Selasa, 23 Oktober 2018

8 Hari, 74 Terduga Teroris Ditangkap, 14 Orang Tewas


Selasa, 22 Mei 2018 | 21:02:27 WIB


Kapolri Jenderal Tito Karnavian
Kapolri Jenderal Tito Karnavian / istimewa

JAKARTA - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengungkapkan ada 74 orang terduga teroris yang berhasil ditangkap polisi pasca serangan bom di beberapa wilayah Indonesia.

"Dari bom Surabaya maka Polri didukung teman-teman bersama TNI melakukan penindakan sehingga dalam waktu delapan hari dari 13-21 Mei sudah 74 orang ditangkap dan 14 orang di antaranya meninggal dunia karena melawan pada saat ditangkap, antara lain di Jawa Timur 31 orang, Jawa Barat delapan orang, Banten 16 orang, Sumatera bagian Selatan delapan orang, Riau sembilan orang dan Sumatera Bagian Utara enam orang," kata Tito di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (22/5).

Tito menyampaikan hal itu seusai menghadiri rapat terbatas pencegahan dan penanggulangan terorisme yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo dan dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla serta para menteri Kabinet Kerja.

"Pasca bom Surabaya minggu lalu Polri sudah melakukan investigasi pengungkapannya termasuk mendeteksi jaringan. Dari hasil operasi, kita meyakini atau dugaan yang sangat kuat sekali aksi di Surabaya terkoneksi dengan penyerangan di Polda Riau, insiden di Mako Brimob dilakukan oleh Jamaah Ansharut Daulah yang memiliki afiliasi ISIS di Suriah," ungkap Tito.

Polri juga menemukan dan menyita ada barang bukti seperti bom siap pakai maupun materi bahan peledak lainnya, baterai, switcher dan lainnya. "Dari 74 orang itu tokoh utama belum ditangkap, tapi sudah ditangkap ketua JAD Jawa Timur, tapi tidak kami sebutkan," tambah Tito.

Menurut Tito, Presiden dan Wakil Presiden sudah memberikan arahan untuk menangani terorisme lebih komprehensif. "Artinya selain penegakan hukum kepada jaringan in dilakukan juga upaya “soft power” terutama untuk membendung ideologi terorisme karena ini bukan agama tertentu, kemudian upaya pengembangan ekonomi dan pendekatan "soft" lainnya termasuk melibatkan masyarakat, kajian kurikulum, untuk membendung ideologi terorisme dengan ideologi lain seperti Pancasila melalui pengembangan lebih humanis," ungkap Tito.

Pekan lalu, terjadi teror di sejumlah daerah di Indonesia. Serangan teroris awalnya terjadi pada 8 Mei 2018 yaitu terjadi kerusuhan antara narapidana terorisme dengan anggota Densus 88 di rumah tahanan Mako Brimob Kelapa Dua Bogor menjelang tengah malam. Akibat kerusuhan itu, lima orang polisi meninggal, satu orang polisi di sandera, dan satu orang napi teroris tewas.

Ada 155 orang napi teroris yang merebut senjata petugas dan mengambil alih ruangan rutan namun akhirnya mereka menyerah pada 10 Mei 2018 dan seluruhnya dipindahkan ke lapas Nusa Kambangan.

Selanjutnya pada 13 Mei 2018, kota Surabaya diguncang serangan bom bunuh diri. Bom pertama meledak di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno yang mengakibatkan korban tewas mencapai 14 orang, termasuk para pelaku diduga berjumlah enam orang yang merupakan satu keluarga, sedangkan korban luka-luka tercatat mencapai 41 orang.

Selang 14 jam kemudian, ledakan bom terjadi di Blok B Lantai 5 Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Ledakan itu merenggut tiga nyawa yang merupakan satu keluarga terduga teroris yang akan melakukan serangan bom. Pada 14 Mei 2018 juga terjadi bom bunuh diri di pintu masuk kantor Mapolrestabes Surabaya yang mengakibatkan empat pelaku tewas dan masyarakat dan polisi yang ada di sekitar ledakan juga terluka.

Selanjutnya pada 16 Mei 2018 terduga teroris menyerang Mapolda Riau sehingga seorang polisi meninggal. Sementara empat orang terduga teroris ditembak hingga tewas.


Penulis:
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments