Kamis, 16 Agustus 2018

Lada dan Runtuhnya Kesultanan Jambi

Oleh : M. Ali Surakhman

Sabtu, 14 Juli 2018 | 12:05:39 WIB


/ istimewa

Oleh : M. Ali Surakhman

BELUM ada buku atau laporan penelitian yang mengkaji perdagangan lada di Jambi secara spesifik. Lada biasa juga disebut sahang dalam bahasa Melayu. Ada juga menyebut merica dalam bahasa sansekerta. Lada di Jambi telah lama lenyap diantara primadona komoditas lain, seperti emas, karet, dan kelapa sawit. Masyarakat Jambi tak familiar lagi dengan lada. Diyakini banyak warga Jambi yang tak tahu lada itu bentuknya seperti apa dan bagaimana tanamannya.

Perdagangan lada di Jambi disinggung dalam buku Barbara Watson Andaya, Hidup Bersaudara, Sumatera Tenggara Pada Abad XVII dan XVIII.Buku ini jadi rujukan utama untuk mengambarkan tipe masyarakat Jambi yang terbagi atas kedua kelompok hulu dan hilir.Kondisi ini juga berpengaruh pada perdagangan lada di Jambi.Lada ditanam di hulu dan Bandar dagangnya di hilir atau di Pelabuhan Jambi.

M.A.P Meilink Roelofsz dalam bukunya Perdagangan Asia & Pengaruh Eropa di Nusantara Antara 1500 dan sekitar 1630 juga memaparkan adanya perdagangan lada di Jambi yang dikendalikan Portugis. Ketimbang bangsa Eropa lain, Portugis yang paling duluan masuk Jambi.  Belakangan, Inggris dan Belanda datang. Terjadilah persaingan memperebutkan lada di Jambi. Portugis akhirnya bisa diusir.

Sejumlah buku telah membahas perdagangan lada di Jambi pada abad ke XVI- XVIII. Buku Lindayanti, Junaidi T. Noor, Ujang Hariadi, Jambi Dalam Sejarah 1500-1942. (Jambi : Pusat Kajian Pengembangan Sejarah dan Budaya Jambi, 2013) menulis perekonomian Jambi mengalami berbagai perubahan, dimulai dari Jambi sebagai pelabuhan ekspor bagi produk daerah pedalaman Minangkabau, seperti emas, lada, dan produk hutan Jambi sendiri. Selanjutnya setelah Jambi berada di bawah kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda, mulai dikenal tanaman-tanaman lain, seperti karet dan minyak bumi.

A.B Lapian dalam tulisannya Jambi Dalam Jaringan Pelayaran dan Perdagangan Masa Awal dalam Buku Seminar Sejarah Melayu Kuno Jambi, 7-8 Desember 1992. Jambi:Kanwil Depdikbud, 1992 mengupas perdagangan di Jambi pada masa zaman pra sejarah, zaman Sriwijaya hingga munculnya Belanda melalui VOC di Jambi. Tapi buku ini tak spesifik memaparkan tentang perdagangan lada di Jambi.

Adanya perdagangan lada di Jambi pada abad XVI-XVII ditulis Anastasia Wiwik Swastiwi dalam bukunya Jambi Dalam Lintasan Sejarah Melayu (Abad I-XVII). Tanjungpinang:Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang, 2010. Wiwik menyebutkan, jauh sebelum kedatangan Belanda tahun 1615 M, Jambi sudah menjadi penghasil utama lada, emas, pinang, gaharu, getah alam merah, getah jernang dan getah jelutung. Menginjak awal abad ke XVII, Jambi ramai dikunjungi pedagang dari Cina, India, Parsi, Arab, Portugis, Inggris dan Belanda. Pedagang Inggris dan Portugis duluan datang, tapi tak diizinkan membuka kantor dagangnya di Jambi. Sama dengan buku yang lain, adanya perdagangan lada menjadi bagian kecil dari keseluruhan buku.

Dalam bukunya, Elsbeth Locher Scholten, Kesultanan Sumatera dan Negara Kolonial : Hubungan Jambi – Batavia (1830-1907) dan Bangkitnya Imperialisme Belanda, dijelaskan mengenai hubungan antara kesultanan Jambi dan Batavia. Buku ini juga menerangkan wilayah kesultanan Jambi dan kehidupan sosial ekonomi pada masa kesultanan. Menyinggung daya tarik emas terhadap imigrasi dari Minangkabau, yang memberikan warna terhadap keheterogenan dan keanekaragaman penduduk Jambi.

Adanya perdagangan lada di Jambi menyebabkan pendatang merantau ke Jambi, diantaranya orang Minangkabau, Bugis, Arab, Cina dan suku-suku lainnya di Indonesia.  Hal ini ditulis dalam penelitian Lindayanti, Witrianto dan Zulqayyim, Harmoni Kehidupan di Provinsi Multi Etnis: Studi Kasus Integrasi Antara Penduduk Pendatang dan Penduduk Asli di Jambi. Padang: Laporan Penelitian Universitas Andalas, 2010. Dalam tulisan ini juga ada ditulis Jambi dan perdagangan lada. Perdagangan lada salah satu faktor utama pendatang hijrah ke Jambi.

William Marsden dalam buku Sejarah Sumatra. Jakarta: Komunitas Bambu, 2013 juga menulis produksi flora Sumatra sebagai komoditas perdagangan. Menurut Marsden, komoditas yang paling penting dan berlimpah dari semua komoditas perdagangan di Sumatra adalah lada. Namun, ia lebih banyak membahas soal teknis budidaya lada dan beragam jenisnya. Selain itu, ia juga membahas perdagangan yang dilakukan East India Company (EIC), kantor dagang Inggris. (***/bersambung)

Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments