Selasa, 30 November 2021

Gunung Kerinci Tak Sehijau Dulu Lagi Karena Hutan Terus Dirambah

Selasa, 24 Juli 2018 | 19:22:30 WIB


Gunung Kerinci
Gunung Kerinci / Dedi/metrojambi.com

KERINCI - Beberapa waktu belakangan ini kondisi Gunung Kerinci yang menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Kerinci, tidak lagi terlihat hijau. 

Bahkan kondisinya sangat memprihatinkan, dengan kondisi hutan di Gunung Kerinci semakin rusak parah.

Bahkan beberapa waktu belakangan ini, sejumlah warga terutama warga Kayu Aro sangat menyayangkan kondisi di sekitar Gunung Kerinci yang mulai tidak terlihat lagi hijau dengan tanaman pepohonan seperti biasanya.

Seperti yang disampaikan salah seorang warga Kayu Aro, Maya. Dia mengatakan bahwa hutan di Gunung Kerinci semakin gundul. Perambahan hutan semakin brutal.

"Lima tahun belakangan ini perambahan hutan di Kerinci terutama di kaki gunung Kerinci semakin marak," katanya. 

Kondisi ini sangat disayangkan sejumlah pihak. Bahkan permasalahan perambahan hutan di Gunung Kerinci menjadi perbincangan dan rahasia umum di tengah masyarakat Kayu Aro dan masyarakat Kerinci pada umumnya.

Mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kerinci, Abu Hasan juga menyayangkan kondisi tersebut. Dia menjelaskan bahwa kawasan hutan di Gunung Kerinci merupakan wilayah TNKS.

"Kewenangan sekarang merupakan kewenangan TNKS. Pada waktu saya jadi Kabid Perlindungan Hutan dulu beberapa kali operasi kami mengamankan barang bukti kayu, mungkin masih ada di Kantor Kehutanan Kerinci," sebutnya.

Sementara itu, Kasi Pengawasan BBTNKS Wilayah I Kerinci, Nurhamidi mengatakan bahwa saat ini pihaknya terus melaksanakan razia di lapangan. Ini terkait laporan adanya perambahan hutan di kawasan Gunung Kerinci. Bahkan, pada tahun 2018 ini pihaknya telah mengamankan tiga orang pelaku perambahan hutan di kawasan hutan Gunung Kerinci.

"Petugas terus standby di beberapa lokasi diduga lokasi perambahan hutan, yang melakukan perambahan bukan orang luar melainkan masyarakat Kerinci. Indikasinya untuk diperjual belikan," jelasnya.


Penulis: Dedi
Editor: Herri Novealdi



comments