Kamis, 20 September 2018

Difteri : Ancaman Stabilitas Kesehatan Nasional


Kamis, 14 Desember 2017 | 13:57:44 WIB


/

KEGADUHAN tak terelakkan ketika wabah ini menyebar di beberapa kota besar di Indonesia, sebut saja seperti ibukota Jakarta dan Jawa Barat. Seyogyanya di kota-kota besar fasilitas kesehatan sudah tidak dapat diragukan lagi kualitas dan kuantitasnya. Namun saat ini justru di kota-kota besar seperti yang disebutkan di atas malah menjadi ‘donatur’ wabah difteri ini.

Difteri merupakan penyakit  akibat bakteri yang bersumber dari corynebacterium diphtheriae. Penyakit difteri termasuk penyakit berbahaya dan mematikan jika tidak terdeteksi dan upaya penyembuhan cukup sulit untuk dilakukan jika pasien sudah positif terjangkit penyakit ini. Dan yang paling menyedihkan dari penyakit difteri ini adalah komplikasi yang dapat berujung dengan kematian.

Bahkan dengan pengobatan sekalipun, 1 dari 10 orang pasien difteri dapat dipastikan akan menginggal dunia. Jika tanpa pengobatan, maka rasio kematian 1 : 2 (1 dari 2 pasien  meninggal dunia).

Pada masa pencegahan, tentunya obat-obatan atau vaksin yang diperlukan tidak sebanyak ketika seseorang sudah dipastikan terjangkit penyakit Difteri, namun upaya pencegahanpun harus dilakukan secara berkesinambungan sampai hasil laboratorium sudah memberikan gambaran bahwa anda terbebas dari penyakit Difteri. Pemberian obat-obatan dan vaksin Difteri ini kemudian menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan RI, Nila F Djoewita Moeloek, sudah melakukan antisipasi terhadap ancaman dari penyakit ini, dia sudah menyiapkan jutaan vial (tablet farmasi). Untuk satu vial bisa digunakan delapan sampai sepuluh orang. Bahkan vaksin tersebut dipesan dan dibuat oleh salah satu perusahaan farmasi bergengsi dan tersohor didunia. Ini artinya, pemerintah pusat cukup pede dalam menyikapi hal-hal yang dianggap akan mengganggu stabilitas kesehatan nasional.

Namun, pada kenyataannya di beberapa daerah di tanah air masih memiliki permasalahan sendiri terkait dengan upaya pencegahan dan penyembuhan penyakit akibat bakteri corynebacterium diphtheriae ini. Sudah ada 11 provinsi yang melaporkan kasus difteri ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai langkah pertama dalam menyikapi kasus ini, 3 provinsi di Indonesia yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten akan menggelar imunisasi secara serentak pada bulan ini, guna mengantisipasi penularan penyakit ini karena salah satu pertimbangannya yaitu padatnya jumlah penduduk di tiga provinsi ini.

Imunisasi merupakan langkah awal sebagai upaya pencegahan dari penyakit ini, dan tentu imunisasi selalu menggunakan vaksin. Adapun vaksin yang digunakan untuk pencegahan ini meliputi difteri, tetanus dan pertusis atau batuk rejan. Hal ini dilakukan karena seseorang yang terkena penyakit difteri akan mengalami beberapa gejala seperti sakit di tenggorokan, demam, sulit bernafas dan menelan.

Intinya gangguan pada tenggorokan. Tentu vaksin yang dimasukkan kedalam tubuh harus mampu menangani beberapa gejala diatas. Di Indonesia, vaksin DTP termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia.

Di Indonesia, masalah imunisasi terkendala akibat permasalahan logistik. Seyogiyanya imunisasi dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Namun hal tersebut tidak dapat dijamin akan terlaksana dikarenakan proses logistik, khususnya daerah-daerah terpencil di Indonesia yang masih sangat minim dengan mobilitas transportasi. Ini kemudian yang menjadi permasalahan oleh Pemerintah Indonesia.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan sudah menyiapkan obat-obatan dan vaksin yang diperlukan namun disisi lain, pemerintah daerah kesulitan untuk menyuplai obat-obatan dan vaksin kedaerah-daerah pelosok karena terbatasnya moda transporasi. Oleh karena itu, improvisasi dari pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota sangat dibutuhkan disini, mengingat bahwa penyakit difteri ini merupakan kejadian luar biasa yang dapat mengancam nyawa seseorang kapanpun dan dimanapun.

Permasalahan lain kemudian adalah minimnya pengetahuan masyarakat akan penyakit ini. Gejala awal dari penyakit difteri ini yaitu adanya gangguan tenggorokan dan pernafasan seperti terasa sakit saat menelan dan sulit bernafas, tentu masyarakat langsung mengambil kesimpulan bahwa ia sedang mengalami amandel atau asma. Atau contoh lain, ketika demam masyarakat cenderung menganggap demam tersebut sebagai demam biasa, padahal penyakit difteri sedang melangsungkan perkembangbiakkannya di dalam tubuh seseorang.

Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan masyarakat akan penyakit ini bukan tanpa alasan, tentu masalahnya ada pada rendahnya intensitas sosialisasi terhadap penyakit ini. Penulis yakin pemerintah sudah tahu dan peka akan hal ini, bahkan di beberapa acara televisi, iklan mengenai ancaman penyakit ini sudah dapat kita temui. Namun, tentu hal tersebut belum bisa dikatakan sebagai usaha yang maksimal, perlu ada sosialisasi yang lebih efektif dan produktif. Tentu dengan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti Dinas-dinas kesehatan, Dinas Pendidikan, atau bahkan bisa menggunakan bantuan TNI/Polri dalam membantu proses ini. Supaya ke depan akan lebih banyak masyarakat yang tahu tentang penyakit ini dan kemudian mengerti langkah-langkah yang perlu dilakukan.

Harapan penulis dan harapan kita semua tentunya, mari kita belajar dari beberapa daerah yang sudah terjangkit penyakit ini, dimana proses penularan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, oleh karena itu Kebersihan merupakan kunci utama kepada diri sendiri untuk terhindar dari penyakit ini. Perhatikan lagi makanan dan perbanyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran serta tingkatkan intensitas berolahraga. Supaya Indonesia bisa keluar dari ancaman yang dapat menggangu stabilitas kesehatan nasional. Semoga saja !

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan di Universitas Jambi, asal Kabupaten Bungo


Penulis: Daniel Estomihi Purba
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments