Sabtu, 28 November 2020

Pangeran H Umar, Sang Macan Gerilya Jambi


Sabtu, 28 Juli 2018 | 11:36:32 WIB


Peperangan di Kerinci (ilustrasi)
Peperangan di Kerinci (ilustrasi) / istimewa


Namun dengan keyakinan penuh, Pangeran Haji Umar dan Pangeran Seman tidak pernah berhenti setapak pun. Bagi kedua bersaudara tersebut, urusan umur ketentuannya di tangan Allah SWT semata. Tidak seorangpun yang dapat memutuskan batasnya. Dengan itu hanya kepada Allah SWT semata ia serahkan keselamatan isteri dan anak-anaknya.

Belanda dan antek-anteknya sungguh-sungguh biadab, tidak berhasil dengan ancamannya, dalam pada itu Kapiten Kemas Ngebi Yudo Kadir merampas isteri muda Pangeran Haji Umar dan menjadikannya sebagai isteri.

Tidak cukup dengan itu, anak perempuan Pangeran Haji Umar dari isteri tua (Dauya Rantau Majo) bernama Ratumas Leha (Zaleha) diculik ketika sedang mandi di jamban dari Muara Kumpeh dan dikawininya secara paksa.

Dalam kondisi tekanan batin yang amat sangat berat ditanggung kakak beradik Pangeran Haji Umar dan Pangeran Seman, datang pula sekelompok tokoh masyarakat Alam Kerinci menghadap, yang memaparkan penderitaan rakyat Kerinci.

Diceritakan oleh anggota Tim Peneliti kepahlawan Panglima Perang Kerinci Depati Parbo, bahwa melihat penderitaan yang di alami oleh rakyat, seorang tokoh masyarakat di Dusun Baru Sungai Penuh H. Bakri gelar Depati Simpan Negeri awalnya mendatangi sejumlah tokoh masyarakat di daerah Kemendapoan Semurup dan Depati VII.

H. Bakri pada waktu itu mengemukakan kepada para tokoh masyarakat agar tidak usah lagi melakukan perlawanan terhadap Belanda secara terang-terangan. Ini mengingat kondisi persenjataan yang dimiliki Belanda yang lengkap dan  memiliki serdadu yang banyak.

Jika terus dilakukan perlawanan maka rakyatlah paling menderita.
 
Nasehat H. Bakri dapat diterima oleh para hulubalang, dan beberapa utusan hulubalang itulah, pada tahun 1906 menyampaikan langsung kepada Pangeran H. Umar yang tengah melakukan pertempuran dengan Belanda di daerah Pungut.

Penulis: M Ali Surakhman
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments