Jumat, 17 Agustus 2018

Terorisme Musuh Bersama!


Senin, 14 Mei 2018 | 11:45:43 WIB


/

RADIKALISME, terorisme dan tindakan ekstrim lainnya merupakan masalah internal negara saat ini yang terbilang susah untuk diatasi. Aksi-aksi teror tersebut mengingatkan akan apa yang pernah disampaikan oleh Presdien Soekarno, “Lawan ku lebih mudah karena mengusir penjajah, lawan mu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Hal inilah yang saat ini seperti jadi kenyataan dalam perjalanan bangsa saat ini di tengah derasnya arus radikalisme dan juga terorisme menjadi salah satu tantangan tersendiri . Ini karena aktor-aktor teroris tersebut telah banyak yang berasal dari negara ini.

Kembali lagi permasalahan yang sama muncul ke publik, yaitu dugaan bom bunuh diri dengan pelaku adalah teroris. Sasaran baru-baru ini adalah Kota Surabaya, dan yang menjadi lokasi kejadian adalah tempat ibadah “gereja”. Tidak tanggung-tanggung sesuai dengan informasi yang beredar di media elektronik, tiga gereja menjadi sasaran bom pada hari yang sama, yaitu hari Minggu.

Aksi teror ini tentunya akan mengganggu masyarakat terutama umat Kristiani yang ketepatan hari Minggu menjadi waktu untuk beribadah dalam gereja. Mereka mesti harus hati-hati dan juga dapat dikatakan beribadah dalam tekanan, sebab munculnya suatu ketakutan jika hal yang sama terjadi di tempat gereja yang sedang digunakan untuk beribadah.

Aksi teror di rumah ibadah  bukan lagi pertama kali terjadi di negara indonesia ini, tetapi rentetan peristiwa yang sama telah menjadi catatan peristiwa kelam bangsa ini. melihat peristiwa tersebut, maka akan muncul pertanyaan, bahwa mengedepankan nilai kemanusiaan yang adil itu kapan akan terealisasi dan kerukunan umat beragama kapan akan terlaksana?  

Pertanyaan ini menjadi wajar ketika melihat aksi tersebut tidak secara holistic. Oleh karenanya  dibutuhkan suatu penjabaran secara rinci dan pembedahan terhadap aksi tersebut, dengan mengedapankan bahwa aksi teror tersebut merupakan masalah bersama, dan bukan hannya masalah agama dan ras tertentu.

Masyarakat hendaknya tenang untuk menghadapi persoalan ini, supaya jangan membenturkan persoalan ini menjadi atas dasar agama, sebab jika menganalisis permasalahan ini dikarenakan masalah agama, maka potensi tingkat pecah nya kesatuan yang selama ini dirajut dan dipertahankan bisa sirnah dalam seketika.

Aksi kali ini dimana yang menjadi sasaran adalah gereja, dan jumlahnya bukan hannya satu, pandangan awal penulis adalah bahwa hal ini telah terencana dengan matang. Sebab dilihat dari segi waktu dan  tempat nya sangat memiliki hubungan yang sangat erat dan juga berkaitan. Peristiwa ini adalah suatu kemunculan dari terorisme yang patut untuk diwaspadai.

Melihat beberapa hari ke belakang, dimana Mako Brimob juga terjadi kericuhan, yang mengakibatkan lima orang polisi menjadi korban kerusuhan tersebut, Mako Brimob merupakan tahanan untuk tahanan terorisme yang sebenarnya menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga tidak layak untuk dijadikan tahanan terorisme.

Lagi-lagi soal aksi teror, tentunya akan ada  yang akan  mengaitkan kejadian di Mako Brimob dengan kejadian yang ada di Surbaya, hal ini dikarenakan kecenderungan dari teroris ini yang memiliki jaringan-jaringan tersendiri. Tentunya patut untuk diwaspadai, tetapi semoga saja dua peristiwa tersebut bukan merupakan suatu kesinambungan antar peristiwa dari pelaku teror.

Aksi Teror Bom Adalah Masalah Bersama

Hal ini perlu disampaikan kepada masyarakat, beredarnya informasi-informasi di media sosial, mampu untuk membuat masyarakat mengeluarkan emosi negatifnya  melihat postingan di media sosial, banyaknya postingan yang menunjukkan bagaimana korban yang badannya tidak utuh lagi, darah yang bercucuran dari anak kecil serta jenis ketidakmanusiawian lainnya yang ada dalam beberapa postingan yang ada, yang mana sangat mengenaskan.

Pemerintah maupun pihak keamananan mestinya setelah kejadian harus ada yang mengatakan bahwa masalah ini bukanlah masalah antar agama, melainkan masalah yang harus dihadapi secara bersama sama oleh warga negara.

Aksi terorisme yang terjadi di Surabaya, sekali lagi bukanlah teror terhadap Kristen tetapi teror kepada masyarakat Indonesia. Hal ini perlu disuarakan, dan mestinya pemeluk agama-agama lain juga sangat penting untuk menyuarakan hal ini, termasuk media juga layak untuk menyuarakan hal ini. sebab hal tersebut akan sangat bermanfaat untuk meredam tingkat keresahan di masyarakat.

Peristiwa minggu berdarah pada 13 Mei 2018 ini menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat supaya peduli dan peka terhadap lingkungan, permasalahan teror ini tentunya akan menggores ketuhan NKRI,  teror adalah musuh bersama. Oleh karenanya, dampak dari aksinya bukanlah suatu hal yang perlu untuk disebarluaskan. Melainkan penting untuk direnungkan, betapa Indonesia raya ini telah menjadi tempat bagi mereka yang tidak senang terhadap perdamaian dan keutuhan.

Berdamailah Dengan Sesama

Pesan perdamaian menjadi suatu hal yang harus kita sebarkan dimana dan kapan pun kita berada saat ini. berdamai dengan seluruh masyarakat indonesia, dan juga berdamai dengan diri sendiri, termasuk lingkungan sekitar  menjadi hal yang terutama saat ini. untuk memutus gerak para teroris yang tidak satu tujuan dengan warga negara yang taat akan undang-undang.

Berdamai dengan seluruh ciptaan menjadi suatu langkah konkret yang dapat diambil menjadi arus balik kepada ketentraman, saat ini yang harus dilawan adalah teroris, bukan lagi penjajah. Jika penjajah telah berhasil kita pulangkan, maka terorisme yang saat ini masih ada perlu untuk kita sadarkan.

Telah saatnya aksi teror dihentikan, sebab tidak ada untungnya. penyelesaian secara lembut dapat diambil untuk menyelesaikan masalah ini. terlalu banyak waktu dan energi yang terkuras hannya untuk memikirkan masalah-masalah seperti terorisme dan radikalisme.  Tidak ada penyelesaian yang ada hannyalah konflik yang tidak ada ujungnya.

Oleh karenanya memelihara keamanan dan ketertiban masyarakyat, menegakkan hukum serta memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakyat. Menjadi suatu Tugas yang harus dipertegas kembali untuk dilaksanakan oleh pihak yang berwenang. Untuk menjaga Negara indonesia dari ancama teroris yang sangat menyedihkan. Supaya pada akhirnya terciptalah budaya hidup damai dan adil dalam membangun relasi, antar umat manusia sebagai umat ciptaan sebagai wujud persaudaraan di Negara Pancasila.

Penulis adalah mahasiswa Ilmu Pemerintahan dan Pengurus GMKI Cabang Jambi


Penulis: Master P. Batubara
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments