Jumat, 15 November 2019

Lada dan Runtuhnya Kesultanan Jambi

Oleh : M. Ali Surakhman

Sabtu, 14 Juli 2018 | 12:05:39 WIB


/ istimewa

Lada Jambi

JOANNA Hall Brierly dalam bukunya Spices, The History of Indonesia’s Spice Trade (1994) mencatat, lada sudah masuk ke Indonesia sejak abad ke-6 melalui Pulau Jawa dan Sumatera. Di Indonesia, lada mendapat sebutan nama baru merica yang diambil dari bahasa sansekerta. Lada pertama kali dibawa para pedagang Arab dan Persia dan kemudian ditanam di sekitar Banten. Dari Banten, tumbuhan itu lalu dikembangkan di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Namun, karena hasilnya kurang bagus, lada kemudian dibawa ke seberang pulau di Sumatera. Di sana, lada tumbuh subur dan bisa dikembangbiakkan menjadi berbagai macam varietas baru. Di Sumatera bermunculan varietas-varietas lada yang menunjukkan nama-nama tempat, seperti Aceh, Kerinci dan, Jambi.



Williams Marsden menyebut komoditas yang paling penting dan berlimpah dari semua komoditas perdagangan di Sumatra adalah lada. Lada (merica) liar yang belum diolah dari Sumatra dan Jawa telah sejak lama dijual pasar internasional sebelum kedatangan bangsa Eropa abad XVI. Salah satu jenis lada, yaitu kemukus telah dikenal sebagai barang ekspor dari Palembang dan Jambi dan jadi primadona di pasar Cina dan nusantara pada abad ke VIII. Lada (piper nigrum) bukan berasal dari nusantara, melainkan dari barat daya India. Merica jenis ini tak tumbuh alami melainkan dibudidayakan. (Wiiliam Marsden, 2008).

Budidaya merica di Sumatra dimulai abad XV.Pedagang India yang memperkenalkan merica saat bertemu pedagang Sumatra di Malaka. Lada Jambi salah satu jenis atau varian lada di Sumatra pada abad XV sampai XVIII. Varian lainnya adalah  Lada Mmanna dan Lada Kkawur. Penamaan lada itu berdasarkan asal usul lada. Lada Jambi reputasinya paling jelek. Daun dan buah ukuran paling kecil, berumur paling pendek dan sulit dipasang tiang penyangga dalam penanamannya.

Lada di Jambi dihasilkan di daerah hulu. Produsen utama lada di Jambi adalah orang-orang Minangkabau yang tinggal di sepanjang Sungai Batanghari, khususnya di dua distrik yaitu Tanjung dan Kuamang, federasi Kota Tujuh (VII Koto) dan Sembilan Kota (IX Koto). Lada juga ditanam di aliran sungai Muaro Ketalo dan sepanjang aliran sungai Tembesi dan Merangin. Kerinci juga dikenal daerah penghasil lada. Jenis lada yang dibudidayakan di Kerinci mungkin lada asli Indonesia, bukan piper nigrum yang berasal dari daerah Malabar, India.

Tom Pires menyebutkan sejak awal abad XVI, Jambi dikenal sebagai penghasil emas  dan mungkin hal inilah  yang mendorong orang Minangkabau datang ke VII Koto dan IX Koto Lada di Pelabuhan Jambi tak hanya datang dari daerah Hulu Jambi, tapi juga dari daerah wilayah yang termasuk daerah penyangga Kesultanan Jambi.Lada yang masuk ke Jambi datang dari berbagai daerah di Sumatra, terutama dari Minangkabau.Lada dibudidayakan di kaki perbukitan pegunungan Bukit Barisan.Hasil lada dari Minangkabau dibawa ke hilir menggunakan transportasi sungai.

Ada dua pola perdagangan lada di Jambi. Pertama, pola perdagangan lada dari daerah produksi di hulu dibawa ke hilir (Pelabuhan Jambi). Kedua, lada dari hulu tak dibawa ke hilir melainkan dibawa melalui jalur alternative. Dari hulu dibawa ke Muaro Tebo (Dijuluki Malaka Kecil) yang nantinya dibawa ke Selat Malaka melalui Indragiri dan Kuala Tungkal.

Konflik hulu dan hilir tak berbentuk fisik. Orang hulu yang penghasil lada tak membawa hasil ladanya ke hilir. Mereka melakukan pindah sungai. Ada empat pola pindah sungai dengan tujuan menghindari hilir. Lada dipasarkan ke Pantai Timur Sumatra melalui Sungai Indragiri.  Pindah sungai bentuk perlawanan yang menjadi pola dalam sejarah sosial dan politik daerah Pantai Timur Sumatra.

Pada awal abad XVI, petani lada di hulu di Jambi menjual ladanya ke hilir. Dari sana, pedagang besar lada mengangkut lada itu ke pelabuhan yang lebih besar dari Jambi, yakni Palembang, Banten, Gresik dan juga Pattani di semenanjung Malaya. Sultan, bangsawan maupun Belanda yang jadi pedagang lada juga sering jemput bola. Mereka mengirimkan agen ke hulu untuk membeli lada langsung dari petani. Agen itu lebih banyak orang Cina ketimbang orang Eropa langsung.

Orang Cina lebih bisa membaur dengan masyarakat hulu sebagai penghasil lada. Orang Cina yang jadi agen itu ke hulu membawa bekal tekstil, seperti kain untuk dijual di hulu. Kadang lada dibarter dengan tekstil tersebut. Tak jarang juga, agen itu meminjamkan uang kepada petani lada.

Pengiriman lada sering terganggu karena kesulitan akses geografis antara hulu dan hilir. Penundaaan sering berbulan-bulan karena rakit hanya bisa melewati sungai dalam kondisi air sungai tinggi. Saat kondisi sungai dangkal, pelayaran dari hulu berhenti setelah melewati Sungai Tembesi.

Pada musim kemarau saat perdagangan dengan Pelabuhan Jambi terhenti, Muaro Tebo berperan menjadi pelabuhan transit bagi produk lada dari daerah Minangkabau dan dari daerah Tanjung, Kuamang dan Sumai. Pelaku perdagangan lada di Jambi terdari asing dan nusantara. Asing mencakup Portugis, Cina, Belanda dan Inggris. Sedangkan dari nusantara, pedagang Bugis/Makassar juga ikut perdagangan di Jambi.

Portugis sangat mengincar Jambi disebabkan karena daerah ini tidak dikendalikan Aceh dan Banten.  Belanda dan Inggris meski bersaing namun kompak dalam satu hal, yakni berlawawanan dengan Cina dalam perdagangan lada di Jambi.  Sultan dan bangsawan Jambi juga menjadi pedagang lada. Dari pertengahan 1550-an hingga akhir abad XVII, Kesultanan Jambi melakukan perdagangan lada yang menguntungkan. Pada awalnya dengan orang Portugis dan sejak tahun 1615 dengan perusahaan dagang Inggris dan Hindia Timur Belanda (VOC).

Sultan mengandalkan pemasukan yang diperoleh melalui monopoli perdagangan atau bea ekspor. Para Sultan Jambi menjadi sangat kaya seiring waktu berjalan.  Pada tahun 1616, Pelabuhan Jambi sudah digadang-gadangkan sebagai pelabuhan terkaya kedua di Sumatra setelah Aceh. Pada periode kerjasama dengan VOC, Sultan Jambi menangguk untung 30-35 persen dari lada yang terjual.

Tahun 1630, penanaman lada Jambi berkembang pesat seperti ke Tembesi, Merangin dan Muara Ketalo.   Ramainya perdagangan lada berdampak pada peningkatan kesejahteraan istana. Sultan, bangsawan, termasuk syahbandar pelabuhan menjadi kaya. Istri sultan, istri bangsawan bergaya hidup mewah. Berpakaian impor dari Eropa. Syahbandar dan orang Cina yang jadi pedagang perantara juga hidup mewah. Punya banyak istri, memiliki budak dan rumahnya megah.

Pada masa kejayaan perdagangan lada di Jambi mendorong mobilitas penduduk dari berbagai daerah. Kelompok orang Bugis, Orang Melayu Timur yang berasal dari Luzon, orang Jawa, orang Cina dan orang Minangkabau berdatangan. Kesultanan dipengaruhi dua kekuatan besar yaitu dari Jawa dan Minangkabau. Kedekatan dengan Mataram terlihat dari pakaian dan bahasa Jawa yang mulai dipakai di kalangan kraton masa pemerintahan Pangeran Kedah Abdul Kahar.

Di samping migrasi penduduk, pelabuhan-pelabuhan yang mekar butuh tentara yang kuat. Sultan Jambi pada tahun 1660-an memiliki tentara bayaran orang Bugis sebanyak 500 orang.  Tahun 1680, Jambi kehilangan posisinya sebagai pelabuhan lada utama di Pesisir Timur Sumatra setelah bentrok dengan Johor.Hal ini diperparah pergolakan internal. Dalam bidang perdagangan, terjadi ketegangan antara hulu dan hilir yang fungsinya antara produsen dan perantara. Inggris meninggalkan pos dagangnya di Jambi tahun 1679.VOC bertahan agak lama meski kongsinya mendatangkan untung yang kecil setelah tahun 1680. (***/bersambung)

Kontrak Dagang

Selain Portugis dan Cina, Belanda dan Inggris juga terlibat dalam perdagangan lada di Jambi. Keduanya berusaha mengambil alih posisi Portugis dalam monopoli lada. Dari pertengahan 1550-an hingga akhir abad XVII, Kesultanan Jambi melakukan perdagangan lada yang menguntungkan. Pada awalnya dengan orang Portugis dan sejak tahun 1615 dengan perusahaan dagang Inggris dan Hindia Timur Belanda (VOC). Sultan mengandalkan pemasukan yang diperoleh melalui monopoli perdagangan atau bea ekspor. Para Sultan Jambi menjadi sangat kaya seiring waktu berjalan.  Pada tahun 1616, Pelabuhan Jambi sudah digadang-gadangkan sebagai pelabuhan terkaya kedua di Sumatra setelah Aceh. Pada periode kerjasama dengan VOC, Sultan Jambi menangguk untung 30-35 persen dari lada yang terjual.

Belanda banyak melakukan kontrak dagang dengan penguasa Jambi.  Tanggal Kontrak 6 Juli 1643 antara Pangeran Anom dengan VOC yang diwakili oleh Pieter Soury mengenai lada menyebutkan bahwa, budak-budak kompeni boleh tinggal dan berdangang di Jambi, demikian pula rakyat Jambi boleh berdagang dan tinggal di Batavia. Ada juga kontrak tertanggal 12 Juli 1681 antara Sultan Jambi dengan VOC yang diwakili oleh Adrian Wiland. Dalam kontrak ini, kompeni memberikan perlindungan kepada kesultanan Jambi jika mendapat ancaman dari Palembang. Sebagai Kontrak imbalannya, harga lada yang dijual kepada kompeni diturunkan sama dengan harga lada yang dibeli kompeni dari Palembang. Disamping itu, kompeni mendapatkan monopoli impor kain linen.

Kontrak 11 Agustus 1683 antara Sultan Ingalaga dengan VOC menyebutkan kompeni memperoleh monopoli pembelian lada, impor kain dan opium (candu) di Jambi. Sultan Jambi dan para penggantinya, termasuk para pembesar kerajaan lainnya harus melarang orang asing lainnya membawa dan menjual kain di wilayah kerajaan Jambi, dan jika hal itu terjadi maka kapal dan barang bawaannya dirampas, sebahagian diserahkan kepada sultan dan sebahagian diserahkan kepada VOC.

Kontrak 21 Agustus 1681 antara Sultan Anom dengan VOC berisi keterangan tentang hak kompeni untuk memperoleh monopoli pembelian lada di Jambi.Setiap akhir tahun sultan Jambi diharuskan memasok 1000 pikul lada dengan harga setiap pikul 4-5 real. Jika ada orang Jambi menjual lada kepada selain VOC, baik itu pejabat, pembesar kerajaan atau rakyat biasa, bila ketahuan ladanya dirampas, separo diserahkan kepada sultan dan separohnya lagi kepada kompeni.

Kontrak 20 Agustus 1683 antara sultan Jambi dengan VOC tentang pembaharuan kontrak 6 Juli 1643 antara Pangeran Dipati Anom dengan komisaris Pieter Soury mengenai perdagangan lada. Catatan kontrak ini ada dalam arsip yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia.

Kontrak 21 Oktober 1721 antara Sultan Astra Ingalaga dengan VOC (isinya tidak dapat di baca lagi karena arsipnya rusak). Akte perjanjian 12 Juni 1756 antara Sultan Ingalaga dengan VOC berisi kebebasan kepada kompeni berdagang di Jambi. Sultan Jambi juga harus menunjuk saudagar yang membeli barang-barang kompeni.Kontrak 16 Oktober 1763 berisi upaya memperkuat perjanjian-perjanjian yang dibuat sebelumnya yakni, (a).Jambi di bawah perlindungan kompeni (b). Orang-orang Cina dan pedagang-pedagang yang diam dan menetap di Muara Jambi membantu pekerjaan kompeni (c).Kebun lada yang rusak agar direhabilitir dan ditanami kembali dan tidak boleh diberikan selain kepada kompeni.Isi kontrak diatas menunjukkan bahwa kekuatan militer memberikan kekuasaan besar kepada VOC yang notabene hanya sebuah perusahaan untuk mengendalikan keputusan-keputusan kerajaan.

Tak hanya antara VOC dan kesultanan, juga ada perjanjian antara kantor dagang Inggris (EIC) dan pembesar VOC Belanda tentang penentuan harga terendah lada. Ada surat persetujuan antara Deputi Inggris dan pembesar Belanda di Jambi tentang harga terendah lada yang dibawa keluar Jambi tertanggal 25 Oktober 1621.

 


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments