Sabtu, 18 Agustus 2018

Bahaya Ikan Kaleng Bercacing dan Cara Mengkonsumsi Makanan yang Aman


Selasa, 03 April 2018 | 16:44:07 WIB


Fachrul Rozy, S.Gz, RD
Fachrul Rozy, S.Gz, RD / Istimewa

BEREDARNYA informasi tentang beberapa jenis ikan sarden kalengan mengandung cacing dan ditarik Oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), maka berikut diberikan informasi terkait produk kalengan:

1. Ikan sarden kalengan yang beredar di Indonesia melalui proses tahapan-tahapan produksi pangan menurut Hazard Critical Control Point (HACCP), dan salah satu prosesnya yaitu melalui proses sterilisasi.

2. Kenapa cacing bisa masuk ke dalam kaleng ikan sarden? Karena kurangnya kontrol pada saat proses produksi, seperti pencucian ikan yang kurang bersih, pengalengan yang masing menyisakan udara sehingga bakteri belum mati dan kurang tepatnya proses pengalengan sehingga bakteri tahan panas akan kembali aktif selama penyimpanan

3. Ikan yang dikalengkan (per 70 gram/persaji) mengandung zat gizi yaitu:

Zat Gizi Kandungan
Energi 100 kalori
Protein 13 gram
Lemak 2,5 gram
Karbohidrat 6 gram
Kolesterol 50 gram
Sodium 120 gram

Walaupun mengandung 13 gram protein yang jika dikonsumsi telah memenuhi 21,6 persen kebutuhan protein pada dewasa, namun ikan kaleng mengandung monodium glutamate (MSG).

MSG merupakan tambahan pangan yang mengandung garam/natrium yang jika dikonsumsi berlebihan akan menyebabkan tubuh kelebihan asupan garam sehingga berisiko menyebabkan penumpukan garam di dalam tubuh. Eefeknya dalam jangka panjang akan menyebabkan peningkatan kadar tekanan darah dan berisiko mengalami Hipertensi (tekanan darah tinggi).

4. Ikan kaleng mengalami proses pemanasan dengan suhu 1210 C saat proses pengalengan dengan tujuan untuk pengawetan, proses pemanasan dengan suhu tinggi akan menyebabkan penguraian asam lemak tak jenuh seperti omega 3 (EPA dan DHA).

Omega 3 bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol darah, meningkatkan pertumbuhan sel otak janin, bayi dan balita dan dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit. Dan bagi dewasa bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif (hipertensi, hiperkolesterol, dsb).

5. Bagaimana memilih bahan makanan kalengan yang aman?
• Perhatikan tanggal kadarluasa (expired) dan tanggal produksi pada kemasan
• Perhatikan jika ada kaleng yang sudah berubah bentuk jangan dikonsumsi karena bakteri akan tumbuh pada kaleng yang rusak sehingga akan menyebabkan munculnya cacing
• Untuk kaleng yang tidak rusak tapi saat dibuka mengandung cacing, sebaiknya tidak dikonsumsi karena ikan yang terpapar cacing jika masih dikonsumsi akan menyebabkan keracunan makanan dengan gejala mual, muntah, diare/mencret dan pusing. Jika dibiarkan akan menyebabkan dedhidrasi dan berisiko kematian.

6. Saran ahli gizi dalam konsumsi makanan:
• Konsumsilah gizi seimbang menurut tumpeng gizi seimbang yaitu mengkonsumsi 1/3 sumber karbohidrat, 1/3 sumber protein (hewani dan nabati) dan 2/3 sayuran dan buah setiap kali makan
• Konsumsilah bahan makanan segar seperti ikan patin segar, ikan nila segar, ikan laut segar, karena ikan segar jauh lebih lengkap gizinya, mengandung omega 3 yang lebih lengkap sehingga bermanfaat untuk kesehatan dan tidak mengandung bahan pengawet yang bisa membahayakan kondisi tubuh.
• Ikan merupakan sumber bahan makanan tinggi protein, rendah lemak, dan rendah kolesterol sehingga aman untuk dikonsumsi agar terhindar dari hiperkolesterol
• Cara mengolah ikan segar yaitu batasi dengan proses menggoreng, menggulai karena asam lemak tak jenuh (omega 3) akan terurai dengan panas. Sebaiknya ikan dipindang, disop dan dibakar dengan wadah tertutup sehingga omega 3 tidak akan terurai dengan panas yang berlebihan.
• Batasi konsumsi gula garam dan tambahan makanan seperti Monosodium gulatamat (MSG), yaitu dengan menghindari bahan makanan kaleng karena bisa berisiko menyebabkan penyakit tekanan darah tinggi/hipertensi
• Jika terbiasa mengkonsumsi garam dan tambahan MSG, maka disarankan untuk mengkonsumsi bahan makanan sumber Kalium minimal 3-5 porsi perhari. Sumber kalium yaitu sayuran hijau (bayam, kacang panjang, buncis, seledri, kembang kool, tomat, wortel), buah-buah segar seperti anggur, apel, pear, pisang, jeruk, papaya, nanas, sawo dan sebagainya).

Penulis adalah Sekretaris Persatuan Ahli Gizi Indonesia Provinsi  Jambi

-Ahli Gizi RSUD Raden Mattaher Jambi


Penulis: Fachrul Rozy, S.Gz, RD
Editor: Herri Novealdi



comments