Selasa, 22 Oktober 2019

KELUARGA BENTENG PERTAHANAN MELAWAN NARKOBA


Rabu, 29 Maret 2017 | 11:21:12 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

DALAM seminar-seminar parenting saya sering bertanya kepada peserta yang hadir, “pernahkah anda melepas dan menyambut anak anda pulang dari sekolah dengan pelukan?”. Hanya ada satu atau dua orang yang menjawab “ya”. Selebihnya tidak. Apa pentingnya pelukan ketika melapas dan menyambut anak anda dari luar rumah? Nampaknya sederhana dan tidak terlalu penting, tapi sesungguhnya memberi dampak yang luar biasa.

Dampak yang paling kasat mata, ketika anak anda mau merokok misalnya, pasti mikir beberapa kali karena dia tahu bahwa nanti aroma rokok tersebut akan tercium saat dipeluk ayah atau ibunya di rumah. Ingat, rokok adalah pintu gerbang menuju penyalahgunaan narkoba. Artinya, dengan menghindarkan anak dari merokok, paling tidak satu pintu telah ditutup.

Secara psikologis pun, dengan memberi pelukan saat hendak pergi dan pulang sekolah kepada anak-anak kita, mereka akan mendapat asupan ‘gizi’ kasih sayang dari keluarga. Sebagaian besar para pecandu narkoba, khususnya bangi anak-anak usia sekolah, adalah anak-anak yang kurang mendapat perhatian dari orang tua atau keluarga. Bisa secara sengaja atau pun tidak sengaja. Sengaja bisa disebabkan terjadinya disharmoni hubungan kedua orang tua (broken home), tidak sengaja dikarenakan kesibukan dalam bekerja. Kedua orang tua sibuk, pergi pagi pulang malam sehingga anak luput dari perhatian.

Perhatian dan kasih sayang orang tua adalah benteng pertahanan terhebat dalam melawan serangan godaan narkoba. Saya selalu tegaskan, uang tidak akan mampu sepenuhnya memberikan kasih sayang yang ingin mereka dapatkan. Uang tidak akan pernah bisa menggantikan pelukan dan belaian orang tua. Uang tidak pula dapat memberikan perhatian kepada mereka. Bahkan sebaliknya, tidak jarang uanglah yang telah menjerumuskan sebagaian besar anak-anak muda kita ke dalam lembah kejahatan penyalahgunaan narkoba. Pemberian uang yang tidak sesuai peruntukannya seringkali menjadi mala petaka bagi mereka.

Hal lain yang sering saya tanyakan adalah tentang kebiasaan makan bersama. Masihkah keluarga anda makan bersama? Minimal satu kali dalam sehari. Mengapa penting? Orang akan mudah terdeteksi kondisi fisik dan psikisnya dari selera makan. Contoh, jika ada anak yang biasa makannya sangat lahap, bahkan beratambuh-tambuh, tiba-tiba tidak selera makan. Ada apa? Bisa karena sakit, atau bisa jadi dia sedang menghadapi masalah dengan teman-temannya. Hal-hal semacam ini bisa terdeteksi sejak dini. Orang tua dapat dengan cepat memberikan perhatian kepada mereka. Jika mereka sedang memiliki masalah, bisa dibantu mencarikan jalan keluarnya.

Namun apa yang terjadi pada keluarga-keluarga ‘modern’ saat ini. Kebiasaan makan bersama sudah mulai ditinggalkan dengan segala kesibukan yang ada. Masing-masing keluarga makan sendiri-sendiri. Padahal, dengan makan bersama pula akan menciptakan nila-nilai kekerabatan dan kebersamaan antar anggota keluarga. Orang tua dapat memberikan perhatikan kepada putera-puteri mereka sambil menyantap hidangan yang tersedia. Melalui momen makan bersama pula orang tua dapat memberikan nasehat-nasehat dan bimbingan kepada anak-anak mereka.

Harus diakui pula, kemajuan teknologi saat ini telah banyak menggeser tatanan kehidupan dalam rumah tangga. Contoh paling sederhana, anggota keluarga telah disibukkan oleh hp mereka masing-masing dengan media sosial yang mereka miliki. Sering kita temui masing-masing onggota keluarga khusuk dengan ‘keluarga’ yang ada di medsos sehingga mengabaikan anggota keluarga di depan mata. Inilah yang sering saya katakan ‘serumah tapi tidak sekeluarga’. Tinggal bersama satu atap, tapi ‘hidup’ dengan orang-orang yang tidak nyata di dunia maya.

Sudah saatnya pula bijak dalam bermedia sosial. Jangan sampai kehilangan kasih sayang dan kehangatan kehidupan dalam keluarga hanya karena asyik bercengkrama dengan orang-orang di dunia maya.

Akhirnya, keluarga adalah benteng pertahanan yang kokoh dalam menjaga anggota keluarga dari ancaman narkoba. Kasih sayang dan perhatian kedua orang tua dan keluarga sangat diperlukan agar anak-anak muda negeri ini tidak kehilangan masa depan. Hidupkan kembali kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga seperti pelukan, makan malam bersama, saling menasehati dan lain-lain. Jangan biarkan pula media sosial membuat anda antisosial.


Penulis: Bahren Nurdin, MA
Editor:


TAGS:


comments