Selasa, 25 September 2018

Indonesia Darurat Narkoba, Pesantren Sasaran Empuk


Rabu, 14 Maret 2018 | 11:31:27 WIB


/

INDONESIA kembali dihebohkan dengan berita narkoba. Beberapa waktu lalu, Satuan Reserse Narkoba Polres Jember berhasil menangkap seorang pengedar narkoba di wilayah Jember. 

Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo, mengatakan, penangkapan pengedar narkoba bermula dari laporan salah seorang pengurus pondok pesantren Bahrul Ulum Karang Harjo, Kecamatan Silo, Jember. Pihak kepolisian menerima laporan bahwa akan adanya transaksi narkoba di sekitar wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan itu, beberapa anggota satuan narkoba menyisir kawasan untuk melakukan penyidikan. Setelah beberapa kali melakukan penyidikan, akhirnya polisi menemukan keberadaan sang pengedar.

Dalam penangkapan pengedar berinisial AN, polisi menemukan 6 ribu butir narkoba jenis Trehexphenidyl. Obat-obatan terlarang tersebut sudah siap edar dengan kemasan plastik kecil yang masing-masing berisi 10 butir, dan akan dijual seharga Rp. 20.000,-/bungkus.

Penangkapan pengedar narkoba yang sudah masuk ke dalam lingkungan pondok pesantren ini adalah hasil kerja sama yang baik antara pihak pondok pesantren, kepolisian dan masyarakat sekitar, jelas Kapolres Kusworo Wibowo dalam konferensi pers di halaman Mapolres Jember.

Pada konferensi pers turut hadir KH. Hodri Arif pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jember. Ia mengatakan bahwa baru pertama kalinya ponpes Bahrul Ulum mengalami hal seperti ini. Ia sangat berterima kasih kepada pihak kepolisian yang tanggap menangani kasus ini. Ia juga mengajak masyarakat untuk sama-sama memerangi narkoba.

Sebenarnya, kasus peredaran narkoba di lingkungan pondok pesantren Bahrul Ulum Jember ini bukanlah yang pertama dan satu-satunya yang terjadi di Indonesia. Sedikit melihat ke belakang, pada tahun 2016 pernah diberitakan bahwa adanya penyalahgunaan narkoba dalam pesantren.

“Kita akan kumpulkan kiai-kiai, semua Pemimpin Pondok Pesantren di Indonesia. Jangan sampai pesantren malah jadi pusat peredaran narkoba,” ungkap Budi Waseso (Ketua BNN) di Kantor BNN, Jakarta Timur, Kamis 10 Maret 2016.

Pasalnya Budi Waseso mendapat laporan dari seorang kiai mengenai adanya penyalahgunaan narkoba di lingkungan pesantren. Motifnya, narkoba tersebut digunakan sebagai doping agar para santri kuat berzikir selama 2 hari 2 malam tanpa lelah.

Pemberitaan ini sempat menghebohkan masyarakat Indonesia. KH. Ahmad Ishomuddin seorang tokoh NU pun turut memberi komentar. Menurutnya BNN tentu tidak asal terima berita dan tidak asal membuat statemen yang bisa meresahkan umat Islam se-Indonesia. Komjen Budi Waseso selaku kepala BNN harus bisa membuktikan siapa kiai, santri dan pesantren di Jawa Timur yang melakukan hal tersebut.

Lebih lanjut, ia mengatakan berita ini tidak perlu dibesar-besarkan sehingga seolah penyalahgunaan narkoba di dunia pesantren sudah demikian massif. Kita semua sepakat bahwa penyalahgunaan narkoba adalah musuh bersama dan merupakan tanggung jawab kita semua.

Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan temuan tersebut menunjukkan betapa bahayanya narkoba di Indonesia. Hal ini membuktikan narkoba bisa menyerang siapa saja dan dari latar belakang yang bermacam-macam.

Pada tahun 2017, menteri sosial Khofifah Indar Parawansa juga memberi komentar terkait peredaran narkoba. Mensos meminta ulama mewaspadai narkoba yang mulai masuk pesantren dengan dalih vitamin yang membuat santri atau kiai tahan lama berzikir.

“Ada seorang kiai yang memperoleh narkoba tetapi diberitahu bahwa narkoba itu adalah vitamin yang manfaatnya bisa kuat untuk berzikir lama, juga kegiatan lainnya,” ujarnya dalam sambutan di Ponpes Abu Darrin Bojonegoro. Belanja masyarakat untuk narkoba mencapai Rp. 72 triliun, sambungnya.

Peredaran narkoba di kalangan pelajar memang sangat menjanjikan. Berdasarkan data pada tahun 2016, sekitar 27,32 % pengguna narkoba di Indonesia berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Persentasi tersebut diprediksi akan meningkat.

Tidak salah lagi, menurut data BNN, sepanjang tahun 2017, ada 46.537 kasus narkoba yang terungkap di seluruh wilayah Indonesia. BNN juga menyita ratusan ton barang bukti narkoba dari tangan pelaku yang diketahui sebagai bandar hingga sindikat narkoba yang berada di Indonesia.

Rekam jejak peredaran atau penyalahgunaan narkoba tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memang benar-benar darurat narkoba. Peredaran narkoba telah merambat ke berbagai sektor. Tidak hanya kalangan atas, tetapi juga kalangan bawah. Tidak hanya di kalangan dunia hiburan, instansi pemerintahan, instansi pertahanan dan penegak hukum saja. Narkoba bahkan sudah menyerang ke lembaga-lembaga pendidikan termasuk pesantren.

Melihat kasus ini, pesantren sebagai basis pendidikan yang menanamkan nilai-nilai moral perlu mendapat perhatian. Pemerintah, seperti polri, dirjen bea cukai, BNN, Kemendikbud dan pihak-pihak terkait harus lebih optimal dan serius menangani peredaran tersebut. Kerjasama antara pemerintah terkait dengan lembaga pendidikan seperti pondok pesantren harus ditingkatkan lagi.

Jangan sampai kasus serupa kembali terdengar oleh masyarakat. Sehingga membuat mereka bingung kepada lembaga pendidikan mana lagi mereka akan menyerahkan pendidikan putra-putrinya jika benteng moral pondok-pondok pesantren justru runtuh dan berhasil dimasuki sindikat narkoba?

Di samping peran utama orangtua yang sangat penting dalam membentuk karakter anak. Lembaga-lembaga pendidikan punya tanggung jawab yang besar atas perkembangan si anak. Kiranya ada beberapa solusi yang bisa dipertimbangkan untuk menangani kasus seperti ini, misalnya peningkatan penerapan mata pelajaran Pendidikan Anti Narkoba, pengecekan tes urine secara berkala dll.

Selain itu, penegakan hukum sangat perlu ditinjau kembali berkenaan hukuman apa yang bisa membuat efek jera terhadap pelaku kejahatan narkoba ini, mengingat hukuman yang diterapkan selama ini belum membuat jera para pelaku, bahkan kasus narkoba terus meningkat setiap tahunnya.
Hal ini merupakan PR serta tanggung jawab kita bersama dalam memberantas narkoba demi menyelamatkan generasi bangsa, untuk Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Mari perangi kejahatan narkoba.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Prodi Akidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga


Penulis: Muhammad Syachrofi, S.Ud
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments