Rabu, 22 Agustus 2018

Teknologi, Musik, dan Guru Zaman Now


Jumat, 18 Mei 2018 | 10:57:53 WIB


/

TAK dapat dipungkiri, saat ini perkembangan teknologi begitu pesat. Handphone yang dahulu hanya dapat melakukan panggilan dan SMS, sekarang berinovasi menjadi telepon pintar - smartphone yang dapat melakukan berbagai hal.

Saking pintarnya, hampir semua aktivitas dapat dilakukan melalui smartphone, mulai dari memesan makanan, belanja kebutuhan, bayar tagihan, moda transportasi, traveling, media belajar, dan masih banyak lagi. Sebagai contoh di smartphone berbasis android, ketika kita membuka playstore, banyak terdapat aplikasi-aplikasi yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan.

Bagi pengguna yang memiliki jiwa musik, smartphone juga dapat dijadikan media untuk bermain musik. Andriod menyediakan banyak aplikasi instrumen musik yang dapat kita pilih. Memainkannya hanya cukup dengan jari-jari tangan saja, serta warna bunyi yang dihasilkan tidak kalah dengan instrumen aslinya. Di media sosial telah banyak yang memposting bermain musik dengan menggunakan smartphone. Hal ini menandakan bahwa teknologi mampu mewadahi aktivitas seni melalui sebuah layar.

Mata Pelajaran Seni Budaya SMA
Kecanggihan smartphone juga dapat dimanfaatkan oleh guru seni di SMA. Smartphone dalam hal ini digunakan sebagai media untuk membantu memberikan pemahaman kepada siswa. Sebagai contoh ketika memberikan materi tentang perbedaan sumber bunyi pada alat musik, guru dapat menginstruksikan siswa untuk memanfaatkan smartphone nya dengan mengunduh aplikasi drum untuk sumber bunyi dari membran atau selaput, dan aplikasi gitar untuk sumber bunyi dari dawai, atau bisa juga aplikasi alat-alat musik lain seperti bongo, conga, mandolin, bass, dan sejenisnya. Hal ini adalah untuk memberikan pengalaman musikal langsung kepada siswa, dan guru tidak melulu hanya menyampaikan teori.

Contoh lain misalnya aplikasi piano juga dapat digunakan oleh para guru untuk menyampaikan materi tentang tangga nada. Dengan mempraktekan pada smartphone nya masing-masing, para siswa dapat mengetahui serta merasakan perbedaan secara langsung tangga nada, baik tangga nada mayor ataupun minor.

SMA Minim Alat Musik
Penggunaan smartphone ini akan terasa manfaatnya jika kondisi sekolah minim ketersediaan alat musik. Seperti yang penulis alami ketika menjadi guru mata pelajaran seni budaya di SMAN 14 Muaro jambi. Sebagai sekolah yang baru berdiri lima tahun terakhir di Kecamatan Sungai Bahar Utara, tentunya sarana prasarana masih sangat minim, tak terkecuali alat musik.

Sungai Bahar memang merupakan daerah pedesaan. Mayoritas penduduknya adalah petani kelapa sawit. Sungai Bahar juga terkenal dengan akses jalan yang buruk. Bagaimana tidak, yang melintas tiap harinya didominasi oleh mobil-mobil truk kelapa sawit dengan berat berton-ton. Namun, gaya hidup masyarakatnya tidak gaptek alias gagap teknologi. Banyak masyarakat yang melek teknologi terlebih anak-anak sekolah. Smartphone merupakan barang wajib bagi mereka dan dibawa kemanapun termasuk ke sekolah, dan seolah tidak dapat terpisahkan.
Mengamati perilaku siswa tersebut, penulis lantas melihat sebuah potensi untuk mengakali keterbatasan. Walaupun di sekolah penulis terdapat larangan keras untuk tidak mengaktifkan smartphone di kala proses belajar mengajar, namun karena untuk membantu proses penyampaian materi maka ada pengecualian. Sejauh yang penulis amati, cara ini sangat efektif karena siswa mendapatkan pengalaman langsung dan menghidupkan suasana di kelas. Kedepannya, bukan tidak mungkin smartphone digunakan untuk mengiringi tari kreasi, membuat komposisi musik latar untuk pertunjukan teater, atau pertunjukan musik secara berkelompok.

Guru Zaman Now
Proses belajar mengajar akan efektif jika guru seni dapat mengemas materi secara asik, kreatif serta tidak monoton. Dengan segala keterbatasan prasarana, seorang guru seni harus dapat menemukan cara agar materi yang disampaikan tetap dapat dimengerti oleh siswa. Jadilah ‘guru zaman now’, guru yang kreatif, dapat menemukan solusi, selalu mengamati kecenderungan siswanya, dan tentunya juga harus menguasai materi ajarnya.

Perlu diketahui bahwa guru seni budaya pada kebanyakan SMA di Provinsi Jambi tidak berlatar belakang pendidikan seni. Banyak dari mereka yang merangkap menjadi guru seni budaya karena kurangnya lulusan seni yang menjadi guru. Ditambah lagi masih banyaknya SMA yang minim prasarana untuk menunjang mata pelajaran seni. Hal ini penulis ketahui ketika mengikuti diklat guru mata pelajaran seni budaya se-Provinsi Jambi 2017 lalu. Dengan hadirnya program studi Sendratasik (seni drama tari dan musik) di Universitas Jambi, diharapkan mampu memenuhi kelangkaan guru seni. Lulusan sendratasik tentunya memiliki bekal ilmu seni serta pengalaman berkesenian yang mumpuni, sehingga mampu lebih meningkatkan kualitas mata pelajaran seni serta menumbuhkan geliat seni di lingkungan sekolah. (***)

Penulis adalah Guru SMA Negeri 14 Muaro Jambi


Penulis: Amor Seta Gilang Pratama
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments