Jumat, 21 September 2018

Berat, tak Cukup Dengan Terus Meratap


Sabtu, 06 Januari 2018 | 13:43:40 WIB


/

KETIKA diminta teman-teman untuk menulis semacam kolom menyambut ulang tahun pertama Koran Harian Pagi Metro Jambi, jujur semula saya ragu.

Pertama, bagi saya -dan mungkin juga di benak sebagian lainnya- umur dan ulang tahun bukanlah bahan percakapan menarik untuk diperbincangkan. Karena itu, hingga di usia lebih dari setengah abad seperti saat ini, baru sekali saja saya sempat ‘mencicip’ merayakannya. Itu pun duluuu sekali, saat masih sangat kecil. Belum remaja. Dan itu pun juga ‘semata’ karena didorong oleh keinginan Ibu saya.

Faktor kedua,  empat tahun belakangan -dari hampir separuh jumlah umur saya menekuni profesi jurnalis- saya sudah berada di luar dapur redaksi. Selama itu otomatis saya tak pernah menulis sama sekali.

Namun, karena ini hari bersejarah. Karena ini momen ulang tahun Metro Jambi yang pertama, koran pertama yang secara penuh saya kelola sendiri, akhirnya saya pun bersedia.

Kebetulan klop, karena pada tanggal ini pula peringatan lahirnya provinsi Jambi ikut dirayakan.

Kalau masih boleh berkata jujur, tahun pertama ini merupakan hari-hari panjang yang (sangat) berat  bagi kami. Selain, persaingan yang kian ketat karena jumlah media semakin banyak dan beragam, beban yang kami bawa juga tak bisa dibilang ringan. Terlebih, dengan sumber daya terbatas, kami harus mengelola dua media sekaligus. Dengan manajemen yang terpisah pula. Koran Harian Pagi Metro Jambi dan media online metrojambi.com.

Di zaman now yang serba sulit dan ketat seperti saat ini, membuat eksistensi dan keberadaan media yang tak cepat mati saja sudah jadi prestasi tersendiri.

Kemerdekaan pers, arus informasi yang cepat melalui internet, perkembangan teknologi informasi dan aplikasi media sosial yang terus meluas, mau tidak mau akan berdampak dan menjadi tantangan berat  kami dalam memajukan dua media ini.

Namun, justru disitu lah seninya.  Kesulitan, bukanlah sesuatu yang  harus kami ratapi terus menerus.

Beruntung, dulu kami diberi pelajaran berharga dan pengalaman yang baik saat masih bergabung dengan manajemen Jawa Pos Group. Saat koran ini masih bernama Posmetro Jambi.

Bekal pengalaman itu semoga dapat menjadi kemudi bagi kami  dalam mengarungi ombak persaingan sebuah bisnis media.

Karena itu pula, saat manajemen lama memutuskan menyerahkan penuh pengelolaan Posmetro Jambi kepada kami karyawannya, hal pertama sebagai pimpinan yang saya tanyakan kepada teman-teman saat itu adalah, "apakah kita masih yakin dan optimis koran bisa hidup di tengah derasnya persaingan bisnis informasi seperti saat ini? Untungnya, semua teman kompak menyatakan tekad dan keyakinannya.

Selain planning dan konsep yang kuat dan terukur, fokus dalam tujuan serta luasnya jaringan -dalam faham yang saya anut- kokohnya team work  juga merupakan modal dasar dalam membesarkan sebuah bisnis media.

Inilah yang meneguhkan sekaligus mendorong keyakinan saya untuk terus mengembangkan media ini.

Setelah melakukan beberapa perubahan dalam administrasi, materi, rubrik maupun dalam perwajahan, akhirnya - demi perubahan- kami pun bersepakat mengganti nama koran tersebut menjadi Metro Jambi.

Last but not least, di momen bahagia dan bersejarah ini, izinkan kami untuk kembali merenung seraya mengevaluasi ulang hijrah satu tahun perjalanan yang telah kami lakoni.

Dengan itu, semoga memori bersejarah kali ini tak sekadar menjadi hijrah hissiyah bagi kami, hijrah fisik yang hanya berpindah tempat semata. Tapi juga menjadi hijrah ma'nawiyyah, hijrah nilai, yang meninggalkan kondisi dan nilai-nilai jahiliyah menuju kondisi dan nilai yang lebih baik. Dan tentu saja berguna bagi kami, keluarga dan bangsa.

Baik itu dalam akidah, ibadah, etos kerja,  dalam kehidupan berkeluarga, bermitra,  dan lewat cara cara berkehidupan lainnya sesuai dengan norma serta tuntunan zaman.

Semoga...


Penulis: Agus Dini Putra
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments