Jumat, 13 Desember 2019

Ring Tinju (Debat Kandidat) Kab. Tebo


Senin, 30 Januari 2017 | 13:56:12 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

TIGA hari sebelum hari H debat, penulis mendapat undangan untuk menghadiri Debat Pilkada Kabupaten Tebo sebagai Sekjend Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi (KOPIPEDE) Jambi. Sebagai dosen Fisipol Unja tentu acara debat politik menjadi passion penulis, dengan difasilitasi teman-teman KPU Provinsi Jambi penulis berkesempatan hadir dan merekam jalannya “tinju terbuka” pasangan calon.

Di dalam kendaraan menuju kompleks perkantoran Bupati Tebo tempat acara debat, penulis mendapat informasi bahwa debat akan berlangsung panas dengan dibumbui kasus-kasus personal yang melibatkan pasangan calon. Isu yang berkembang akan ada pemadam listrik, pemasangan spanduk provokasi, dll.

Sampai di lokasi acara suasana pengamanan aparat gabungan sangat ketat, menggambarkan debat memang akan berlangsung panas. Dan memang debat berjalan cukup panas, namun bukan karena paslon tapi karena AC ruangan yang tidak berfungsi maksimal.

Debat Pilkada Kabupaten Tebo malam tadi menurut penulis berjalan cukup berkelas. Penulis yakin masing-masing paslon telah melakukan persiapan debat dengan cukup matang. Debat dimulai dengan penyampaian visi misi pasangan nomor urut satu, Hamdi dan Harmain dengan setelah baju serasi warna hijau terlihat sangat percaya diri menyampaikan gagasan membangun Tebo lima tahun kedepan dengan visi Bintang dan misi serta program unggulan yang cukup banyak seperti; mendirikan Universitas Tebo, mendirikan pabrik karet dan tepung tapioka, bibit sawit bersubsidi, membangun pembangkit listrik dsb. Cukup menggiurkan.

Pasangan nomor urut dua juga tampil ciamik. Sukandar dan Syahlan menyampaikan visi misi diawali dengan hasil survei tentang persoalan apa yang menjadi prioritas dan kebutuhan masyarakat Tebo. Seperti infrastuktur, sulitnya lapangan kerja, sulit sembako dan kurangnya daya listrik. Paslon nomor dua ingin meyakinkan pemilih bahwa program kerja lima tahun kedapan akan sesuai harapan masyarakat. Retorika Sukandar lebih unggul sedikit, dengan gaya seperti debat Pilakda DKI Sukarda berdiri di depan dan cukup santun dalam berkomunikasi.

Debat sesi berikutnya berjalan cukup hangat. Ibarat tinju, kedua paslon mulai jual beli pukulan, namun paslon nomor urut dua lebih agresif menyerang dengan jap, strike, dan uppercut. Sedangkan sukandar lebih banyak melakukan doublecover namun sesekali membalas dengan jap.

Dari pengamatan penulis paslon nomor urut satu pada segmen II cukup bagus menjawab pertanyaan dari panelis. Namun dalam segmen ke III jawaban cenderung tidak kongkrit, sering melebar dari fokus pertanyaan utama dan tidak memaksimalkan waktu yang diberikan.

Paslon nomor urut satu seakan ingin menyampaikan pesan bahwa saat menjadi wakil bupati (berpasangan dengan Sukandar) tidak banyak dilibatkan dalam pembangunan sehingga ketidakberhasilan pembangunan saat ini bukan salah dia, namun kesalahan Bupati (Sukandar). Karena wakil bupati tidak punya peran strategis dalam membuat kebijakan.

Paslon nomor urut dua jawabannya cenderung normatif di segmen yang ke II, namun disegmen ke III cukup kongkrit dengan memberikan banyak contoh program-program nyata yang sudah dan akan ditingkatkan bila di percaya melanjutkan kembali lima tahun mendatang.

Debat sesi ke IV dan ke V berjalan semakin panas. Para paslon saling serang dan coba menjatuhkan citra lawan dengan negatif campaign (menunjukkan kelemahan-kelemahan lawan politik yang mengandung fakta dan kebenaran). Paslon nomor satu lebih dominan dalam melakukan negatif campaign kepada paslon nomor dua, intinya menurut paslon nomor satu, paslon nomor dua terlalu banyak berjanji dan visi misinya mengandung harapan palsu, kenyataannya janji kampanye lima tahun yang lalu banyak yang tidak terealiasai, misalnya masalah beasiswa, pembangunan tidak merata hanya fokus ke kecamatan-kecamatan tertentu, masalah haji gratis, dsb.

Karena diserang terus menerus, paslon nomor dua cenderung bertahan dan menghabiskan energi untuk mengklarifikasi semua negatif campaign dari paslon nomor satu. Dengan sesekali membalas dengan pukulan tajam tepat ke wajah, misalnya mengatakan bahwa “paslon nomor satu baru memikirkan, kami sudah mengerjakan”.

Penulis sangat menyayangkan banyaknya negatif campaign yang dilakukan paslon. Sebenarnya tidak ada yang salah menggunakan kampanye negatif dalam kampanye debat pilkada, namun harus proporsional dengan lebih banyak menjelaskan program sendiri dengan sesekali menyerang pihak lawan. Dengan banyak mengeksplor program kerjanya sendiri masyarakat bisa lebih yakin akan kualitas paslon. Di segmen terakhir debat, para paslon menutup dengan closing stantment yang sama-sama memukau diselingi saling balas pantun.

Harapan penulis masyarakat Tebo dan daerah lain yang sedang melaksanakan pilkada benar-benar memanfaatkan momen debat pilkada untuk mencermati paslon mana yang paling mempunyai kapabiltas dilihaat dari visi, misi dan program yang masuk akal, dengan indikatif pendanaan sesuai kondisi APBD serta mempunyai indikator pencapaian yang terukur dalam lima tahun mendatang. Ayo jadi pemilih cerdas..memilih calon berkualitas.(***)

*Penulis adalah Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jambi


Penulis: Mochammad Farisi, SH, LL.M*
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments