Selasa, 25 September 2018

Kebangkitan Nasional, Islam, dan Bhinneka Tunggal Ika


Minggu, 27 Mei 2018 | 21:36:18 WIB


/

TEPAT 20 Mei merupakan tanggal bersejarah bagi bangsa Indoensia karena menjadi tonggak bangkitnya semangat nasional, persatuan dan kesatuan sebagai bangsa melalui gerakan organisasi modern.

Pada tahun 1908 Boedi Oetomo menjadi organisasi pertama yang menanamkan semangat nasionalisme yang kemudian diikuti oleh organisasi islam seperti Muhammadiyah 1912 dan Nahdlatul Ulama (NU) 1926 yang juga menyebarkan semangat nasionalisme sampai tercapainya kemerdekaan dan terbentuknya Negara kesatuan Republik Indonesia.

Keterlibatan para santri, ulama, kyai dan tokoh-tokoh islam dalam gerakan nasionalisme menunjukkan umat Islam memang memiliki “saham” besar bagi kemerdekaan bangsa ini. Hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman) adalah semboyan, sikap dan pemahaman bahwa Nasionalisme adalah cerminan ajaran islam. Pemahaman inilah yang membuat umat Islam Indonesia menerima NKRI, Pancasila dan Bhineka Tunggal sebagai dasar negara sudah final.

Setelah lebih dari satu abad, pandangan umat islam Indonesia terhadap Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika tetaplah sama. Namun saat ini di tengah arus globalisasi dan percaturan geopolitik internasional terjadi anomaly social, dulu tekanan dari bangsa dan paham/ideologi lain justru menciptakan rasa kebersamaan dalam perbedaan sebagai suatu bangsa dan rasa nasionalis. Namun dewasa ini bangsa Indonesia seperti kehilangan ruh nilai-nilai persatuan akibat tekanan paham/ideologi dari luar.

Paham radikalisme tumbuh subur bahkan sampai ke pelosok desa. Kini umat Islam sedang mendapat tantangan berat propaganda barat yang menstigmakan Islam sebagai gerakan radikal. Tentu saja hal itu sangat tidak benar. Untuk itu momentum kebangkitan nasional bangsa ini harus menjadi tonggak mengobarkan lagi semangat nasionalisme dan menangkal berkembangnya paham radikal agama di kalangan pemuda Indonesia.

Merangkum dari pendapat tokoh-tokoh nasional seperti Prof. Mahfud MD dan Prof. Azyumardi Azra tentang penyebab intoleransi dan radikalisme pada sebagian masyarakat adalah karena beberapa faktor seperti ketidak adilan pemerintah di bidang ekonomi, sosial dan politik, pertentangan budaya sekularisme dan budaya islami, serta beberapa faktor lain yaitu pendidikan yang rendah, krisis identitas, kemiskinan, terbatas akses politik, primodialisme dan etnosentrisme.

Banyak sudah diskusi yang memetakan penyebab/pemicu radikalisme dan terapinya, namun sebenarnya solusi terbaik menangkal radikalisme ada di dekat kita, sebuah kitab yang menjadi pegangan hidup mayoritas masyarakat Indonesia, Alquran.

Indonesia adalah negara “gado-gado” terdiri dari beragam suku bangsa, agama, bahasa, warna kulit, adat-istiadat, hukum dan kebudayaan. Atas dasar mewujudkan tujuan dan cita-cita bersama para pendiri bangsa terbentuklah sebuah tekad bersama yang dikenal dengan sebutan “Bhinneka Tunggal Ika” yang kemudian menjadi semboyan dan falsafah bangsa Indonesia.

Perbedaan adalah fitrah dari sang maha pencipta, untuk itulah kita harus memahami maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia yang berbeda-beda, berbangsa-bangsa dan suku-suku (QS. 49:13) serta bagaimana islam mengajarkan menyikapi perbedaan tersebut.

Sekali lagi bahwa perbedaan-perbedaan yang dimiliki manusia adalah fitrah yang harus kita terima. Beberapa contoh perbedaan manusia yang menjadi kehendak Allah seperti; manusia suka berbeda pendapat (QS. 51:8), manusia berbeda warna kulit dan bahasa (QS. 30:22), manusia berbeda syariat dan keyakinan (QS. 22:67), manusia berbeda derajad (QS. 6:165), manusia berbeda kekayaan (kaya dan miskin) (QS. 6:53) dsb.

Lantas untuk apa Allah menciptakan banyak perbedaan diantara sesama manusia? Agar kita manusia masyarakat Indonesia saling mengenal, saling membutuhkan dan saling tolong menolong, untuk itu kita harus menjaga hubungan baik dengan sering silaturahmi (QS. 4:1). Dengan silaturahmi kita akan saling mengenal dan siap menerima perbedaan tidak menjadikan perbedaan sebagai suatu masalah tetapi sebaliknya menjadi sarana berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Bagaimana kita umat islam sebagai mayoritas masyarakat Indonesia harus menyikapi perbedaan agar tetap rukun dan damai serta menangkan bibit-bibit pemikiran dan gerakan radikalisme? Bangsa ini seharusnya lebih kuat, benteng kita lebih kokoh karena sebagai muslim kita memiliki Alquran dan sebagai bangsa Indonesia kita memiliki falsafah Bhinneka Tunggal Ika. Penulis ibaratkan Islam adalah safety belt bagi bangsa ini.

Kajian-kajian islami tentang menghargai perbedaan dan tolerasi dalam Islam harus terus ditanamkan bagi masyarakat. Diskusi tentang islam yang rahmatanlilalamin harus terus didengungkan bagi para generasi muda kita. Pola pikir islami bagaimana mengelola perbedaan menjadi suatu rahmat bagi alam semesta harus menjadi sarapan pemuda-pemudi bangsa ini. Berikut beberapa cara yang islam menyikapi perbedaan agar tetap rukun dan damai
Sebagai umat islam kita senantiasa memperbanyak saudara, saling mengenal, saling membutuhkan, memahami dan menyadari yang paling mulia diantara manusia di hadapan allah bukan suku bangsa dan keturunan ataupun kekayaan akan tetapi karena ketaqwaannya (QS. 49:13).

Berbuat baik kepada siapa saja diantara manusia dengan tidak membeda-bedakan atribut manusia (suku bangsa, agama, derajat, usaha, kekayaan dan lainnya) (QS. 4:36). Selain kita berbuat baik untuk diri kita sendiri, kita juga harus mengajak manusia yang lain untuk bersama-sama melakukan kebaikan yang diridhoi Allah. Hal ini yang jarang kita lakukan kadang kita hanya memikirkan diri sendiri dan tidak memperdulikan lingkungan kita yang telah terjangkit penyakit-penyakit social. Padahal sebagai muslim kita diharuskan menyeru kepada kebajikan, menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar (QS. 3:104).

Sebagai muslim ada tuntunan bahwa kita harus senantiasa berkata-kata yang lemah lembut dengan tidak menyakiti sesame manusia (QS. 3:159). Benar pepatah yang mengatakan berkata yang baik atau diam atau diam adalah emas. Maka perkataan yang menyindir, mencibir dll yang sekiranya akan menyinggung orang lain hendaknya kita hindari.

Kita juga diajarkan untuk tidak memaksakan kehendak dalam segala hal (QS. 50:45). Kita juga diajarkan bersifat terbuka karena perbedaan tidak mungkin dihilangkan akan tetapi berupaya selalu mencari yang terbaik dalam segala hal (QS. 39:18). Bila dihadapkan dalam suatu masalah kita dianjurkan untuk melakukan musyawarah dan mengikuti petunjuk dari orang ahli lagi baik yaitu pemimpin yang jujur dan adil.

Hal paling penting menjaga kebhinekaan adalah tidak merasa dirinya paling suci dan tidak saling menghina keyakinan masing-masing serta tidak berburuk sangka dan mencari-cari kesalahan orang lain ataupun suatu kelompok. Terakhir hal yang harus dijaga dalam merawat kebhinekaan adalah tidak membangga-banggakan kelompoknya sendiri golongan atau agama akan tetapi lebih kepada membuktikan dengan berlomba-lomba berbuat kebajikan kepada sesama umat manusia.

Cintai Al Quran, baca, pahami dan amalkan...

*) Penulis Dosen Fisipol Unja & Alumni Ponpes Tremas, Kab. Pacitan, Jawa Timur.


Penulis: Mochammad Farisi, SH, LL.M
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments