Jumat, 3 April 2020

Sukandar Disarankan Gaet Birokrat


Sabtu, 16 Januari 2016 | 00:54:49 WIB


Sukandar
Sukandar / Istimewa

MUARA TEBO - Sejumlah nama terus dikait-kaitkan dengan Pemilihan Bupati (Pilbup) Tebo yang akan digelar tahun 2017. Banyak nama pun dinilai layak untuk mencalonkan diri.

Seperti incumbent Sukandar yang sudah memastikan mencalonkan diri kembali. Selain itu ada nama dari kalangan politisi, Eka Madjid Muaz yang notabene anak mantan bupati Tebo Madjid Muaz. Dia kini duduk di kursi DPRD Provinsi Jambi dari PKB.

Di samping nama Eka, ada Wartono ketua DPC PDIP Tebo, Syamsurizal Ketua DPC Demokrat Tebo. Selain itu ada nama Yopi Muthalib yang pada Pilkada lalu ikut mencalonkan diri sebagai Cabup Tebo.

Begitu juga dari kalangan birokrat yakni Havis Husaini yang kini menjabat asisten II Setda Provinsi Jambi yang belakangan disebut-sebut bakal maju dalam Pilkada Tebo mendatang.

Lalu Sri Sapto Edy yang kini menjabat Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jambi, pada Pilkada lalu Sapto Edy sendiri pernah maju berpasangan dengan Yopi Muthalib.

Nama lainnya yang juga dinilai layak maju oleh banyak kalangan adalah Kepala Badan Perpustakaan Arsip Daerah Provinsi Jambi, Asvan Deswan. Tapi sayangnya nama terakhir ini belum pernah sekalipun menunjukkan sinyal mengincar kursi bupati Tebo.

Secara geopolitik, selama ini di Tebo para tokohnya terbagi dari dua keterwakilan besar. Mereka berasal dari kawasan Rimbo Bujang dan sepanjang aliran Sungai Batanghari.

Untuk bisa menang, sudah lazim di setiap kali Pilkada Tebo digelar, faktor tersebut selalu menjadi tolok ukur. Para figur yang ingin mencalonkan diri kebanyakan akan memilih pendampingnya atas dasar faktor keterwakilan wilayah tersebut.

Akademisi dari IAIN Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Jambi yang juga merupakan tokoh muda Tebo, Bahren Nurdin, memang menilai kalau fakta di Tebo secara politik terbagi dalam dua keterwakilan.

Dua blok itu memang selalu berpengaruh dalam Pilkada Tebo. Kedua kekuatan itu bisa dikatakan sama-sama kuat dan berpengaruh sekali. Perbandingannya 50:50 dalam jumlah pemilih.

Kalau peta politiknya seperti ini, kata dia, otomatis harus muncul kandidat dari kedua aliran. Jadi harus bagi-bagi misalnya nomor satu dari daerah Rimbo dan nomor dua dari Batanghari, begitupun sebaliknya.

Mengenai niatan calon incumbent, Sukandar, yang memastikan bakal maju kembali, menurutnya bupati aktif Tebo ini tentunya wajib mengambil wakilnya dari aliran Batanghari. Ini mengingat Sukandar sendiri dari Rimbo.

Terkait siapa pendampingnya, menurutnya, Sukandar terlebih dulu musti melihat apa yang dibutuhkan Tebo saat ini. “Sukandar kan mencari wakilnya atau yang membantunya dalam menjalankan pemerintahan, jadi apa kelemahan wakilnya selama ini. Artinya dia harus mencari wakil yang bisa melengkapinya,” katanya, kemarin.

Disinggung siapa figur yang layak mendampingi Sukandar dan sesuai kebutuhan Tebo saat ini, dosen IAIN STS Jambi ini mengatakan bahwa selaku putra Tebo dia menilai bahwa Sukandar membutuhkan wakilnya dari birokrat. “Karena sampai saat ini suka tidak suka, birokrasi di Tebo itu amburadul,” sebutnya.

Ia mencontohkan, salah satunya saat Sukandar menunjuk pelaksana tugas ketika dia mengikuti pendidikan di Lemhanas. Saat itu dia menunjuk asisten untuk menjalankan tugas sehari-hari pemerintahan. “Kan masih ada wakil bupati dan Sekda, itu salah satunya. Artinya Sukandar memang membutuhkan birokrat,” ucapnya.

Makanya, kata dia, Sukandar harus mencermati nama-nama yang muncul saat ini. Ada sejumlah nama dari aliran Batanghari seperti Eka Majid, Havis Husaini ataupun Yopi Muthalib dan sebagainya.

“Maka kalau itu (birokrasi, red) kebutuhan Tebo, maka tidak ada pilihan yang muncul birokratnya adalah Havis Husaini. Jadi duet Sukandar-Havis adalah kebutuhan Tebo. Tapi kita tidak mengarahkan,” katanya.

Namun jika Sukandar membutuhkan politisi, menurutnya, di situ ada nama Eka Majid dari PKB dan politisi lainnya. Artinya, kata dia, nanti saat Sukandar melakukan tugas ke luar daerah, maka wakilnya bisa menghandle urusan pemerintahan.

“Jadi dia bisa menarik investor, investor tidak akan datang kalau tata kelola pemerintahan itu belum baik,” jelasnya.

“Kalau ditanya person tanpa mengarahkan ke siapa-siapa, dan ini hanya analisis sesuai kebutuhan Tebo,” ucapnya.

Salah seorang tokoh masyarakat Tebo, Selamet, juga menggaris bawahi soal dua kekuatan politik aliran Batanghari dan kawasan Rimbo ini.

"Kedua wilayah ini dari dulu sampai sekarang punya kans yang kuat untuk mendukung calonnya. Memang masing-masing wilayah pasti ada calonnya," ucap dia yang pernah menjadi pejabat penting di Kabupaten Tebo tersebut.

Hanya saja Selamet sejauh ini masih belum mengetahui siapa-siapa saja calon yang bakal maju. Sementara untuk calon incumbent, kata Selamet, sudah pasti bakal maju. "Incumbent pasti majulah," katanya meyakini.

Yang jelas, menurut dia, untuk peta kekuatan, jika berkaca pada Pilkada lima tahun lalu, selisihnya sangat tipis sekali. Dengan fakta itu bisa dilihat bahwa dua wilayah tersebut punya potensi sama kuat begitu calonnya muncul.   

Aliran Batanghari, kata Selamet, ada 5 kecamatan. Di dalamnya adalah Tebo Ulu, Tebo Tengah, Tengah Ilir, Tebo Ilir dan Muaratabir. Sementara itu untuk wilayah Rimbo sudah pasti Rimbo Ulu, Rimbo Ilir, Rimbo Bujang dan VII koto.


Penulis: Ade Sukma / Khsunizar
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments