Senin, 20 Agustus 2018

Catatan Zainal Abidin (4): Zainal Abidin Anak Desa


Jumat, 08 Juni 2018 | 14:58:45 WIB


Zainal Abidin
Zainal Abidin / Istimewa

DESA adalah tanah kelahirannya, Zainal dan keluarga tidak telahir di tengah-tengah kota metropolitan yang selalu menawarkan kehidupan secara lengkap, tubuhnya sejak kecil merasa betul bagaimana kesejukan udara alam desa yang ditumbuhi berbagai macam pepohonan di perbukitan sekitar.

Terlahir dari orang tua yang berprofesi petani di Desa Koto Iman, Kecamatan Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, desa yang terkenal dengan ajaran agama dan selalu mengedepankan nilai-nilai kebudayaan yang masih terawat utuh, bahkan di era globalisasi yang berjalan sangat cepat ini sama sekali tidak mempengaruhi adat istiadat orang-orang desa tersebut.

Terlahir di desa bukanlah sebuah penghalang bagi Zainal, namun menjadi sebuah anugerah yang teramat besar. Bagaimana tidak, desa selalu menawarkan kehidupan penuh dengan kedamaian, kesederhanaan dan ketenangan, jauh dari kebisingan dan persoalan hiruk pikuk perkotaan dengan gedung-gedung megah pencakar langitnya.

Alam yang terawat dan orangnya yang ramah tamah seloh-seolah pula, berkat didikan agama sedari kecil seperti pengajian Al-Quran setiap sore dan setelah sholat maghrib, muhadarah, didikan subuh yang selalu dilaksanakan di Desa Koto Iman.

Zainal sang anak desa ini tumbuh dan besar dari lingkungan desa yang masih mempertahankan nilai-nilai kebudayaan, adat isitiadat dari leluhur, makanan dan minuman keseharian adalah buah hasil sumber alam yang menjanjikan, sawah yang terbentang luas perkebunan yang menghasilkan sayur-sayuran dan ikan segar yang sangat mudah didapatkan di Danau Kerinci adalah tempat mayoritas masyarakat menjadikan mata pecaharian untuk kehidupan sehari-hari, tak jarang desa juga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan penyumbang pangan di negeri ini.

Zainal Abidin adalah anak desa, ia adalah anak desa yang kini memberi warna bagi khalayak umum, terkhusus bagi masyarakat Kabupaten Kerinci sendiri. Kesederhanaan dan ketenangan adalah jiwanya, ia selalu berpikir secara matang dan lebih memusatkan pikirannya dalam bertindak, ia paham bahwa kecerobohan menandakan otak yang kosong, anak desa ini adalah harapan umat dan masyarakat ke depan.

Sejak muda, ia terus mengabdikan diri menjadi yang terdepan dalam setiap kegiatan-kegiatan di desa, selalu aktif dan hampir tak pernah ketinggalan dalam menyukseskan acara formal dan non formal di lingkungan desa tersebut.

Dari sinilah ia belajar bahwa kehadiran kita bukan untuk berdiam diri melainkan selalu berusaha untuk berbuat kebaikan dimanapan dan kapanpun, ia adalah pemuda yang selalu siap dan selalu hadir di berbagai kesempatan pada waktu itu. Sejak hidup di desa ia selalu menjadi pemikir dan penggerak, bukan hanya menjadi pemikir tanpa bergerak, begitu pula sebaliknya.


Penulis:
Editor: Khusnizar



comments