Senin, 6 April 2020

Rokok Elektrik Juga Mengancam Kesehatan


Senin, 14 November 2016 | 14:40:33 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / drake

ROKOK elektrik atau biasa disebut vapor sudah menjadi gaya baru para perokok. Malahan, alat hisap ini dipercaya lebih aman ketimbang rokok konvensional. Vapor kini jadi pilihan sejumlah kalangan.

Namun, anggapan bahwa vapor lebih aman digunakan ternyata salah. Hal itu disampaikan Donni Irfandi Alfian, dokter spesialis paru dan pernapasan, RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS), Samarinda.

“Rokok elektronik tetap mengandung nikotin dan zat berbahaya lain. Zat tersebut bersifat karsinogenik atau pemicu kanker,” jelas Donni kepada Kaltim Pos (Jawa Pos Group).

Dia menjelaskan, efek terhadap orang lain tetap ada. Mengingat benda ini juga menghasilkan emisi partikel halus nikotin dan zat berbahaya lain ke udara di ruang tertutup.

Nikotin menyebabkan seseorang ketagihan. Selain candu, nikotin menyebabkan peningkatan adrenalin dan tekanan darah tinggi.

Sedangkan cairan propylene glycol pada vapor merupakan zat yang menyebabkan iritasi jika terhirup. Biasanya, zat ini dipakai untuk pembuatan sampo, pengawet makanan, hingga pelarut makanan.

Meskipun menghasilkan uap, efeknya juga berbahaya. Khususnya bagi mereka yang memiliki penyakit paru-paru.

Misalnya asma, bronkitis, pneumonia, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Sebab, uap yang dihasilkan dapat menimbulkan serangan asma, sesak napas, dan batuk.

“Risiko lainnya adalah cedera. Bisa saja rokok elektrik tersebut bermasalah. Misalnya meledak, bisa saja melukai penggunanya,” ucap Donni.

Dia mengatakan, efek rokok memang tidak langsung dirasakan tubuh. Biasanya, dampak tersebut dirasakan dalam jangka 5 hingga 15 tahun sejak mulai merokok.

Bila ingin berhenti mengurangi kebiasaan merokok, sebutnya, bukanlah beralih ke rokok elektrik. Ada beberapa tahap yang bisa dipilih para perokok.

“Pertama dengan cara berhenti merokok sama sekali atau mengurangi secara bertahap. Hal ini bergantung pada keinginan. Cara lain dengan diberikan obat-obatan,” sebutnya.

Dia melanjutkan, dokter tak akan langsung meresepkan obat. Mulanya pasien ketergantungan rokok akan melakukan konseling.
Pada proses ini, kata dia, dokter akan mempelajari kondisi pasien dan menentukan treatmentyang tepat. Di AWS, pelayanan ini diberikan di Poli Paru.

“Bila termasuk perokok berat, kami akan memberikan obat pengganti nikotin. Bukan menganjurkan untuk beralih ke rokok elektrik,”  kata dia.

Sementara itu, Narendra, salah seorang pengguna vapor mengatakan, masih banyak yang belum paham dampak buruk vapor bagi kesehatan. Karena itu, dia dan beberapa pengguna lainnya masih menggunakan vapor.

Mahasiswa asal Kutai Kartanegera itu menuturkan, asap rokok memang jauh lebih perih jika terkena mata. Selain itu, juga menyesakkan dada.

“Saya pernah merokok satu jam sebelum tidur, paginya tenggorokan pasti terasa cekat dan bibir kering,” ungkapnya.  

Dia menyebutkan, vapor memang tidak menghasilkan bau. Dikarenakan terdapat cairan yang menghasilkan aroma harum sehingga tidak berbahaya bagi perokok pasif.

Namun, sambung Narendra, cairan vapor memang mengandung nikotin. Tetapi tidak mengandung TAR, seperti yang terdapat pada rokok biasa. TAR membuat seseorang rawan terkena kanker.

“Bukan nikotin, kalau nikotin itu hanya sebagai rasa kimia yang membuat orang ketagihan,’’ sebutnya.  

Pengguna vapor lainnya dari Samarinda, Riri mengungkapkan, aktivitas yang dilakukan hampir sama dengan menghirup sisha. “Banyak varian rasanya. Seperti berbagai macam rasa buah,’’ terangnya.


Penulis: (*/roe/*/rha/riz/k18/fab/JPG)
Editor:
Sumber: jawapos.com

TAGS:


comments