Selasa, 25 September 2018

JIM Lakukan Operasi Besar-besaran, Warga Kerinci Banyak Tidur di Hutan


Rabu, 11 Juli 2018 | 21:19:07 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

KERINCI – Ribuan warga Kabupaten Kerinci dan Kota Sungaipenuh yang saat ini bekerja di Malaysia, tengah diliputi rasa was-was. Pasalnya, Pemerintah Kerajaan Malaysia melalui Jabatan Imigrasen Malaysia (JIM), saat ini tengah melaksanakan program rehiring dengan sasaran pekerja asing tanpa izin (PATI).

Informasi yang berhasil dihimpun, JIM telah melakukan operasi besar-besaran sejak dua pekan terakhir, dan telah berhasil menjaring ribuan orang atas berbagai kesalahan. Diantaranya kesalahan menggunakan visa pelancong untuk bekerja, serta melebihi izin tinggal.

Dengan adanya operasi besar-besaran yang dilakukan JIM, banyak warga Kerinci maupun Sungaipenuh yang saat ini berada di Malaysia memilih untuk tidur di dalam hutan. Hal ini terpaksa dilakukan guna menghindari ditangkap oleh JIM.

“Saat ini warga Kerinci banyak yang takut. Bahkan meskipun dalam kondisi musim hujan, banyak warga Kerinci yang tidur di dalam hutan untuk menghindari polis (polisi, red),” ujar Tayib, salah seorang warga Kerinci di Malaysia saat dikonfirmasi, Rabu (11/7).

Selain itu, kata Tayib, juga banyak warga Kerinci yang saat ini takut untuk keluar rumah. “Mereka memilih berdiam diri di rumah. Pasrah sambil berdoa agar diberikan perlindungan,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Enil Mitra, warga Kerinci lainnya yang juga berada di Malaysia. Dikatakan Enil dengan adanya operasi yang dilakukan JIM, para pekerja asing juga takut untuk pergi bekerja.

“Tadi malam saja saat kami naik kereta api pulang dari bekerja, ada beberapa warga Kerinci yang dikejar polis (polisi, red),” ujar Enil.

Ditambahkan Enil, operasi yang dilakukan JIM menyasar seluruh tempat. Tidak hanya tempat-tempat umum, namun juga permukiman, serta angkutan transportasi.

“Tidak ada ampun, semuanya disasar, baik di jalan, kereta api, bus, bahkan rumah sekalipun juga menjadi sasaran operasi,” pungkasnya.


Penulis: Dedi
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments