Sabtu, 6 Juni 2020

Terkendala Biaya, Madin di Tanjabtim Jalan di Tempat


Jumat, 31 Maret 2017 | 16:21:50 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

MUARASABAK – Puluhan Madrasah Diniyah (Madin) yang tersebar di setiap kecamatan di Kabupaten Tanjabtim, saat ini aktifitasnya seakan jalan di tempat. Bahkan beberapa diantaranya terpaksa ditutup dan berubah menjadi Taman Pendidikan Al-Qur’an.

Data dari Kemenag Kabupaten Tanjabtim, terdapat sekitar 105 Madin, dimana sebagian besar nyaris tak tersentuh bantuan pemerintah.
Biaya operasional untuk aktifitas belajar mengajar, diserahkan sepenuhnya kepada pihak Madin. Dengan kata lain Pemkab Tanjabtim hanya memberikan bantuan dana insentif untuk guru Madin sebesar Rp 250 ribu perbulan.

Seperti Madin Raudhatul Jannah yang berada di Desa Kuala Dendang. Selama belasan tahun Madin ini hanya memiliki satu guru saja.
Menurut Kepala Madin Raudhatul Jannah M Noor Husein, dirinya pernah mengajak beberapa orang untuk bergabung menjadi tenaga guru. Namun karena faktor gaji yang memang kurang mencukupi, guru tersebut hanya bertahan beberapa bulan saja.

"Karena saya sadar tidak bisa memberikan upah yang layak, akhirnya saya tidak lagi mencari guru tambahan. Terpaksa saya sendiri yang harus mengajar siswa kelas I hingga kelas VI seorang diri," terang M Noor, yang mengaku saat jumlah siswanya mencapai 80 orang lebih.

Sementara itu, Kepala Kemenag Kabupaten Tanjabtim HM Umar Yusuf mengatakan, pihaknya juga mengetahui keluhan para pengelola Madin.
Bahkan setiap tahunnya jumlah Madin di Tanjabtim terus berkurang, salah satu penyebabnya dikarenakan keluhan biaya operasional.

Pada 2013 lalu, di Kabupaten Tanjabtim tercatat ada sekitar 117 Madin. Dari jumlah itu, hanya 95 Madin saja yang aktif. "Saat ini, diatas kertas jumlah Madin ada 105. Tapi yang aktif hanya sekitar 90 lebih saja," jelasnya.

Menurutnya, dari seluruh Madin yang ada, hanya sekitar 40 persen saja yang mengambil kebijakan untuk memungut biaya bulanan kepada siswanya. Hal ini tak lain untuk mengurangi beban biaya operasional.

"Madin yang tutup atau pasif, kendala utamanya karena jumlah murid terus berkurang. Akhirnya lama-lama Madin itu tutup dengan sendirinya," katanya.

"Belum lagi persoalan tenaga pengajar, guru Madin itu sangat sulit mencarinya, karena faktor gaji bulanan yang memang belum layak," katanya.


Penulis: Nanang Suratno
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments