Senin, 18 November 2019

Lada dan Runtuhnya Kesultanan Jambi

Oleh : M. Ali Surakhman

Sabtu, 14 Juli 2018 | 12:05:39 WIB


/ istimewa

Kemunduran Lada Jambi

Menjelang akhir abad ke-17, keseganan untuk menanam lada sangat jelas muncul dalam tulisan tulisan Melayu.Hal ini menimbulkan kekhawatiran elit istana yang terancam oleh tidak stabilnya penanaman lada. Hikayat Kerajaan Banjarmasin mengeluhkan kondisi seperti ini:

“Biarkan tak seorang pun di negeri menanam lada, sebagaimana hal itu tak dilakukan di Jambi dan Palembang.Mungkin negeri-negeri itu menanamnya demi uang agar bisa merengkuh kekayaan. Tak diragukan lagi bahwa mereka akan tiba pada saat keruntuhannya. Yang didapat hanya perseteruan dan bahan pangan akan menjadi mahal… Peraturan peraturan akan berada dalam kekacauan karena orang di kota raja tidak akan dihormati oleh penduduk pedesaa; pengawal-pengawal raja tidak akan ditakuti oleh orang pedesaan…

Tahun 1680, Jambi kehilangan posisinya sebagai pelabuhan lada utama di Pesisir Timur Sumatra setelah bentrok dengan Johor. Hal ini diperparah pergolakan internal.

Dalam bidang perdagangan, terjadi ketegangan antara hulu dan hilir yang fungsinya antara produsen dan perantara. Inggris meninggalkan pos dagangnya di Jambi tahun 1679. VOC bertahan agak lama meski kongsinya mendatangkan untung yang kecil setelah tahun 1680.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan perdagangan lada di Jambi mengalami kemunduran. Turunnya harga lada menyebabkan petani daerah hulu enggan menanam lada. Selain itu, daerah hulu yang jauh dari pusat kekuasaan kesultanan enggan adanya monopoli perdagangan lada yang menyebabkan harga lada dibeli dengan murah.

Petani di hulu Jambi mengalihkan tanamannya dari lada ke tanaman lain, seperti kapas dan padi. Selain itu juga ada emas yang jadi mata pencaharian masyarakat di daerah hulu Jambi.

Ketika terjadi permasalahan perekonomian, VOC campur tangan lebih aktif. Sultan ditangkap dan dibuang ke Batavia. Aksi ini menjadikan Jambi terbelah antara hulu dan hilir. Perekonomian Jambi semakin memburuk tahun 1720. Di dataran tinggi, masyarakatnya beralih menanam kapas dan padi. Kapas impor dari India harganya naik. Hal ini menyebabkan harga lada anjlok. Emas menggantikan lada sebagai komoditi ekspor utama.

Istana hanya sedikit meraup untung dari perdagangan lada. Penambang emas Minangkabau mengeskpor emasnya ke daerah yang mendatangkan untung yang lebih tinggi dan tak mesti ke ibukota Jambi.

Sultan Jambi tak punya otoritas efektif mengatur mereka. Tahun 1700, pundi-pundi sultan kosong dan pusaka istana dijadikan agunan. Pada akhir abad XVIII, Kesultanan Jambi menjadi negara vassal di bawah Raja Minangkabau di Pagaruyung.  Orang Minangkabau yang melakukan perpindahan besar-besaran abad XVII menjadi berkuasa dan menguasai daerah datara tinggi. Jambi hulu menjadi daerah Minangkabau.

Tahun 1768, Orang Jambi menyerang pos dagang VOC. Akhirnya VOC menutup pos dagangnya di Jambi. Perdagangan Jambi tak mendatangkan banyak hasil. Pada akhir abad ke XVIII, lada Jambi dianggap bermutu rendah. Pada abad XIX, pedagang nusantara tak lagi berlabuh di Jambi. (***/tamat)


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments