Rabu, 1 April 2020

Ketua Panwas Sungai Penuh Disebut tak Konsisten Tegakkan Demokrasi


Minggu, 17 Januari 2016 | 13:04:29 WIB


ilustrasi
ilustrasi / Khusnizar

JAMBI - Pemberhentian sementara tiga anggota Panwas Sungai Penuh oleh Bawaslu Provinsi Jambi ternyata berbuntut panjang. Kali ini, rasa tidak puas atau kecewa bukan tertuju ke Bawaslu, melainkan ke Toni Indrayadi selaku Ketua Panwas Sungai Penuh. Ketidakpuasan terhadap Toni malah diutarakan dua anggota Panwas lainnya, Thabri Aris dan Arifman.

Melalui rilis pers Panwas Sungai Penuh yang dikirimkan ke Metrojambi.com, kedua anggota Panwas nonaktif ini menyebutkan bahwa Toni selaku Ketua Panwas Sungai Penuh tidak konsisten menegakkan demokrasi.

Dalam rilisnya, dikatakan bahwa beberapa pekan terakhir pemberitaan di Provinsi Jambi dihiasi oleh masalah sengketa proses oleh Panwas Kota Sungai Penuh, yang justru dianggap tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangan oleh banyak pihak. Anehnya, Toni Indrayadi selaku Ketua Panwas lari tunggang langgang dengan tidak bertanggung jawab.

"Padahal, sengketa ini justru diinisiasi oleh Toni Indrayadi sendiri. Bahkan kami sendiri tidak dilibatkan sedikitpun. Undangan sengketa dibuat dan ditandatangani sendiri oleh Toni, disebarkan langsung oleh Toni, dan sidangpun dibuka dan ditutup oleh Toni juga. Bahkan kami tidak pernah berbicara sedikitpun di dalam sidang tersebut," sebut Thabri dan Arifman dalam rilis persnya.

Namun yang herannya, kenapa belakangan hari justru seolah-olah keduanya dianggap bertindak sendiri. Mereka juga menegaskan jika semuanya ada bukti. "Silakan cek rekaman video pada Bawaslu Provinsi Jambi yang merekam proses acara tersebut dari awal sampai akhir. Itupun kalau tidak dihapus oleh pihak yang berkempentingan khusus atau lainnya," tulisnya.

Sehubungan dengan proses tersebut, ketiga Panwas Sungai Penuh sepakat untuk meminta keterangan ahli, dan ahli tersebut memberikan keterangan tertulis di atas materai dan sebelumnya sudah sepakat sebagai dasar bagi Panwas untuk mengambil putusan terkait sengketa ini.

"Maka dalam hal ini kami dengan secara jantan dan konsisten memutuskan dan menyelenggarakan sengketa ini sampai akhir," sebutnya.

Mengenai alasan putusan itu diambil tentunya bagi yang memahami etika suatu putusan, pengambil suatu putusan hukum tidak boleh mengomentari putusannya sendiri, cukup baca saja pertimbangan hukumnya.

"Dan seharusnya, jika memang Toni memahami subtansi, silahkan masukkan discenting opinion, jangan lari tunggang langgang dan berkoar-koar. Intinya sidang sengketa ini diputuskan bersama, dan inisiatif justru dari Toni Indriyadi sendiri," tutupnya.



Penulis: Khusnizar
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments