Minggu, 29 November 2020

Tumbuhkan Rasa Nasionalisme Bagi Generasi Muda


Jumat, 07 April 2017 | 23:46:58 WIB


Tiga orang narasumber saat memberikan pemaparan dalam kegiatan diskusi yang digelar FDJ
Tiga orang narasumber saat memberikan pemaparan dalam kegiatan diskusi yang digelar FDJ / Ikbal Ferdiyal

JAMBI - Perkembangan zaman yang semakin canggih saat ini, tentunya memiliki dampak positif maupun negatif, terutama bagi generasi muda. Namun seiring itu semua, rasa nasionalisme di kalangan generasi muda justru semakin memudar.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Jambi A. Tarmizi mengatakan, saat ini mental sebagian generasi muda semakin lemah. Sementara negara lain sudah maju dalam pemikiran, sehingga ketika negara lain lepas landas, negara kita baru tahap membangun.
 
“Generasi penerus bangsa harus memiliki kemandirian. Malaysia dulu belajar dari kita, sekarang kita yang belajar kesana, dan orang Indonesia lebih memilih berobat ke sana,” ujar Tarmizi saat menjadi narasumber dalam kegiatan diskusi dan dialog dengan tema “Membangun Generasi Muda yang Berkarakter Nasionalis”, yang digelar Forum Diskusi Jambi (FDJ), Rabu (5/4).

“Untuk itu, mari kita tumbuhkan mental kemandirian dan rasa nasionalisme, khususnya di kalangan generasi muda,” ujarnya lagi.

Pemateri lainnya, Bahren Nurdin, mengatakan membentuk generasi muda yang berkarakter nasionalis, tidak hanya di bangku pendidikan saja. Dosen IAIN STS Jambi ini mengatakan, menumbuhkan rasa nasionalisme di kalangan generasi muda juga dapat dilakukan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

“Sekolah bertanggung jawab bukan hanya mencetak peserta didik yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam karakter dan kepribadian,” ujarnya.

Bahren menambahkan, situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan, Kebersamaan anggota masyarakat menyangkut pengalaman sejarah, tujuan, gerak langkah, dan solidaritas, Tanggung jawab bersama dalam menegakkan nilai-nilai yang baik dan mencegah nilai-nilai yang buruk.

“Jadi pembangunan karakter, kejujuran, rasa tanggung jawab, suka belajar dan berprestasi, disiplin diri, pantang menyerah, menghargai keberagaman, semangat berbagi, optimis dan berpikiran positif,” tandasnya.
 
Sementara itu, dosen Fakultas Hukum Unja, Prof. Elita Rahmi mengatakan, sikap yang tidak sesuai dengan nasionalisme dan patriotism adalah sikap separatisme, sikap tidak peduli, sikap mementingkan daerah, suku, agama ,ras ,antar golongan sendiri.

“Maka besar harapan orang tua kepada anaknya, terutama dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, kemudian menggunakan produksi dalam negeri, rela berkorban demi bangsa dan negara, serta bangga sebagai bangsa dan bernegara Indonesia,” ujarnya.


Penulis: Ikbal Ferdiyal
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments