menentukan berapa jumlah yang harus dibayar.

Seperti yang terjadi di kalangan pembayar zakat mal di Indonesia umumnya dan di Jambi khususnya. Ketiga, kita masih menemukan seorang muzakki yang pemurah, dengan prinsip banyak memberi. Mungkin keyakinan yang telah tertanam pada dirinya jika kita pandai  bersyukur, maka Allah akan melipatgandakan rezeki kita. Seperti keran air, jika keran dibuka kecil, maka air yang menetes sedikit.

Namun jika kita membuka keran lebih besar, maka air  yang keluar juga akan semakin besar. Mudah-mudah dengan alkisah di atas, dapat memberi inspirasi dan hikmah kepada wajib zakat, sebagai berikut: Pertama, kepada para Muzakki diharapkan  mengeluarkan zakat mal lebih banyak lagi. Minimal setara dengan penaksiran amil.

Kedua, sudah saatnya pola penarikan zakat mal oleh para amil diubah sedemikian rupa, bukan diminta kesadaran muzakki, tetapi diketuk hati para Muzakki untuk membayar zakat mal.

Jangan diam saja jika para muzakki hanya membayar kewajiban zakat fitrah, tanpa menyinggung sedikitpun kewajiban para muzakki terhadap zakat mal.  Di sini perlu kemampuan amil selaku komunikator menyampaikan kepada muzakki agar mau membayar zakat mal secara ikhlas.

Ketiga, sudah saatnya memberi pelatihan kepada para amil agar lebih profesional. Jika perlu mendatangkan narasumber dari Kementerian Agama dan atau dari perguruan tinggi Islam. Keempat, sosialisasi yang intensif dan meluas harus makin digalakkan baik melalui media massa, media elektronik, media maya dan melalui mesjid, langgar atau surau tentang kewajiban dari seluruh umat Islam yang mampu untuk mengeluarkan zakat fitrah dan zakat mal.

Kelima, perlu diajarkan secara dini di Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi pada pelajaran agama disisipkan materi tentang kewajiban umat Islam membayar zakat fitrah dan zakat mal. Last but not least, para amil juga harus paham  golongan (asnab delapan) yang berhak sebagai penerima zakat fitrah dan zakat mal. Hal ini jangan disepelekan,  karena akan terasa sia-sia sudah berhasil mengumpulkan zakat tetapi tidak didistribusikan dan dialokasikan secara baik kepada asnab yang delapan.


Penulis: Navarin Karim, Dosen FISIPOL Universitas Jambi dan Ketua Penulis Opini Jambi (Pelanta, NIA 201307002
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments