Minggu, 23 September 2018

Fenomena Kutu Loncat dalam Berpolitik


Minggu, 10 Desember 2017 | 20:30:34 WIB


/

BERBICARA tentang politik, tentu kita tidak bisa menafikan tentang kekuasaan. Karena esensi modern mengenai politik yaitunya tiada lain hanya mencapai kekuasaan. Perebutan kekuasaan dalam dinamika politik memang seringkali menciderai esensi politik yang sesuai dengan patennya. Kemunduran etika dalam berpolitik yang seringkali kita jumpai dalam dunia politik di negeri ini adalah salah satu contoh perilaku politisi yang melenceng.

Etika berpolitik memang menjadi problem dalam sistem politik demokrasi di Indonesia. Ini karena untuk mencapai kekusaan tidak hanya diperebutkan oleh satu orang, melainkan diperebutkan oleh banyak orang yang beraliansi dalam bentuk organisasi. Maksudnya perebutan kekuasaan yang terjadi dilakukan dengan bentuk koalisi, tujuannya tentu untuk mempermudah prosesnya.

Kerjasama atau sering disebut koalisi dalam politik memnag sangat wajar dalam berdemokrasi. Alasan politisnya karena mereka mempunyai kepentingan dan tujuan politik yang sama. Memang tindakan tersebut tidak melanggar aturan apapun. Akan tetapi yang  harus kita ingat bahwa untuk mencapai suatu tujuan kekuasaan harus mengedepankan etika berpolitik, baik itu konsistensi dalam berpolitik maupun perilaku berpolitik yang bermartabat.

Namun dinamika yang terjadi ialah dimana kita sering menemukan seorang figur politik yang dalam berpolitiknya mengenyampingkan etika berpolitik. Salah satu contohnya istilah kutu loncat dalam berpolitik. Frase ini tentu adalah sebuah inkonsistensi atau tidak setia dalam berpolitik.  Kejadian seperti ini biasanya terjadi ketika dalam dinamika Pemilu ataupun Pilkada.

Meloncat untuk kekuasaan yang lebih tinggi adalah gambaran dari istilah kutu loncat yang menjadi virus dalam berpolitik. Kutu loncat dalam berpolitik adalah  strategi model baru dalam dunia politik, dimana loncat dari A ke B adalah hal yang lumrah dalam politik.

Banyak sekali tokoh-tokoh politik yang dalam berpolitiknya menggambarkan apa yang sesuai penulis ceritakan. Mendapatkan julukan kutu loncat adalah hal yang pantas ketika tidak konsisten dalam berpolitik.Fenomena terbesar yang terjadi di negeri ini ialah dalam tubuh Partai Golkar. Kita tahu bahwa tokoh-tokoh partai politik ternama di negeri ini rata-rata mantan dari kader Golkar. Misalkanlah, Partai Hanura, Partai Nasdem, dan Gerindra. Ketua dari partai tersebut dulunya adalah mantan kader Partai Golkar. Ini contoh besarnya. Kemudian contoh nyatanya saat ini sangat mudah menemukannya apalagi pada saat momen-momen Pilkada.

Sering kita jumpai ketidak konsistenya para politisi. Penulis hanya berilustrasi tidak menyebutkan siapa pelakunya. Meloncat dari partai A ke partai B pada saat Pilkada memang tidak bisa kita pungkiri ini sangat sering terjadi. Akan tetapi kejadian ini seolah-olah sudah menajdi kebiasaan dalam tradisi politik d negeri ini. karena alasan logisnya yaitu demi kepentingan kekuasaan semata.

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang kita kenal, adalah salah satu contoh frase kutu loncat di dalam berpolitik. Awal karir berpolitik ahok bergabung menjadi kader partai PIB, kemudian loncat menjadi kader partai Golkar (DPR RI), kemudian untuk mencapai kekuasaan yang lebih tinggi ahok loncat menjadi kader Partai Gerindra (Wakil DKI Gubernur Jakarta).

Namun seiring berjalannya waktu pada akhirnya ahok loncat lagi menjadi kader partai PDIP. Proses ini memang membuktikan bahwa tidak adanya kesamaan tujuan dan cara pandang dalam berpolitik.

Adegan loncat-loncat dalam karir politik adalah hal yang normal jika kita mengetahui secara baik karena berbicara politik adalah perilaku yang melegalkan segala cara dalam mencapai kekuasaan. Akan tetapi etika dalam berpolitik menjadi tolok ukur masyarakat dalam membaca figur seorang politisi. Karena ini berhubungan dengan konsistensi atau inkonsistensi atau dengan kata lain kesetiaan atau penghianatan.

Fenomena kutu loncat sebenarnya bisa kita artikan positif. Tidak mesti  bersifat negatif. Akan tetapi memang  demi kepentingan masyarakat. Jadi, frase kutu loncat dalam berpolitik sah-sah saja, namun yang menjadi permasalahannya yaitu perilaku kutu loncat yang sering kita jumpai hanya untuk kekuasaan semata dan mengenyampingkan kepentingan masyarakat.

Harus kita akui rata-rata masyarakat kita tidak melek terhadap politik. Frase kutu loncat menjadi fenomena dalam berpolitik demokrasi. Akan tetapi kultur masyarakat kita memang belum siap untuk menerina fenomena ini. Selayaknya figur politisi harus meyakinkan masyarakat agar fenomena kutu loncat bisa dimakanai adalah tindakan berpolitik yang sah demi memenuhi hasrat dan kepentingan masyarakat, sehingga fenomene kutu loncat bisa berjalan dengan baik sebagaimana dengan yang kita dan masyarakat harapkan.

Penulis adalah Menteri Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM KBM Universitas Jambi


Penulis: Wahyu Hidayat
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments