Jumat, 21 September 2018

Karakter Tikus dan Katak Dalam Konstelasi Politik Zaman Now


Minggu, 04 Maret 2018 | 21:49:13 WIB


/

JIKA ada dua binatang yang sama-sama dikurung, maka ada dua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Kemungkinan pertama, binatang tersebut akan tetap bertahan dalam kurungan. Ini kemudian dikenal dalam pribahasa tanah air dengan istilah bagai katak dalam tempurung.
Kemungkinan kedua, adanya keinginan dan usaha yang keras dari si binatang untuk berupaya keluar dari kurungan. Binatang seperti ini, dengan bahasa lain dikenal bagai tikus dalam perangkap.

Katak dan tikus adalah dua jenis binatang dengan karakter berbeda. Katak adalah binatang yang acapkali basah dengan air. Sedangkan, tikus adalah binatang kering yang takur air dan sejenis binatang pengerat.

Jika katak mengambil makanan tanpa perlu menggerakkan tubuhnya, maka tikus dapat membuat kerusakan yang cukup parah hanya untuk menemukan makanan. Ilustrasi di atas adalah hal sederhana yang biasa terjadi dalam siklus kehidupan. Sementara makhluk hidup–jika tidak bisa dikatakan semua–bisa saja masuk dalam kategori ini.

Poin pentingnya adalah, adanya dua opsi mendasar yang selalu memiliki hasrat yang sama kuat. Antara tunduk tertindas atau bangkit melawan. Kedua adagium ini sama-sama memiliki konsekuensi nyata.

Lebih jauh, gerak langkah tikus si pengerat yang laju dalam berlari, akan mudah dikejar dengan lompatan si katak. Tapi, sejarah mencatat katak tidak pernah membuat kerusakan meskipun loncatannya jauh lebih cepat menjangkau tujuan ketimbang si tikus.

Tikus lah yang dikenal sebagai tukang rusak. Bahkan tikus (agaknya) menjadi ambasador prilaku korup di negeri ini (simbol seekor tikus yang ditangkap saat mengendus uang korupsi). Jadi, inilah sang tikus yang tidak akan pernah puas dengan– hanya–satu jenis makanan.

Semua akan dirasa oleh tikus. Semua akan dimakan tanpa terkecuali. Sepanjang dapat dikorek dengan gigi-gigi pengeratnya. Jika dikurung di atas tanah, maka tanah yang akan dilubangi oleh tikus. Maka, hanya air yang akan mengalahkan tikus. Tenangnya air akan menghanyutkan kehidupan tikus. Dengan air pula tikus tidak akan berani bergerak bebas, karena akan memperpendek hidupnya.

Karakter air yang diam dan menghanyutkan, dapat menenggelamkan apapun yang berada di atasnya. Tenggelamkan! Begitu kata Menteri kelautan Susi Pujiastuti. Itulah maka, sifat air menjadi jawaban atas semua jenis prilaku negatif makhluk hidup di atas dunia ini.

Jadi, siapa gerangan yang berkarakter tikus atau katak adalah dua hal yang sejatinya sudah banyak difahami (common sense). Dua karakter ini sengaja diambil sebagai salah satu potret politik di negeri ini, meskipun tidak sepenuhnya betul. Tapi setidaknya bisa menjadi pelengkap sebagai representasi dari rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Selain itu, karakter tikus yang merusak juga menjadi simbol bobroknya penyelenggaraan administrasi pemerintahan di negeri ini. Sedangkan karakter air ditenggarai sebagai salah satu karakter yang tenang namun – sesungguhnya – menghanyutkan. Namun, begitulah sang katak akan bertahan karena memang hidupnya selalu berada dekat air.

Prilaku korupsi zaman now tampaknya sudah cukup kronis bahkan cukup menular. Kalau dulu, korupsi hanya beredar dan berputar pada kelompok-kelompok kecil dalam domain kuning pejabat dan sanak-keluarga maupun kroni terdekat. Pejabat setingkat daerah terkecil tidak pernah mengenal laku negatif seperti ini.

Tapi kini praktik korupsi itu sudah sangat menyebar bahkan sampe menyentuh tingkat terkecil kehidupan umat manusia. Belakangan dikenal istilah korupsi berjamaah yang sebenarnya jauh berbeda dengan praktek umat Islam dalam shalat berjamaah.

Jika suatu kesalahan tidak pernah mendapat teguran maupun larangan, maka jadilah ia sebagai suatu kenyataan perbuatan yang menjadi kesalahan yang dibenarkan berdasar kebiasaan. Sebaliknya, kebenaran yang tidak pernah dilakukan dengan arahan dan bimbingan, maka jadilah ia sebagai kebenaran yang ditinggalkan. Lama kelamaan bisa saja berubah menjadi sesuatu yang dipertanyakan kebenarannya meskipun sesungguhnya ia membawa sifat yang benar.

Kita wajib berkata secara benar, tapi kita tidak dibenarkan berbohong meskipun mengandung suatu kebenaran. Kita juga disuruh untuk menjadi kaya, tapi untuk mencapai kekayaan itu kita dilarang mengelabui orang lain.

Kita boleh sepenuhnya merasa benar, tapi kita dilarang menganggap orang lain selalu salah. Sebab, di dalam setiap kebenaran yang kita bawa bisa jadi terdapat kesalahan, dan dalam setiap kesalahan, boleh jadi tersimpan kebenaran.

Maka, apa sesungguhnya ibrah yang bisa diambil dalam ilustrasi katak dan tikus ini adalah tergantung kepada masing-masing diri kita sendiri. Seseorang, boleh jadi memiliki karakter ini. Entah mana yang paling besar di antara keduanya, yang jelas itu ada dan bisa saja merusak diri kita. Kita sepenuhnya harus menyadari eksistensi kedua karakter ini.

Dalam praktik pemerintahan misalnya, kepentingan besar (biasanya) akan masuk melalui jalur legal-formal (regulasi). Melalui aturan orang akan dipaksa taat dan patuh. Sebab, di dalam peraturan terdapat serangkaian sanksi dapat dijatuhkan jika melakukan pelanggaran. Hanya melalui peraturan kepentingan tertentu dapat disalurkan.

Utamanya kepentingan yang bersifat global seperti memperkokoh ataukah melonggarkan aturan. Begitu pula meloloskan ataukah membatalkan suatu aturan yang akan dibuat yang noabene mengandung kepentingan sekolompok golongan tertentu. Ini dikenal kemudian dikenal dengan bahasa kejahatan korporasi.

Dalam bahasa Prof. Amin Rais, dikenal istilah korporatokrasi yang berarti suatu sistem kekuasaan yang dikontrol oleh berbagai korporasi besar, bank-bank internasional sampai kepada pemerintahan yang berperan sebagai kacung dalam rangka memuluskan kepentingan global.

Pada akhirnya, hanya ada dua jenis karakter manusia di dunia ini. Satu jenis perusak dan yang tidak. Ada karakter yang berfikir sebelum bertindak, dan ada pula bertindak lalu berfikir… Cogito Ergo Sum (aku berfikir, maka aku ada) begitu kata Descartes seorang filsuf ternama dari Perancis.

Wassalam

Penulis adalah dosen Hukum Tata Negara Islam UIN STS Jambi


Penulis: M. Ali Mubarak, MSI
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments