Senin, 26 Oktober 2020

Debat Pilkada, Siapa Paling Kinclong?


Selasa, 17 Januari 2017 | 10:15:22 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa


Tujuan beretorika dalam debat adalah mempengaruhi audiance untuk memilihnya, cara merebut hati masyarakat sebenarnya tidak sulit, pelajari isu-isu apa saja yang menjadi pokok persoalan di masyarakat (misalnya kestabilan harga perkebunan, infrastuktur jalan, pelayanan publik, dll), kemudian analisis dan buat ide-ide atau terobosan yang solutif.

Sewaktu menjadi tim ahli debat Pilkada 2015, tidak sedikit tim sukses yang menghubungi penulis dan bertanya bocoran soal pertanyaan dalam debat. Tentu penulis menolak secara halus dan mengatakan bahwa selama visi, misi, dan program memang dibuat oleh sang calon dan betul-betul hadir sebagai solusi dari permasalahan masyarakat, calon tidak akan kesulitan menjawab pertanyaan dalam debat.

Retorika sudah berkembang sejak abad ke 5 SM di kalangan kaum sufis Yunani dengan mengajarkan pengetahuan tentang politik dan pemerintahan khususnya kemampuan berpidato. Georgias tokoh sofisme Yunani mengatakan bahwa “kebenaran suatu pendapat hanya dapat dibuktikan jika tercapai kemenangan dalam pembicaraan”.

Untuk itu tidak tabu dalam suatu debat mengkritik program calon lain, yang dirasa tidak masuk akal, tidak menjelaskan langkah kongkrit atau hanya ditataran teori dan terkesan normatif saja. Untuk menggairahkan suasana debat justru para calon harus menampilkan keunggulan diferensiasi program jangan menghindari debat dan boleh saling serang tapi tetap santun dan beretika.

Apakah debat mempengeruhi pemilih ?

Studi-studi yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa dabat tidak banyak mempengaruhi pemilih, kecuali bagi massa yang belum menentukan pilihan (undecided atau swing voters). Pada umumnya pemilih telah menetapkan pilihan sebelum dilakukan kampanye, sehingga sebenarnya debat hanya mempertegas pilihan masyarakat saja.
Penilaian siapa yang menang dan kalah debat tergantung para pendukung masing-masing calon. Namun begitu, acara debat pilkada menurut penulis tetap penting ditradisikan untuk membuat demokrasi Indonesia semakin sehat dan berkuwalitas serta mengetahui bagaimana karakter, integritas dan komitmen masing-masing calon.

*Penulis adalah Dosen Fisipol Unja


Penulis: Mochammad Farisi, LL.M*,
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments