Jumat, 20 September 2019

Perjuangan Mendapatkan Iman


Senin, 11 Juli 2016 | 15:03:09 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

Kamis (30/6), setelah Salat Subuh berjamaah dan mendengarkan taklim subuh, kami jamaah Masjid Muhajirin Perumnas Kotabaru selalu mengadakan mudzakarah dan musyawarah. Salah satunya menentukan siapa yang akan mengisi taklim selepas Salat Ashar. Hasilnya saya yang ditunjuk oleh Amir, subhanallah.

Bagi orang yang menggeluti dunia hukum dan politik (tidak bergelar ustad) seperti saya, memberikan taklim adalah sesuatu yang menantang. Meskipun hanya sebentar (10-15 menit), saya harus menentukan tema yang pas (kekinian) dan tentunya juga berdasarkan referensi yang sahih. Akhirnya saya memilih tema ini “Perjuangan Mendapatkan Iman” karena berdasarkan pengalaman pribadi yang penulis rasakan dan pengamatan kondisi sosial masyarakat. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Bagi seorang muslim, kita diciptakan di dunia ini untuk beribadah kepada Allah, namun kebanyakan dari kita lalai dan lebih mementingkan urusan duniawi. Mengapa kita lalai? Karena iman kita lemah. Jika diibaratkan handphone, maka iman ini adalah baterai yang harus selalu dicas setiap hari supaya aktifitas kita tidak hanya bernilai duniawi, tetapi juga bernilai ibadah kepada Allah.

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Jadi, sudah jelas bahwa kita ini makhuk lemah yang harus terus menerus mengecas dan meng-upgrade fitur-fitur keimanan kita (mempelajari adab dan sunnah seperti; adab makan, adab istinja’, adab perjalanan, adab berpakaian, adab pergaulan dalam keluarga, adab mendidik anak, dsb).

Pada umumnya sifat iman manusia itu fluktuatif “Iman adalah perkataan dan perbuatan, iman dapat bertambah dan berkurang.” (Hr. Bukhari). Iman para nabi dan rasul selalu bertambah tidak pernah berkurang, iman para sahabat naik turun, tetapi iman umat akhir zaman keluar masuk. Artinya, kadang rajin beribadah tapi adakalanya malas. Tetapi ada juga yang jarang atau bahkan tidak pernah beribadah sama sekali dan hanya sibuk dengan urusan dunia.

Saya yakin kita semua pasti pernah merasakan fluktuatif-nya iman kita. Mari kita coba evaluasi mengapa iman kita lemah dan apa saja ibadah yang kita lakukan selama satu hari?

Pertama salat. sudahkah kita salat 5 waktu? Sudahkah di awal waktu dan berjamaah di masjid? Yang lebih penting lagi, apakah salat yang kita lakukan hanya karena kewajiban atau kebutuhan?

Kedua, sebarapa sering kita membaca Alquran? Pernah coba memahami dan mengamalkan ayat/surat yang kita baca? Yang ketiga, seberapa sering anda berdzikir menyebut Asma Allah? Pernahnya anda dalam satu hari membaca kitab-kitab tentang agama atau mendengarkan ceramah agama? Anda jawab sendiri dengan jujur.

Jadi, iman kita ini lemah karena kita jarang atau sama sekali tidak berfikir tentang akhirat dan hanya sibuk dengan urusan dunia. Bagaimana kita akan berfikir tentang akhirat atau agama Allah kalau setiap hari mulai bangun sampai tidur kembali yang kita lihat, kita dengar, dan kita perbincangkan hanya masalah dunia.

Coba kita renungkan mulai bangun tidur yang dilihat handphone (bukan membaca doa dan bersyukur masih diberikan kesempatan  hidup), kemudian mengurus rumah, anak/suami, mandi, mengantar anak sekolah dan pergi kekantor. Sampai di kantor yang dibahas tentang bisnis, perdagangan, politik, dan urusan dunia lainnya.

Begitu juga ibu-ibu, sibuk dengan televisi acara sinetron dan infotaintment, bahkan ngerumpi dengan tetangga. Sore pulang dan sampai di rumah melihat televisi dan tidak membicarakan masalah akhirat. Begitulah hampir setiap hari, setiap bulan dan setiap tahun. Astagfirulah.

Mungkin beberapa orang yang taat, kegiatannya sehari-hari diselingi salat fardhu 5 waktu. Namun begitu kualitas salat 5 waktunya baru sebatas kewajiban (selingan) dan itu tidak cukup untuk meningkatkan Iman kita.

Seperti disampaikan di awal tadi, bahwa iman kita ini harus terus dicas setiap hari agar selalu penuh dan semangat dalam beribadah. Namun sayangnya yang penulis amati, kebanyakan kita mengecas iman kita hanya seminggu sekali yaitu pada saat Salat Jumat. Saat itulah kita baru mendengarkan ceramah agama yang mengingatkan dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, itupun kadang-kadang kita gagal fokus karena tertidur sehingga pulang Jumatan tidak membawa apa-apa (iman kita tidak ter-upgrade).

Iman akan terpelihara apabila berada di tempat yang ada suasana iman. Bagaimana bisa mendapatkan iman di dalam rumah jika tidak ada suasana iman? Yang ada hanya suasana televisi, musik, dan ornemen-ornamen dunia seperti foto keluarga, patung-patung, dan perabot yang sama sekali tidak membuat kita mengingat Allah.

Bagaimana kita bisa mendapatkan iman kalau aktivitas kita lebih sering mengunjungi hal-hal duniawi; kantor, mall, karaoke, hotel, restoran, dll. Bahkan saat ini suasana iman sudah mulai hilang didalam masjid, berganti dengan suasana duniawi. Karena tidak ada dakwah ilallaah, maka orang-orang sibuk membicarakan kehebatan makhluk, teknologi dan sebagainya didalam masjid.

Ketika di dalam masjid tidak boleh membicarakan masalah dunia, “akan datang suatu masa pada manusia, dimana pembicaraan mereka dimasjid hanya tentang urusan dunia semata, Allah tidak menghendaki ini dan janganlahh kamu duduk bermajelis dengan mereka” (Hr. Hakim dan Thabrani).

Rasulullah senantiasa mengingatkan kita untuk terus memperbaharui kualitas iman. Iman ini akan kadaluarsa bila kita tidak berusaha mencari manfaat atau manisnya dari iman yang kita miliki. “orang yang dapat merasakan manisnya iman adalah orang yang meyakini Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai cara hidupnya dan Muhammad sebagai Rasul-Nya” (Hr. Muslim dan Tirmidzi).

Di dunia ini orang-orang rela mengorbankan waktu, harta, keluarga, dan dirinya untuk mendapatkan sederet gelar di belakang namanya agar dimuliakan oleh manusia. Padahal bila kita berkorban untuk mendapatkan iman yang berderajat taqwa, maka kita akan dimuliakan oleh Allah dan seluruh makhluk-Nya “sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu” (Qs. Al Hujarat:13).

Maka untuk meningkatkan kadar keimanan kita, menurut penulis yang harus dilakukan adalah; mari kita berkumpul dengan orang-orang sholeh, yaitu para ustad, ulama dan kyai, hadir dalam majelis-majelis Allah (pengajian, ceramah agama, dll), mendengarkan taklim selepas magrib di masjid dan mencari teman atau sahabat yang bisa mengingatkan kita kepada Allah, karena "Sebaik-baik teman adalah yang mengingatkan kita kepada Tuhan, Lisannya menambah ilmu dan yang amalannya mengingatkan kita akan akhirat". (HR. Ath Thabrani).

Teman yang senantiasa mengingatkan kita saat kita salah, dan teman yang mencegah kita berbuat hal-hal bathil yang mendatangkan dosa dan murka Allah.

wallahu a'lam bish-shawab.
 

 

 

 


Penulis: Mochammad Farisi, SH, LL.M, Dosen Fisipol Unja
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments