Rabu, 21 Oktober 2020

Jambi Net Outflow Sepanjang Tahun


Kamis, 07 September 2017 | 11:25:57 WIB


ilustrasi
ilustrasi / Istimewa

JAMBI-Peredaran uang di Provinsi Jambi trennya mengalami outflow sepanjang tahun atau jumlah uang keluar lebih banyak daripada jumlah uang masuk (inflow).

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia perwakilan Jambi ini tercermin dari data outflow atau uang keluar dari Januari hingga Juli tahun 2017 sebesar Rp 2,9 triliun dan uang masuk Rp 4,6 triliun.

Aya Sophia, Analisis Fungsi Koordinasi Dan Komunikasi Kebijakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia mengatakan bahwa tren di Jambi terjadi outflow sepanjang tahun. 

"Jadi uang cash yang keluar dari Bi ke perbankan jauh lebih besar dari uang yang masuk kembali dari perbankan sebagai setoran," ujarnya. 

Pada bulan Juni 2017 info sebesar Rp 146 miliar dan outflow mencapai Rp 1,78 triliun. Namun di bulan Juli 2017 info di provinsi Jambi jumlahnya Justru lebih besar menjadi Rp 995 miliar dan outflow turun menjadi Rp. 213 miliar.

"Untuk bulan Juli 2017 diperkirakan selama 1 sampai 2 bulan terjadi fenomena net inflow karena harus masuk kembali ke BI pasca Idul Fitri," kata Aya menjelaskan.

Pada triwulan II  tahun 2017 jumlah outflow 2,91 triliun atau lebih besar daripada triwulan 2 tahun 2016 yang hanya 2,78 triliun. Menurut Aya Sophia hal tersebut sejalan dengan peningkatan kebutuhan uang tunai di tahun 2017 dan terbitnya uang baru di bulan Desember 2016.

"Di triwulan 2 terjadi peningkatan outflow sejalan dengan peningkatan kebutuhan uang tunai saat Ramadan dan libur panjang Idul Fitri," ungkapnya. 

Jika dilihat data peredaran uang di provinsi Jambi per triwulan justru terjadi net outflow.  Pada di triwulan 2 tahun 2017 data aliran uang masuk atau inflow sebesar Rp 754 miliar, aliran uang keluar Rp 2,91 triliun, sehingga terjadi net oufow Rp 2,15 triliun. Artinya aliran uang yang keluar dari perbankan lebih banyak daripada uang yang masuk.

"Dampak net ouflow di Jambi, uang cash inflow atau uang masuknya ke provinsi lain misalnya Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Riau," ucapnya lagi. 

Namun menurut Aya, ini adalah hal yang wajar karena mengikuti perilaku ekonomi di Jambi dan daerah sekitarnya. "Misalnya perdagangan barang antar daerah, gaji pekerja yang dikirim ke keluarganya di daerah lain," katanya.


Penulis: Sharly Apriyanti
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments