Selasa, 21 Agustus 2018

Menanti Undang-Undang Anti Terorisme


Minggu, 20 Mei 2018 | 16:15:41 WIB


/

DOA untuk Surabaya (pray for Surabaya) yang menjadi trending topik dari berbagai penjuru tanah Indonesia untuk saudara yang terkena musibah bom, Minggu 13 Mei 2018.  Kalimat ini menunjukkan bahwa duka dialami oleh masyarakat Surabaya juga dialami seluruh bangsa Indonesia.

Kejadian ini sangat menyakitkan bagi kita sebagai bangsa yang mengenal persaudaraan yang kuat terkusus bagi keluarga yang ditinggalkan korban dari keganasan bom gereja yang terjadi.

Pengeboman yang dilakukan oleh pihak yang tidak berperikemanusiaan atau sering kita sebut sebagai terorisme ini masih berlanjut Senin 14 Mei 2018. Kejadian yang sangat disayangkan ini terjadi di Polrestabes Surabaya yang juga memakan korban jiwa dan membuat rasa takut di masyarakat Indonesia.

Sebagai masyarakat sipil wajar saja jika hal ini menjadi suatu hal yang sangat menakutkan. Ini mengingat teror yang terjadi tidak diketahui kapan dan dimana akan terjadi, karena dia terjadi dalam waktu sangat singkat namun dapat membunuh dengan begitu dahsyat.

Di sinilah peran perlindungan pemerintah dan jajarannya sangat diperlukan. Mereka hendaknya dengan cepat dapat memberi kenyamanan agar tidak timbul rasa takut berlebihan di kalangan masyarakat.

Teror yang terjadi bukan lagi hal jarang terjadi Indonesia karena pada dasarnya tujuan dari terorisme itu sendiri untuk merusak kebhinekaan yang sudah terjalin dengan indah. Namun meskipun sudah sering terjadi masalah ini tidak terlalu serius ditangani di Indonesia sehingga membuat terorisme mudah tumbuh subur di negara tercinta ini.

Dia membunuh bahkan membinasakan seperti kilat dan kita tidak tahu dimana dia akan melakukan aksi kejinya. Bahkan dengan aksinya masyarakat banyak yang mudah terprovokasi karena kadang mereka selalu mengatasnamakan agama tertentu agar mempermudah perpecahan diantara masyarakat yang berbeda agama.

Hal seperti inilah yang sangat rentan terjadi di Indonesia mengingat kita adalah masyarakat yang majemuk.

Ketegasan yang dapat diberikan pemerintah untuk dapat memberikan rasa nyaman dapat berupa pembuatan Undang-Undang (UU) Anti Terorisme oleh anggota DPRRI, karena dengan adanya undang –undang otomatis penanganannya akan lebih terperinci serta hukum dan siapa saja yang bertugas di dalamnya lebih jelas.

Namun sampai saat ini UU anti terorisme masih hanya sekedar RUU yang belum sah menjadi UU. Di tengah kejadian seperti ini seharusnya wakil rakyat sendiri harus bekerja lebih cepat agar masalah terorisme di Indonesia ini bisa teratasi sehingga tercipta kenyamanan dan tidak timbul prasangka buruk terhadap agama lain maupun etnis lain.

Sudah seyogyanya para petinggi negeri ini turun tangan dengan serius untuk menghadapi masalah ini. Termasuk presiden yang memiliki kewenangan dalam pembuatan UU anti terorisme yang dapat dilakukan melalui Perppu. Ini jika melihat UU yang dirancang oleh DPRRI belum selesai.

Namun sejauh ini belum ada kepastian dikarenakan timbulnya berbagai persoalan diantara petinggi negara ini yang masih sibuk memikirkan dunia politik dibanding kenyamanan dan keselamatan jiwa dari pada masyarakatnya sendiri.

Terorisme sudah sepatutnya dimusnahkan dari muka bumi ini karena tidak sesuai dengan sila pancasila yaitu prikemanusiaan, maka dari itu kita sebagai masyarakat Indonesia yang majemuk dan memiliki daerah yang sangat luas yang berbentuk kepulauan hendaknya sama-sama memerangi kekejian yang dilakukan oleh teroris tersebut di tanah Indonesia tercinta ini.

Kita jangan saling berprasangka buruk, menyindir, serta menyalahkan pihak tertentu.

 

*) Penulis adalah mahasiswa Ilmu Politik Fisipol Unja


Penulis: Rio Natal Aritonang
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments