Rabu, 1 April 2020

DPK Jambi Melambat, Hanya Rp 30,84 Triliun


Kamis, 26 Juli 2018 | 14:15:05 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

JAMBI - Tahun ini, jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan mencapai Rp 30,84 triliun atau tumbuh sebesar 8,84 persen. Pertumbuhan ini, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mampu tumbuh hingga 12,95 persen.

"Perlambatan DPK tersebut didorong oleh perlambatan giro dan tabungan," ujar Bayu Martanto, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi, Rabu (25/7).

Pada triwulan 1 di 2018, jumlah tabungan sebesar Rp 15,07 triliun atau tumbuh 9,45 persen, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 12,58 persen. Sedang giro pada triwulan 1 sebesar Rp 4,69 triliun atau kontraksi sebesar 4,15% setelah triwulan sebelumnya tumbuh sebesar 11,18%.

Sementara itu, deposito tercatat sebesar Rp 11,08 triliun atau mengalami sedikit peningkatan pertumbuhan dari sebesar 14,29 persen pada triwulan IV 2017, menjadi 14,52 persen pada triwulan 1 2018.

Dijelaskan Bayu, berdasarkan pangsanya, dana pihak ketiga pada triwulan laporan didominasi tabungan sebesar 48,88 persen, deposito sebesar 35,93 persen, serta giro sebesar 15,20 persen.

"Komposisi DPK ini cenderung tidak mengalami perubahan. Berdasarkan kelompok bank perhimpunan DPK mayoritas berasal dari bank pemerintah di bidang pemerintah mencapai Rp 21,68 triliun diikuti bank swasta nasional Rp 7,75 triliun dan bank syariah Rp 1,41 triliun," tutur Bayu.

Sementara untuk DPK bank syariah tumbuh sebesar 27,36 persen lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dari bulan sebelumnya 18,40 persen. Sebaliknya DPK bank pemerintah dan swasta tumbuh melambat masing-masing sebesar 12,35 persen dan kontraksi 2,30% dibandingkan triwulan sebelumnya 16,29 persen dan 4,35 persen.

Melambatnya pertumbuhan DPK bank pemerintah dipicu oleh melambatnya pertumbuhan tabungan dari sebesar 14,83 persen pada triwulan 4 2017 menjadi 10,30 persen. Selain itu giro di bank pemerintah juga mengalami perlambatan dari tumbuh sebesar 19,77 persen pada triwulan 4 2017 menjadi terkontraksi 0,80 persen di triwulan 1.

"Perlambatan DPK bank swasta disebabkan oleh terkontraksinya deposito dan giro," katanya.

Dilihat berdasarkan golongan pemilik, perlambatan pertumbuhan DPK utamanya dipicu oleh perlambatan penghimpunan dana dari golongan pemilik perseorangan. DPK perseorangan memberikan andil terbesar terhadap pertumbuhan DPK di triwulan 1 2018 yaitu 5,89 persen dengan nilai Rp 21,19 triliun. Namun pertumbuhan DPK perseorangan melambat dari 10,50 persen pada triwulan 4 2017 menjadi 8,57 persen.

"Perlambatan DPK perseorangan sejalan dengan penurunan harga komoditas perkebunan Jambi di sepanjang triwulan 1 2018," ujarnya.

Lebih lanjut, dikatakan Bayu, jika berdasarkan lokasi kabupaten/kota, pertumbuhan DPK didorong oleh peningkatan perhimpunan DPK di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jambi kecuali Kabupaten Merangin dan Kabupaten Muarojambi.

Kabupaten dengan pertumbuhan DPK tertinggi adalah Kabupaten Kerinci, sementara yang terendah adalah Kabupaten Muaro Jambi. Berdasarkan pangsanya, komposisi di peta Provinsi Jambi masih didominasi Kota Jambi.

"Kabupaten/kota dengan tingkat literasi keuangan yang paling baik adalah Kota Jambi, Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Kota Jambi memiliki rasio jumlah rekening tabungan terhadap jumlah penduduk tertinggi," paparnya.  

Golongan nasabah yang memberikan andil terhadap pertumbuhan DPK adalah bukan lembaga keuangan dengan andil 3,92 persen tumbuh dari 2,84 persen pada triwulan 4 2017 menjadi 30,17 persen.

Nasabah pemerintah pusat pada triwulan 1 juga berkontribusi terhadap meningkatnya pertumbuhan DPK. Bank pemerintah pusat memberikan andil 1,25 persen atau sebesar Rp 146,68 miliar tumbuh dari 32,70 persen pada triwulan 4 2017 menjadi 263,67 persen pada triwulan 1.

Peningkatan DPK pemerintah pusat didorong oleh nilai realisasi belanja pemerintah pusat di Provinsi Jambi yang berkontraksi 4,74 persen pada triwulan 1 2018. Pertumbuhan DPK juga terjadi di golongan pemilik lembaga keuangan non bank dan sektor swasta lainnya dengan pertumbuhan masing-masing 46,64 persen dan 31,58 persen dibandingkan dari bulan sebelumnya sebesar 58,14 persen dan 104,27 persen.

Meskipun mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, namun sektor swasta lainnya masih memiliki nominal yang lebih kecil yaitu sebesar Rp 65,55 miliar pada triwulan I.


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments