Sabtu, 4 April 2020

Sering Lembur? Waspada Risiko Diabetes


Rabu, 09 November 2016 | 14:21:11 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

Era modern membuat  wanita  tidak lagi hanya berada di dapur, karena tidak sedikit dari mereka yang berkiprah dalam karirnya.  

Bahkan, tak sedikit  profesi di luar  membuat wanita harus lembur dalam bekerja. Lembur tengah malam dikhawatirkan membuat tubuh mudah lapar sehingga memiliki potensi risiko diabetes lebih besar.

Ketua Jakarta Diabetes Meeting (JDM) 2016, Dr. dr. Rr. Dyah Purnamasari Sulistianingsih, SpPD-KEMD, menjelaskan wanita sebaiknya jangan sampai betubuh gemuk. Kegemukan akan membuat hormon estrogen berkurang.

“Kesehatan wanita cukup menarik ya. Karena mereka mengalami fase perubahan hormonal. Pubertas, menstruasi, reproduksi, hamil, menopause. Sehingga lebih rentan bagi perempuan terpapar penyakit,” katanya, dikutip dari Jawapos.com Rabu  (9/11).

Idealnya wanita dengan siklus menstruasi yang masih subur dan teratur, harus lebih terlindungi dari masalah jantung dan pembuluh darah. Namun jika tubuh gemuk, maka massa lemak bertambah.

“Akibatnya akan mengeluarkan faktor-faktor peradangan. Akan membebani pembuluh darah dimana-mana. Akan menghilangkan potensi dari estrogen,” jelasnya.

Lalu pada wanita lembur dengan tidur kurang dari 5 jam, angka kejadian gangguan jantung akan lebih tinghi dari yang tidurnya cukup. Lembur akan membuar hormon stres meningkat, meningkatkan peradangan gula darah dan tekanan darah.

“Tubuh kita sudah berirama waktunya malam istirahat. Pagi bekerja. Kalau masih bekerja malam hari, maka akan bertambah rasa lapar. Karena itu perawat ada jam jaga, ada shift pagi sore dan malam. Setelah selesai lembur, dapat tidur satu hari untuk menjaga keseimbangan hormon,” kata Dyah.

Menurut Dyah, hal ini juga menjadi jembatan bagi penyakit lainnya seperti diabetes. Apalagi saat tubuh kelebihan berat badan dan kurang olahraga.

“Lingkar perut wanita yang jauh lebih besar menjadi jembatan keledai berpotensi diabetes. Apalagi saat ibu-ibu melahirkan lalu berat badannya usai melahirkan tidak bisa kembali seperti semula maka akan permudah faktor risiko,” tegas Dyah.


Penulis: (cr1/JPG)
Editor:
Sumber: jawapos.com

TAGS:


comments