Sabtu, 22 September 2018

UIN STS JAMBI MILIK BERSAMA


Kamis, 06 April 2017 | 12:02:25 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

PERJALANAN panjang alih status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) akhrinya menemukan muara dengan diterbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 37 tahun 2017. Perpres ini tentu menjadi sejarah baru bagi civitas akademika perguruan tinggi Islam tertua di Provinsi Jambi ini. Begitu pula masyarakat Provinsi Jambi, boleh berbangga hati karena saat ini telah memiliki universitas Islam seperti halnya provinsi-provinsi lain di tanah air. Sejarah bermula.

Keberadaan UIN ini tentunya harus mendapat dukungan seluruh elemen masyarakat Jambi sehingga tercipta rasa kepemilikan (‘sense of belonging’) dan menjadi kebanggaan semua. Mampu merasakan bahwa UIN ini adalah milik bersama. Dengan cara ini tentunya akan dapat mendorong percepatan pembangunan dan pengembangan institusi pendidikan ini ke depannya. Masing-masing elemen masyarakat dapat dipastikan memiliki peran dan kontribusi sesuai kadarnya masing-masing.

Civitas Akademika UIN
Para penghuni kampus ini harus terus berbenah diri untuk meningkatkan kapasitas dalam segala lini. Beberapa waktu lalu saya pernah menulis sebuah artikel yang berjudul “UIN STS Jambi; Sudah Siapkah?”. Catatan yang ingin saya sampaikan melalui artikel tersebut adalah bagaimana orang-orang yang berada di dalam lembaga ini benar-benar mampu merubah mindset yang ada. Sekali lagi, merubah mindset (pola pikir). Jangan sampai status berubah menjadi UIN tetapi mindset yang terbangun tetap IAIN. Itu namanya UIN rasa IAIN. Inilah tugas yang tidak kalah berat dibanding mempersiapkan segala persyaratan administrasi yang telah ditetapkan negara.

Mindset semacam apa yang harus dibangun? Hal yang sangat mendesak untuk dilakukan adalah dengan meningkatkan kinerja dan menyatukan visi dari setiap insan yang ada. Seluruh kegiatan kampus ini harus berorientasi akademis. Apa pun yang direncanakan dan dilakukan harus dalam kerangka menunjang kegiatan akademis. Tri Dharma Perguruan Tinggi (pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat) harus betul-betul menjadi rujukan utama dalam melaksanakan segala akativitas kampus.

Kebersamaan dan kekeluargaan juga konsilidasi semua ‘blok’ sudah harus dilakukan. Politik kampus yang cenderung memecah belah sudah harus ditinggalkan. Hanya persatuan dan kesatuanlah yang akan dapat membantu institusi ini dapat bertumbuh dengan baik. Tidak ada pula ada yang boleh merasa paling berjasa dalam alih status ini. Ingatlah, alih status ini telah melalui jalan panjang. Pasti sudah banyak para pejuang yang berbuat. Saling berangkulan satu sama lain adalah jalan terbaik.

Pemerintah Daerah
‘Sense of belonging’ akan UIN ini harus juga dimiliki oleh pemerintah daerah. Paling tidak dalam hal ini Pemerintah Daerah Provinsi Jambi dan Pemerintah Daerah Kabupaten Muaro Jambi. Secara geografis, UIN STS Jambi berada di wilayah Pemda Kabupaten Muaro Jambi. Sungguh ada begitu banyak hal yang dapat dilakukan dan saling menguntung jika kerja sama antara pemda dan UIN dapat berjalan dengan baik. Kampus merupakan ‘gudang’ cendikiawan yang siap berkontribusi kepada pembangunan daerah. Daerah juga memiliki kebijakan-kebijakan yang dapat memajukan bidang pendidikan.

Selama ini, kerjasama antara Pemda Kabupaten Ma. Jambi sudah terjalin namun belum maksimal. Masih banyak bidang-bidang kerja sama yang belum tergarap dengan baik. Duduk bersama merumuskan kerja sama agaknya jalan terbaik. Lebih-lebih saat ini, Kabupaten Ma. Jambi baru saja memilih bupati baru. Saatnya berkolaborasi.

Masyarakat Jambi
Mulai saat ini masyarakat Jambi harus benar-benar menjadi bagian dari kampus Islam terbesar di negari ‘Sepucuk Jambi Sembilan Lurah’ ini. Salah satu bentuk ‘sense of belonging’ masyarakat terhadap kampus ini adalah dengan tidak ragu-ragu mengirim anaknya untuk menuntut ilmu di sini. Dalam waktu dekat, beberapa fakultas baru akan terbentuk untuk memenuhi kehendak masyarakat. Artinya, masyarakat tidak perlu lagi berpikir untuk menyekolahkan anaknya jauh-jauh ke luar daerah, karena segala fakultas dan jurusan yang dibutuhkan in sya Allah akan terpenuhi.

Masyarakat adalah bagian tak terpisahkan dari keberadaan kampus itu sendiri. Kedepannya, hubungan antara masyarakat dan kampus akan menjadi satu kesatuan yang erat. Kampus tidak lagi berada di menara gading dengan segala aktivitasnya. Kegiatan-kegiatan kampus telah diarahkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. Kampus harus mampu menjadi ‘bapak angkat’ bagi masyarakat dalam membantu segala persoalan yang ada di tengah masyarakat. Desa-desa yang ada di seputaran kampus harus merasakan manfaatnya baik langsung mau pun tidak langsung. Pola desa binaan misalnya, dapat diterapkan untuk pembinaan, pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki desa. Dengan ini, akan tercipta rasa saling membutuhkan satu sama lainnya.

Akhirnya, selamat dan kita berikan apresiasi yang sebesar-besar kepada siapa saja yang telah berjuang keras untuk tercapainya alih status ini. Saatnya berjibaku dengan segala kekuatan yang ada. Jangan sampai pula UIN STS Jambi tertinggal dari ‘saudara kandungnya’; UIN Imam Bonjol Padang, UIN Antasari Banjarmasin, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, UIN Mataram, dan UIN Raden Intan Lampung. UIN STS Jambi milik kita semua.

*Akademisi UIN STS Jambi


Penulis: Bahren Nurdin, MA
Editor:


TAGS:


comments